Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Persetujuan Chila


__ADS_3

Sandra terkesiap mendengar ucapan Farzan, hingga tangan yang sedang mengusap punggung pria itu pun terhenti.


Farzan merasa jika kekasihnya itu pasti terkejut karena permintaannya. Hingga dia melepas untuk bisa melihat ekspresi wajah Sandra.


“Ke-kenapa kamu tiba-tiba bicara seperti itu?” tanya Sandra dengan tergagap.


Sungguh Sandra tidak akan menyangka jika Farzan akan memintanya menikah, di usia hubungan mereka yang baru sebiji jagung, bagaimana bisa Farzan mengajaknya menikah.


“Aku memiliki banyak pertimbangan, San.” Farzan mencoba meyakinkan Sandra agar tidak menolak.


Sandra sendiri bukannya ingin menolak, hanya saja merasa semua terkesan buru-buru. Terlebih dia dan Farzan belum mengenal satu sama lain lebih jauh.


“Tapi hubungan kita baru saja dimulai, Zan. Apa menurutmu semua ini tidak terlalu terburu-buru untuk diputuskan?” tanya Sandra mencoba mencari kepastian dari keputusan yang Farzan ambil.


Farzan menatap Sandra yang ragu akan keputusannya, kemudian menggenggam telapak tangan kiri kekasihnya itu.

__ADS_1


“Aku tidak bisa kehilanganmu.”


Ucapan Farzan membuat jantung Sandra langsung berdegup dengan cepat, seperti sebuah gendang yang tiba-tiba ditabuh dengan keras. Rasanya ada sesuatu yang mendesir hebat ketika Farzan berkata tak bisa kehilangan dirinya, membuat Sandra merasa begitu spesial.


“Ak-aku ….” Sandra bingung harus berkata apa, hanya masih terkejut karena permintaan Farzan yang terkesan mendadak.


“Aku baru saja bertengkar dengan Mama, dia tidak tetap tak merestui hubungan kita. Aku tak mau dia memaksaku untuk menerima perjodohan dengan wanita lain. Aku hanya menginginkan dirimu,” ujar Farzan, menceritakan apa yang membuatnya meminta untuk menikah.


Sandra tertegun mendengar cerita Farzan. Dia sendiri bingung kenapa Anisa tidak menyukainya sebelum mengenal dirinya. Mungkin informasi yang tidak benar sudah terlebih dulu masuk ke pikiran Anisa, sehingga wanita itu tak bisa menerima penjelasan darinya.


“Bukan hanya itu saja. Aku juga ingin menjalin hubungan yang benar-benar kuinginkan dengan wanita yang kuanggap tepat. Kamu adalah satu-satunya wanita yang aku inginkan,” jawab Farzan, mencoba terus meyakinkan Sandra jika apa yang diucapkannya bukanlah sebuah candaan.


“Zan, tapi aku merasa kamu ingin menikahiku hanya untuk menghindari mamamu,” kata Sandra menatap Farzan yang sejak tadi memandangnya dengan mata sendu.


“Aku benar-benar ingin menikahimu, meski apa yang kamu katakan ada benarnya. Tapi percayalah jika aku sudah sangat yakin dengan keputusan ini.” Tak patah semangat, Farzan terus mencoba membujuk Sandra.

__ADS_1


Sandra benar-benar berada di dalam kebimbangan, jika mereka menikah pun, apakah akan merubah sikap Anisa kepada dirinya. Apakah orangtua Farzan bisa menerimanya meski dia menjadi istri pria itu.


“Bagaimana jika orangtuamu menentang?” tanya Sandra masih ragu.


Farzan menggenggam erat telapak tangan Sandra, tatapannya tak menunjukkan sedikit pun keraguan.


“Aku benar-benar tidak peduli. Bagiku sekarang bisa bersamamu adalah yang terbaik. Aku hanya ingin meraih kebahagiaanku, sedangkan kebahagiaanku hanyalah kamu.”


Lagi-lagi Farzan mengucapkan kalimat yang membuat jantung Sandra bertalu-talu, dada terasa bergemuruh seolah ada ribuan bison yang sedang berlarian di dalamnya. Berapa tahun dirinya tak mendengar ucapan manis yang menyentuh hati, hari ini dirinya bisa mendengar ucapan-ucapan penuh kasih yang membuat aliran darahnya terus memompa begitu kuat, hingga jantung berdegup tak terkendali.


“Bagaimana Chila, aku tetap harus meminta persetujuannya dulu,” kata Sandra seolah memberikan lampu hijau jika dirinya bersedia menikah dengan pria itu.


Farzan langsung mengembangkan senyum mendengar ucapan Sandra, kemudian dirinya membalas, “Biar aku yang bicara dengan Chila. Dia pasti akan setuju.”


Sandra memicingkan mata mendengar balasan Farzan yang terdengar begitu percaya diri. “Kamu pede sekali.”

__ADS_1


“Karena Chila sejak awal menyukaiku.”


__ADS_2