Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Selingkuhan


__ADS_3

Setelah hampir terpuruk karena kesalahannya sendiri, kini Grisel diangkat dari lubang kehancuran oleh pria bernama Darren. Wanita itu diberi pekerjaan, tapi juga harus menjadi seorang selingkuhan. Sungguh miris nasibnya, dia termakan ucapannya sendiri. Grisel selalu menuduh Farzan berselingkuh, tapi dirinya sendiri yang berselingkuh sebelum resmi menjadi istri Farzan, serta menjadi selingkuhan pria beristri.


“Apa Bapak yakin ingin menggunakannya?” tanya staf bagian periklanan saat melihat Grisel duduk menunggu di ruang rapat.


“Apa kamu ada masalah?” tanya Darren balik dengan sorot mata tajam. Keduanya bicara dari ruang berbeda yang tersekat dinding kaca.


Staf perusahaan Darren langsung menundukkan kepala saat melihat tatapan atasannya itu.


“Tidak, Pak,” jawabnya takut. “Saya hanya takut jika citra nama baik Anda ikut buruk, karena wanita itu memiliki skandal hingga ditolak beberapa perusahaan,” imbuh staf itu.


“Kamu tenang saja, aku sudah mengatur agar nama baiknya terangkat lagi. Tugasmu hanya menjadikan dia model utama di perusahaan kita!” titah Darren.


“Saya mengerti,” balas staf itu menerima perintah.


Siapa yang tidak tahu kasus Grisel yang telah berani memfitnah calon menantu salah satu pemilik perusahaan fashion terbesar di negara itu, bahkan perusahaan Darren saja tidak ada apa-apanya dengan perusahaan milik Gilang—calon mertua Joya serta ayah Kenzo, yang memiliki perusahaan anak cabang dari sebuah perusahaan besar di Prancis. Kenekatan Grisel saat itu tentu membuat dirinya terpuruk dan hampir hancur, fitnah yang dilayangkan bagai boomerang yang menghancurkan dirinya sendiri.


Darren menunggu di luar ketika stafnya memberikan jadwal untuk Grisel, dia hanya ingin bersikap profesional dengan menyerahkan kesiapan pekerjaan kepada pihak yang berwenang.


“Apa aku boleh memilih managerku sendiri?” tanya Grisel kepada staf perusahaan Darren.


Staf itu tampak berpikir, kemudian ingat akan ucapan Darren. “Kabulkan apa pun yang dia inginkan, selama itu masalah pekerjaan.”


“Boleh, Anda bisa menggunakan manager yang Anda inginkan,” jawab Staf itu dengan senyum ramah.


Grisel hanya mengangguk, tidak ada sikap arogan atau sombong, karena jelas dirinya tidak memiliki itu setelah jatuh. Dia harus menaikkan derajatnya lagi, sebelum bisa seperti dulu. Dia baru di sana, jangan sampai dirinya langsung dihujat jika bersikap seperti dulu.


“Pak Darren ingin Anda datang ke ruangannya, setelah memastikan semua jadwal pekerjaan sesuai dengan yang Anda inginkan,” kata staf itu menyampaikan pesan dari Darren sebelumnya.


Grisel hanya mengangguk, lantas memilih kembali membaca jadwal pekerjaan yang sudah disusun oleh staf Darren.

__ADS_1


**


Setelah mendapatkan jadwal pemotretan dan lainnya, Grisel pun pergi ke lantai di mana ruangan Darren berada. Pria itu sendiri kembali ke ruangan setelah memastikan Grisel mendapatkan apa yang diinginkan.


Grisel menatap pintu kayu di depannya, seorang wanita kini tengah mengetukkan pintu sebelum kemudian membuka.


“Pak, Nona Grisel ada di sini.” Sekretaris Darren menyampaikan kedatangan Grisel ke atasannya itu.


“Biarkan dia masuk!” perintah Darren.


Sekretaris Darren menoleh Grisel yang berdiri di belakangnya, sebelum kemudian dia membuka pintu lebar.


“Silakan masuk.”


Grisel langsung berjalan masuk setelah dipersilakan, hingga mendengar suara pintu tertutup. Dia melihat Darren yang duduk dengan tatapan menunduk ke berkas di meja, pria itu tampak berkharisma, tampan, serta memiliki garis wajah yang tegas. Namun, siapa sangka pria berkarisma itu malah menjadikan dan memiliki simpanan seperti Grisel.


Darren mengalihkan pandangan dari berkas ke arah Grisel datang, tersenyum manis kemudian menggerakkan tangan memberi isyarat agar Grisel mendekat.


“Kemarilah!” titahnya.


Grisel hanya mengangguk mengikuti ucapan pria itu begitu saja. Senyuman manis dan hangat pria itu mampu menggerakkan kaki, hingga menghilangkan logikanya.


Darren melihat Grisel yang lebih banyak diam dan tidak seperti yang biasa dilihatnya di televisi atau acara-acara, selama ini pria itu terus mengawasi Grisel, hanya saja wanita itu tidak menyadarinya.


“Duduklah di sini!” Darren menepuk paha, meminta Grisel duduk di pangkuannya.


Grisel terhenyak mendengar perintah Darren, tapi dirinya tidak bisa menolak karena sudah berjanji jika akan menuruti semua permintaan pria itu. Dia pun duduk di pangkuan Darren, menatap wajah pria itu dari dekat.


“Bagaimana tadi? Kamu suka dengan jadwal yang diberikan?” tanya Darren ketika Grisel sudah duduk di pangkuannya.

__ADS_1


“Ya, terima kasih,” ucap Grisel menjawab pertanyaan Darren.


Darren menatap sepasang bola mata yang memancar indah, hingga turun ke bibir yang berpoles lipstik berwarna peach. Pria itu mengangkat tangan, menyentuhkan permukaan jempol di bibir Grisel.


Grisel membeku saat Darren menyentuh bibirnya, dia hanya bisa menatap pria itu gamang.


“Nanti malam, datanglah ke apartemen,” ucap Darren, kemudian diakhiri dengan sebuah ciuman di bibir Grisel, sebelum wanita itu membalas.


Grisel tentu saja hanya diam, membiarkan pria itu menyesap dan mencium bibirnya berulang kali.


Darren melepas pagutan bibirnya, lantas menatap Grisel yang sejak tadi diam tidak merespon apa yang dilakukan.


“Bertindaklah agresif dan liar. Aku suka sifatmu yang pembangkang dan keras kepala, melawan apa pun meski kamu salah. Aku tidak suka kamu diam dan hanya pasrah,” ujar Darren yang merasa tidak puas karena Grisel pasif.


Grisel cukup terkejut dengan ucapan Darren, menatap pria itu yang tampak kesal kepadanya.


“Anda ingin aku bersikap seperti dulu?” tanya Grisel ragu.


“Tentu, aku tidak suka dengan kamu yang pasif,” jawab Darren.


Grisel tampak berpikir, bukankah dirinya sudah jatuh basah, lantas kenapa tidak menceburkan dirinya sekalian agar semakin basah, bukankah itu lebih baik.


Grisel mengubah posisi duduk hingga berhadapan dengan Darren, lantas melingkarkan kedua lengan di leher pria itu. Sudah lama dirinya tidak mendapatkan sentuhan, jika Darren bisa memuaskan dirinya, kenapa tidak?


Grisel menyentuhkan bibir mereka, memagut begitu dalam dan liar. Darren senang dengan sikap Grisel yang seperti itu, lantas merengkuh pinggang wanita itu dengan satu tangan yang mengusap punggung kecil berbalut gaun ketat yang pas di tubuhnya.


Wanita itu mencium pria yang memangkunya dengan semakin liar, hingga gairah pria itu naik dan menginginkan sesuatu yang lebih.


“Aku ingin lebih dari ini, puaskan aku maka impianmu akan tercapai.”

__ADS_1


__ADS_2