Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Semakin jatuh hati


__ADS_3

Sandra, Farzan, dan Chila sudah berada di mobil, mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Sandra dan tidak jadi makan siang. Sepanjang perjalanan Farzan memilih diam, hanya merasa tak enak hati dengan Sandra karena dia dan Chila harus terlihat perseteruan dengan Grisel.


“Akhirnya aku bisa menampar wanita itu.” Tiba-tiba Sandra bicara dan menghela napas lega hingga memecah suasana hening dalam mobil.


Farzan langsung menoleh dengan perasaan heran, kenapa Sandra tampak senang bisa menampar Grisel.


“Sejak mengetahui jika mantan istrimu itu sangat membenci Joya, bahkan juga berani memfitnah, sejak itu aku ingin sekali menamparnya. Hari ini akhirnya terlaksana juga, ah … kenapa perasaanku sangat lega,” ucap Sandra lagi tanpa menoleh Farzan.


Farzan malah menahan tawa mendengar Sandra bicara, awalnya berpikir jika Sandra akan marah karena Chila disangkutpautkan dengan permasalahannya dengan Grisel.


“Aku pikir kamu akan marah padaku,” ucap Farzan, menoleh Sandra sebelum kemudian melirik Chila yang duduk dengan tenang di belakang.


“Kenapa aku harus marah?” tanya Sandra keheranan, menatap Farzan yang sudah kembali fokus ke jalanan.


“Ya, karenaku, Chila harus mendengar kata yang sedikit tak pantas, belum lagi tuduhan Grisel yang benar-benar tak layak didengar oleh Chila,” jawab Farzan dengan wajah penuh penyesalan.

__ADS_1


Sandra menarik napas dalam-dalam, kemudian menghela perlahan.


“Ya, aku tidak berhak marah padamu. Aku tahu mana yang benar dan salah. Wanita itu saja yang tak bisa berhenti dan seolah ingin mengolok-olok. Meski yang bersamamu bukan Chila, aku yakin jika dia tetap tidak akan berhenti membuat masalah. Aku yakin dia akan membuat masalah dengan siapapun yang bersamamu,” ujar Sandra kemudian.


Farzan diam mendengarkan ucapan Sandra, memang benar yang dikatakan wanita itu. Selama Grisel masih menaruh benci, maka wanita itu akan selalu membuat masalah kepada siapapun yang dibenci.


“Aku tadi sangat bangga dengan Chila.” Sandra menoleh ke belakang, menatap dan tersenyum pada putrinya itu. “Aku bangga karena dia berani membelaku. Aku sangat terharu.” Sandra menatap Chila dengan bola mata berkaca.


Farzan menatap sekilas Sandra, merasa semakin jatuh hati dengan sifat dan sikap wanita itu. Hatinya semakin yakin untuk mendekati dan memberikan harapan kebahagiaan pada wanita itu.


**


“Sialan! Siapa wanita itu?”


Grisel yang geram lantas melempar tas ke sofa. Dia kemudian mendudukkan tubuh sedikit kasar dengan suara dengkusan dari mulut. Grisel berteriak, memanggil pelayan barunya untuk mengambilkan es. Pipinya sangat panas karena terkena tamparan Sandra yang lumayan keras.

__ADS_1


Claudia baru saja sampai di rumah Grisel, melihat modelnya duduk dengan kepala menengadah dan memegangi pipi.


“Kamu kenapa?” tanya Claudia. Dia terkejut melihat pipi Grisel yang merah.


Grisel mencebik, saat pelayannya datang langsung mengambil saputangan untuk membungkus es, sebelum kemudian digunakan untuk mengompres pipi.


“Kamu habis dipukul?” tanya Claudia menatap Grisel yang belum menjelaskan.


“Ya, semua gara-gara wanita sialan itu,” geram Grisel menjawab pertanyaan Claudia.


“Wanita sialan siapa?” tanya Claudia. “Apa kamu buat gara-gara lagi?” Claudia tak percaya jika Grisel terluka tanpa sebab.


Grisel mencebik karena Claudia menatapnya seolah ingin berkata kalau dirinya adalah biang masalah.


“Wanita yang bersama Farzan. Aku hanya memperingatkan, tapi wanita itu menamparku,” geram Grisel. Wajahnya merah menahan amarah.

__ADS_1


Claudia terdiam mendengar ucapan Grisel, tak mau berkomentar karena tahu jika Grisel pasti akan semakin meledak karena tak mau disalahkan. Claudia sendiri yakin jika Grisel pasti membuat ulah terlebih dahulu, sebab itu mendapatkan tamparan.


“Aku harus tahu siapa wanita itu? Kenapa Farzan sangat melindunginya.”


__ADS_2