
Farzan sangat terkejut dengan yang diucapkan Sandra, hingga berdiri dan membuat kekasihnya itu menatap ke arahnya.
“Apa maksud ucapanmu?” tanya Farzan dengan ekspresi wajah tak senang.
Sandra terkejut karena Farzan terlihat begitu marah, hingga sadar jika dirinya telah salah bicara.
“Bu-bukan begitu, Zan. Aku hanya merasa jika mungkin saja pilihan ibumu memang yang terbaik untukmu,” jawab Sandra menjelaskan.
Farzan membuang napas sambil memalingkan wajah, kemudian kembali menatap Sandra.
“Yang terbaik untuk orangtuaku, belum tentu terbaik juga untukku,” ujar Farzan.
“Kenapa kamu tiba-tiba bicara seperti itu? Apa ada hal yang kamu sembunyikan dariku? Tiba-tiba ingin kembali ke rumah, kemudian membahas hal tentang yang baik dan tidak untukku. Ada apa?” tanya Farzan tiba-tiba merasa curiga, ditatapnya Sandra hingga pandangan mereka bertemu.
Sandra terlihat gelagapan mendengar pertanyaan Farzan, hingga memilih menggelengkan kepala dan menunduk memandang makanan di meja.
Farzan semakin menatap aneh ke kekasihnya itu, kemudian kedua telapak tangan bertumpu di meja dan sedikit mencondongkan tubuh ke depan.
“San, ada apa? Kamu tidak mau cerita?” tanya Farzan lagi mencoba mencari tahu.
__ADS_1
Sandra menggelengkan kepala, tak ingin cerita karena takut jika ada perseteruan antara Anisa dan Farzan. Dia tak mau menambah dosa dengan jadi pemicu ibu dan anak itu bertengkar.
Farzan melihat Sandra tak mau jujur kepadanya, hingga pria itu bicara dengan sedikit nada tinggi.
“Apa sebatas ini hubungan kita? Hanya kata status tapi tak mau saling terbuka dan berbagi masalah? Apa kamu sebenarnya tidak menganggapku dan menerimaku juga karena terpaksa?” tanya Farzan dengan gurat kekecewaan di wajah.
Sandra terkejut mendengar ucapan Farzan, hingga memandang pria itu seraya menggelengkan kepala dengan cepat.
“Bukan seperti itu, aku hanya ….” Sandra menghentikan ucapannya, bingung cara bicara dengan Farzan.
Farzan tersenyum masam, kemudian menarik kedua tangan dari meja.
Pria itu tiba-tiba meninggalkan meja makan, lantas berjalan cepat menuju depan. Sandra sangat terkejut dengan yang dilakukan Farzan, hingga langsung berdiri dan mengejar pria itu.
“Farzan, tunggu!” Sandra memanggil tapi Farzan tetap mengayunkan langkah.
Farzan tidak mendengarkan panggilan Sandra, terus berjalan dan menyambar jas yang tergeletak di sandaran sofa. Dia siap meraih gagang pintu, hingga lengannya ditarik Sandra.
Sandra menarik tangan Farzan agar tidak pergi, entah kenapa sedih ketika pria itu pergi begitu saja karena marah.
__ADS_1
“Kamu tidak percaya kepadaku, untuk apa bicara lagi? Kamu berkata jika tak layak untukku, seolah aku ini pria yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun. Aku menerimamu apa adanya, apakah itu tidak cukup?” tanya Farzan mengutarakan kekecewaannya.
Sandra tahu jika Farzan pasti kecewa karena dirinya diam, tapi dia hanya sedang menjaga banyak perasaan orang. Demi meredam amarah pria itu, Sandra langsung memeluk, melingkarkan kedua tangan di pinggang pria itu agar Farzan tak pergi.
“Aku tahu, aku hanya merasa tak pantas untukmu,” lirih Sandra seraya menyandarkan kepala di dada pria itu. “Aku benar-benar tidak memiliki maksud lain,” imbuhnya.
Kedua tangan Farzan masih berada di samping tubuh, bahkan saat Sandra memeluk pun dia sedikit mendongakkan kepala. Hingga Farzan menarik napas panjang dan menghela perlahan, mencoba mengatur emosi yang tiba-tiba saja ingin meluap.
Farzan membalas pelukan Sandra, kemudian meletakkan dagu di kepala kekasihnya itu.
“Jangan pernah berkata jika kamu tidak layak,” pinta Farzan.
Sandra hanya mengangguk-angguk sambil memejamkan mata.
“Apa yang terbaik untukku, hanya aku yang bisa memilihnya, jadi jangan pula berkata jika pilihan keluargaku adalah yang terbaik,” ucap Farzan lagi dan kembali mendapatkan sebuah anggukan dari Sandra.
Farzan melepas pelukan, begitu juga dengan Sandra. Keduanya berdiri saling tatap, hingga Farzan mengulurkan tangan dan mengusap lembut rambut Sandra.
“Kamu adalah pilihan terbaikku, tidak ada yang bisa menilai kamu layak atau tidak selain aku. Bahkan jika kedua orangtuaku menentang, aku takkan peduli, karena bagiku hanya kamu yang aku inginkan, paham?”
__ADS_1
Sandra hanya mengangguk-angguk saat Farzan bicara, hingga tanpa disadari pria itu sudah menyentuhkan permukaan bibir mereka. Sandra sangat terkejut dengan yang dilakukan Farzan, tapi juga tidak bisa mengelak hingga akhirnya memilih memejamkan mata saat kekasihnya itu menyesap bibirnya begitu dalam.