Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Kamu milikku


__ADS_3

Malam semakin larut, setelah perbincangan itu Farzan dan Sandra memilih berbaring di ranjang sambil menceritakan hal lain. Entah kenapa keduanya belum bisa tidur, mungkin karena mereka sebenarnya sedang gugup, sebab kini berada di atas satu ranjang dengan status yang sudah saling terikat.


“Tidurlah, kamu pasti lelah seharian berbincang dengan para tamu,” ucap Farzan sambil mengusap rambut Sandra.


Sandra mengulum bibir, lantas menganggukkan kepala sebelum kemudian memejamkan mata.


Farzan pun mencoba memejamkan mata, hingga kamar itu terasa hening dengan cahaya yang sedikit remang.


Terdengar suara gemuruh dan detak jantung tidak beraturan, entah itu detak jantung Farzan atau Sandra, bahkan mungkin keduanya, tampaknya keduanya benar-benar merasakan kegugupan yang luar biasa.


Keduanya tiba-tiba menggeser posisi tidur hingga miring saling berhadapan, kemudian membuka kelopak mata bersamaan, hingga tatapan mereka saling bersirobok, terlebih jarak mereka yang begitu dekat.


“San.”

__ADS_1


“Ya.”


Farzan mengulum bibirnya, menatap wajah Sandra yang baginya semakin begitu menarik.


“Bolehkah aku memilikimu?” tanya Farzan sedikit hati-hati.


Sandra melipat bibir ke dalam, hingga kemudian menganggukkan kepala tanda memperbolehkan.


Keduanya sama-sama lama tidak pernah melakukan hubungan suami-istri, Sandra yang memang menjanda, sedangkan Farzan yang lelah terhadap mantan istri, membuat keduanya kini sedikit gugup bagai ini adalah hal yang pertama bagi keduanya.


Farzan mendekatkan wajah, hingga menyentuhkan bibir mereka. Saat itu terjadi, Sandra memejamkan kelopak mata, merasakan sentuhan hangat bibir pria itu ke bibirnya.


Keduanya semakin larut dalam gairah, perlahan ciuman itu menuntun mereka ke kegiatan yang lebih panas. Farzan mulai melepas pakaiannya begitu juga dengan Sandra, pria itu mengukung wanita yang sudah sah menjadi istrinya, memberikan kecupan kecil dan juga sentuhan di tubuh wanita itu. Sandra sendiri mulai merasakan gelenyar aneh terus menjalar di tubuh, lama dirinya tidak mendapatkan sentuhan itu, hingga apa yang dilakukan Farzan terasa begitu asing baginya.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun melakukan penyatuan dua tubuh, perlahan menjajaki kegiatan yang lama tidak mereka lakukan. Farzan memacu tubuh Sandra perlahan, dengan ritme teratur melakukan dorongan di lembah sempit sang istri. Sandra memejamkan mata, kedua telapak tangan meremas sprei yang bisa diraihnya, lama dirinya tidak melakukan hubungan seperti ini, kini bagian intinya terasa sempit dan terkoyak seperti awal menikah dulu.


Dengan napas memburu mereka saling berpacu mencapai nirwana, keringat yang bermanik di kening dan pelipis sebagai bukti akan kegiatan pertama mereka sebagai suami-istri yang sah. Desaahan kecil terus lolos di bibir, hujaman demi hujaman mulai terasa penuh menyesakkan rongga. Hingga pada akhirnya gelombang tinggi mulai menggulung keduanya, tubuh Farzan mengetat tatkala sesuatu dari dalam tubuhnya mulai mengalir membanjiri rongga sempit milik Sandra.


Sandra sendiri merasakan dadanya naik turun tidak beraturan karena napas tersengal akibat kegiatan itu. Dia merasakan rongga intinya terasa penuh sebelum kemudian terasa hangat dengan lahar yang mengalir di dalamnya.


Keduanya saling tatap, terlihat jelas wajah Sandra yang memerah karena malu. Farzan mengulas senyum, lantas mendaratkan kecupan di kelopak mata hingga kening istrinya itu.


“Aku sangat mencintaimu.”


Ucapan itu bagai setitik sinar mentari yang begitu menghangatkan dada, membuat rona merah di wajah Sandra semakin kentara.


“Akhirnya kamu benar-benar menjadi milikku,” ucap Farzan lagi dan kembali mengecup bibir Sandra sekilas, sebelum kemudian memilih merebahkan tubuh di samping Sandra.

__ADS_1


Farzan sengaja tidak langsung meminta Sandra membersihkan diri, berharap bibit-bibit yang baru saja dilepas, akan ada yang tinggal dan bisa tumbuh di rahim sana. Sebelum mereka menikah, Sandra dan Farzan sudah sepakat jika tidak akan menunda untuk memiliki bayi jika memang Tuhan berkehendak. Sandra sendiri sudah berumur hampir empat puluh tahun, memang tidak berharap banyak tapi hendak berusaha.


__ADS_2