
Sandra dan Farzan pulang setelah seharian di rumah Anisa, meski Sandra sendiri tidak nyaman karena sikap Anisa yang memang masih tidak menyukai dirinya. Dia ingin membantu pembantu rumah yang sedang memasak, tidak boleh. Hendak membantu membersihkan meja, tidak boleh. Ingin membantu mencuci piring pun, tidak boleh. Membuat Sandra salah tingkah dan kikuk karena di sana tidak boleh melakukan apa pun.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Farzan saat melihat Sandra duduk melamun sambil memegang cangkir berisi coklat panas dengan kedua tangan.
Sandra tersadar dari lamunan, kemudian memandang Farzan yang berjalan ke arahnya. Tiba-tiba Sandra teringat akan ucapan Anisa saat tadi dirinya dilarang melakukan pekerjaan rumah di sana.
“Kamu tuh tidak usah mengerjakan pekerjaan rumah, bukannya kamu nantinya juga seharian bekerja. Sewa atau pekerjakan pembantu gitu, memangnya kamu tidak mampu? Kalau tidak mampu, aku yang akan membayar!”
“Satu lagi, jaga kesehatan baik-baik. Kamu tahu Farzan menikah tujuh tahun tapi tidak memiliki anak. Jadi karena dia memilihmu, jangan kamu buat kami kecewa. Kalau bisa jaga tubuh dan kesehatan biar kamu bisa memberikan kami keturunan. Jangan menunda dan beralasan umur jadi tidak bisa hamil, kamu tuh harus berusaha, jangan banyak alasan.”
Ucapan Anisa memang sangat ketus dan terasa menusuk di dada. Namun, Sandra mencoba berpikir positif dan tidak menanggapinya berlebih. Bukankah sudah biasa jika dalam rumah tangga pasti akan ada pembahasan seperti itu, meski pada akhirnya itu tetap menjadi beban pikiran untuk Sandra.
“Kenapa kamu melamun?” Farzan sudah duduk di samping sang istri, tapi Sandra malah tidak menoleh dan terlihat tidak fokus.
Sandra tersadar dari lamunan, kemudian menoleh dan baru sadar jika suaminya sudah duduk di sampingnya.
“Kamu melamunkan apa?” tanya Farzan curiga.
Sandra menggelengkan kepala dengan seulas senyum menjawab pertanyaan Farzan.
__ADS_1
“Tidak ada, hanya berpikir apakah kita harus pergi liburan, tapi ke mana? Cutiku hanya lima hari, sudah terpotong kemarin dan hari ini, tinggal tiga hari.”
Farzan pun berpikir, jika tidak menuruti keinginan sang mama, pasti Anisa akan mengomel dan menyalahkan Sandra. Waktu tiga hari mungkin bisa mereka gunakan untuk berlibur ke tempat yang tidak jauh, tidak perlu ke luar negeri juga, bukankah yang penting liburan.
“Ya sudah, kita liburan ke yang dekat saja, bagaimana? Apa kamu memiliki pandangan, mungkin ingin ke mana gitu?” tanya Farzan.
Sandra terlihat berpikir, dirinya juga tidak tahu mau ke mana. Selama ini Sandra memang jarang pergi berlibur karena memang fokus dengan pekerjaan dan Chila. Jika memang mengajak berlibur Chila, hanya sekitaran kota itu, entah pergi ke taman bermain atau tempat lain yang ramah anak-anak.
“Aku juga tidak tahu mau ke mana, aku ikut keputusanmu saja,” jawab Sandra pada akhirnya.
**
Keduanya sudah sampai di resort yang mereka sewa. Tempat itu tepat menghadap ke pantai, bagian belakang kamar mereka menghadap ke arah laut sehingga duduk di belakang kamar saja sudah bisa menikmati keindahan laut.
“Bagaimana tempat ini?” tanya Farzan sambil membuka pintu kaca yang ada di belakang kamar. Dia keluar dan mengirup udara segar dari laut.
Sandra baru saja menyimpan tasnya di lemari, kemudian berjalan menghampiri sang suami yang sudah berada di luar kamar.
Angin segar menerpa sedikit kencang, membuat rambut Sandra sedikit berantakan sampai menutupi wajahnya.
__ADS_1
Farzan menoleh dan melihat Sandra yang sedang menyingkirkan helaian rambut, hingga kemudian membantu istrinya merapikan rambut.
“Tempatnya sangat indah,” ucap Sandra. Dari tempatnya berdiri sekarang, dia bisa melihat hamparan laut biru dengan segala keindahannya.
Farzan tersenyum melihat Sandra menyukai tempat pilihannya. Dia lantas memeluk Sandra dari belakang dan meletakkan dagu di pundak istrinya itu.
Sandra mengulas senyum, kemudian mengusap lengan Farzan yang melingkar di perut.
“Semuanya terlihat indah, apalagi ada kamu di sini,” ucap Farzan.
Sandra mengerutkan alis mendengar ucapan Farzan, hingga melirik ke samping di mana suaminya bergelayut manja.
“Apa hubungannya indah dengan aku?” tanya Sandra keheranan.
Farzan melirik Sandra, hingga tatapan mereka bertemu meski hanya lewat ekor mata.
“Karena kamu menambah keindahan itu,” jawab Farzan.
Sandra langsung mengatupkan bibir mendengar ucapan Farzan, kenapa pria itu kini selalu bisa membuat wajahnya merona karena malu.
__ADS_1
Farzan menahan senyum saat melihat sang istri yang ternyata malu. Dia mengecup lembut pipi Sandra, kemudian memandang laut lepas masih dengan memeluk sang istri dari belakang.