
Setelah makan malam bersama, mereka pun duduk bersama di ruang keluarga. Anisa terlihat terus menempel pada Chila, sesekali bercanda dan tertawa bersama gadis kecil itu.
Mungkin Anisa sudah sangat menginginkan seorang cucu, sehingga saat melihat betapa baik dan cerdasnya Chila, membuat Anisa semakin menyukai.
“Katanya dia memiliki gangguan pendengaran,” kata Anisa, menganggap jika Chila seperti anak normal lainnya.
“Iya, telinga kanannya bermasalah. Dia harus menggunakan alat bantu dengar agar bisa mendengar dengan jelas suara,” balas Sandra sambil menunjuk ke telinga kanannya sendiri.
Anisa memperhatikan telinga Chila, hingga baru menyadari jika memang ada alat kecil terpasang di sana.
“Dia melakukan terapi dan lainnya, sehingga bisa mendengar dan bicara seperti anak pada umumnya,” ucap Sandra menjelaskan.
Anisa mengangguk-angguk paham.
“Soal pernikahan kalian, Mama sudah memesan lobi hotel tempat acara pernikahan diadakan,” kata Anisa dengan tatapan tertuju ke Chila.
Sandra dan Farzan saling pandang, sebenarnya mereka sekarang malah bingung dengan pernikahan mereka. Bukan karena tidak ingin, tapi karena keluarga Gilang yang baru saja terkena musibah. Mana mungkin Farzan dan Sandra bisa mengadakan pesta di saat Gilang dan Liana sedang sedih.
__ADS_1
“Kenapa kalian berdua diam? Kalian tidak suka?” tanya Anisa menatap curiga ke Farzan dan Sandra.
“Bukan begitu, Tante.” Sandra menggelengkan kepala pelan.
“Lalu?” tanya Anisa menatap curiga, tentu saja merasa tidak senang karena raut wajah Sandra dan Farzan yang terlihat tidak setuju.
“Pasti karena hilangnya cucu Pak Gilang.” Harun menyela ucapan.
Anisa langsung menoleh dan memandang suaminya yang duduk di sampingnya.
“Benar, Ma. Grisel menculik cucu Pak Gilang saat di rumah sakit, saat ditemukan Grisel sudah tidak membawa bayi itu.” Farzan pun menjelaskan.
Anisa langsung menutup permukaan bibir menggunakan telapak tangan mendengar penjelasan Farzan. Kemudian merasa geram karena Grisel bertindak memalukan dengan menculik anak orang.
“Mantan istrimu itu benar-benar gila!” geram Anisa.
“Dia sekarang memang sudah gila, Ma,” timpal Farzan.
__ADS_1
Anisa lagi-lagi terkesiap, tidak menyangka jika Grisel akan bernasib seperti itu karena ulahnya sendiri.
**
Setelah berbincang lama, serta memutuskan akan tetap menggelar acara di hotel karena terlanjur memboking, akhirnya Sandra dan Farzan pun pulang. Namun, sebelum itu mereka mengantar Chila ke rumah Gilang, karena hanya Chila yang bisa menjadi obat pelipur lara kesedihan Liana selain Cheryl—anak asuh Joya.
“Apa ada perkembangan soal hilangnya anak Joya?” tanya Farzan saat keduanya kini sudah di rumah Sandra.
“Belum,” jawab Sandra yang menyandarkan punggung ke sandaran sofa. “Pak Gilang sudah meminta polisi mencari, serta mengerahkan beberapa anak buahnya, tapi tetap belum membuahkan hasil,” imbuhnya.
Farzan mengangguk-angguk mengerti, sudah menebak jika Gilang pasti berusaha keras untuk mencari cucunya.
“Lalu, bagaimana kondisi Joya?” tanya Farzan yang penasaran.
Sandra menoleh Farzan, kemudian menjawab, “Dia sudah keluar dari rumah sakit setelah dokter memastikan jika psikisnya tidak terganggu. Meski begitu aku yakin jika Joya masih sangat terpukul dan sedih. Namun, kata Pak Gilang, Joya terlihat lebih baik karena ada Cheryl di sana.”
Farzan pun turut berduka dengan nasib yang menimpa Joya, ingin membantu tapi tidak tahu harus bagaimana. Grisel mengalami gangguan jiwa, bahkan diajak berkomunikasi saja tidak bisa. Kini mereka hanya berharap jika bayi Joya masih hidup dan ada seseorang yang merawatnya. Terlebih selama hampir seminggu ini, tidak ada berita atau informasi tentang bayi terlantar atau meninggal di jalanan.
__ADS_1