
Farzan baru saja mengantar Chila, hingga ponselnya berdering saat akan masuk mobil. Dia melihat nama Gilang terpampang di layar.
“Halo, Pak.” Farzan pun segera menjawab karena takut jika ada sesuatu hal yang pentin.
“Zan, kamu di mana? Sandra mau melahirkan, cepatlah datang ke rumah sakit!” Suara Gilang terdengar panik dari seberang panggilan.
“Apa?” Kini Farzan yang terkejut dan begitu panik. “Baik, saya akan ke sana.”
Farzan buru-buru mengakhiri panggilan itu, lantas masuk mobil untuk bisa segera pergi ke rumah sakit untuk menemui istrinya.
Di rumah sakit. Gilang baru saja sampai di depan UGD. Dia langsung memanggil perawat untuk membantu Sandra.
“Dia mau melahirkan, Sus!” Terlihat jelas raut kecemasan di wajah Gilang.
Sandra sendiri merasa kontraksi terus terjadi. Dia sampai meringis karena menahan sakit yang luar biasa.
“Baik, Pak. Anda tenang saja, kami akan segera membantu sesuai prosedur,” ucap perawat lantas mengambil brankar untuk membawa Sandra masuk ke ruang tindakan.
“Semua akan baik-baik saja, suamimu sedang dalam perjalanan ke sini,” ucap Gilang ke Sandra sebelum dibawa masuk UGD.
Sandra hanya mengangguk-angguk sambil meringis menahan sakit. Melahirkan di usianya sekarang, mungkin tidak akan mudah untuk Sandra.
__ADS_1
Gilang yakin jika Sandra adalah wanita kuat, sehingga percaya jika semua pasti akan berjalan lancar.
Selagi Sandra dibawa masuk ke ruang tindakan, Gilang memilih mendaftarkan Sandra ke bagian pendaftaran pasien sesuai prosedur.
Farzan baru saja tiba di rumah sakit. Dia berlarian menuju UGD karena begitu cemas akan kondisi Sandra. Pagi tadi sang istri berkata jika baik-baik saja, tapi kenapa sekarang sudah ingin melahirkan.
“Pak!” Farzan melihat Gilang yang baru saja selesai dari bagian pendaftaran.
“Istrimu di dalam, masuklah!” perintah Gilang.
Farzan mengangguk kemudian masuk ke UGD dan mencari keberadaan Sandra.
“Terima kasih,” ucap Farzan kemudian berjalan menuju ke ruangan yang ditunjuk perawat.
Begitu masuk di sana, Farzan melihat seorang perawat baru saja memasang infus. Dia masuk dan melihat istrinya sedang kesakitan karena menahan kontraksi yang terjadi.
“San.” Farzan berdiri di samping Sandra, lantas menggenggam erat telapak tangan sang istri.
“Zan. Akh!” Sandra meremas telapak tangan Farzan, dia benar-benar kesakitan.
Farzan ketakutan jika terjadi sesuatu dengan sang istri. Tidak tega melihat istrinya yang kesakitan seperti sekarang.
__ADS_1
“Apa belum bisa dilakukan tindakan, sus? Istriku kesakitan!” Farzan bicara dengan nada suara panik.
“Sedang dikonsultasikan dengan dokter kandungan, Pak. Kondisi pembukaan masih tujuh, lalu kita sedang memantau tekanan darah yang agak tinggi. Jika dokter sudah memutuskan, kami akan segera melakukan tindakan,” ujar perawat menjelaskan.
Farzan benar-benar panik, hingga menggenggam erat telapak tangan Sandra menggunakan kedua tangan. Bahkan dia mencium punggung tangan istrinya itu.
“Kamu yang sabar, aku tahu kamu kuat,” bisik Farzan sambil terus menatap wajah kesakitan Sandra.
Hatinya terasa ngilu melihat Sandra kesakitan, belum lagi air mata yang sedikit luruh dari kelopak mata sang istri, membuat Farzan ingin ikut menangis karena bisa merasakan rasa sakit yang sedang alami istrinya.
Dokter dan perawat masuk, mereka mengecek tekanan darah Sandra lagi dan kondisi fisik wanita itu.
“Pak, setelah dipertimbangkan. Mungkin istri Anda harus menjalani operasi cecar demi keselamatan ibu dan bayi. Ini dikarenakan tekanan darah yang tinggi serta umur pasien yang memang sudah diatas batas umur ideal untuk melahirkan,” ujar dokter menjelaskan.
Farzan tercengang mendengar hal itu, kemudian menoleh Sandra yang benar-benar kesakitan. Dia harus membuat keputusan yang terbaik untuk istrinya.
“Lakukan apa yang menurut dokter baik, bagiku yang terpenting istri dan bayi kami selamat,” ucap Farzan membuat keputusan.
Dokter pun mengangguk, kemudian meminta perawat untuk memberitahu bagian ruang operasi agar menyiapkan tempat.
“Kamu bertahanlah, sebentar lagi kita akan melihatnya.” Farzan mengusap lembut kening Sandra, sebelum kemudian mengecup penuh kasih sayang.
__ADS_1