Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Papa Farzan


__ADS_3

Farzan mengantar Chila pulang ke rumah Gilang. Dia juga berkata ke Chila jika Sandra masih di luar kota dan mereka akan pergi bersama setelah wanita itu kembali. Tentu saja Farzan berbohong tentang keberadaan Sandra karena kondisi Sandra yang belum memungkinkan untuk bertemu dengan Chila.


“Jangan lupa makan malam, sepatunya nanti dipakai kalau kita pergi bersama,” kata Farzan sebelum pamit pulang.


Chila mengangguk-angguk, sedangkan Liana yang memang sudah bersama gadis kecil itu tersenyum melihat sikap Farzan yang baik.


Farzan mengusap rambut Chila, kemudian berdiri dan mengucapkan terima kasih ke Liana karena sudah mengizinkan mengajak Chila pergi.


“Maaf jika saya mengajaknya sampai sore,” kata Farzan ke Liana.


Mereka kini berada di teras rumah Gilang, banyak barang yang dibelikan Farzan untuk Chila.


“Tidak apa-apa, yang terpenting Chila senang,” balas Liana, kemudian menunduk untuk menatap wajah Chila yang berseri.


“Kalau begitu saya pamit dulu,” ucap Farzan ke Liana, sebelum kemudian melambaikan tangan ke Chila.


Chila melambaikan tangan, memandang Farzan yang masuk mobil dan meninggalkan area rumah Gilang.


“Banyak sekali belanjaannya, kalian pasti tadi bersenang-senang,” kata Liana saat melihat paper bag di lantai samping Chila.

__ADS_1


“Papa Farzan yang memilihkan semuanya untuk Chila.”


Chila membalas perkataan Liana sambil meraih tali paper bag untuk dibawa masuk.


“Oh ….” Liana membentuk huruf O dengan bibir, belum sadar akan sebutan yang diucapkan Chila.


“Tunggu! Papa Farzan?” Liana baru menyadari sebutan Chila untuk Farzan sudah berbeda.


Chila tak mampu membawa semua barangnya, memilih mengangkat sebagian kemudian memandang Liana yang sedang terkejut.


“Papa Farzan bilang, mulai sekarang suruh manggil Papa. Katanya Papa Farzan dan Mama akan menikah,” ucap Chila kemudian berjalan masuk meninggalkan Liana.


Liana masih terkejut dengan mulut menganga, berpikir kenapa Chila sampai berkata demikian, sedangkan baik dirinya maupun Gilang belum mengetahui informasi apa pun dari Sandra.


**


“Jadi kemarin kalian gagal?” tanya Gilang.


Keduanya mengangguk, meski Gilang begitu tegas saat memberikan perintah, tapi pria itu tidak pernah marah berlebih.

__ADS_1


Gilang mendengkus kasar, kenapa menangkap satu orang begitu susah. Tahu akan menjadi beban untuk sekarang, Gilang pasti dulu memilih bertindak sendiri daripada melaporkan ke pihak yang berwajib atas tindakan yang merugikan perusahaan.


"Apa kalian sudah mencari informasi keberadaannya lagi?" tanya Gilang kemudian.


"Sudah, tapi kami belum mendapatkan informasi lagi," jawab salah satu anak buah Gilang.


"Jika kalian menemukannya lagi, ambil tindakan saja jika melawan. Aku tidak peduli kalian menangkapnya dalam keadaan hidup atau mati, karena bagiku yang terpenting ketenangan Sandra dan Chila."


Akhirnya Gilang memberikan keputusan yang sangat di luar dugaan, kali ini pria itu tak peduli dengan hukum karena semua itu bisa dimanipulasi.


**


Anisa pulang dengan rasa kesal. Begitu sampai di kamar langsung duduk di tepian ranjang dengan wajah memberengut menahan amarah.


"Kenapa datang-datang wajahmu cemberut?" tanya Harun ketika melihat kedatangan Anisa.


"Aku bertemu putramu," jawab Anisa dengan nada sedikit tinggi.


Harun mengerutkan dahi, kenapa bertemu Farzan bisa membuat Anisa kesal.

__ADS_1


"Kamu tahu apa yang dia katakan kepadaku, Pa? Dia akan menikah dan tidak butuh restuku! Itu membuat hatiku sakit." Anisa menangis setelah selesai bicara, kemudian menjatuhkan tubuh ke ranjang dan menangis dengan posisi berbaring miring.


"Kenapa Farzan benar-benar tak menganggap aku sebagai ibunya hanya karena janda itu? Apa salah jika aku tidak merestui karena aku ingin memberikan pilihan terbaik untuknya? Kenapa putra kita jadi pembangkang?"


__ADS_2