Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Grisel gila


__ADS_3

Menjadi wanita buangan yang tidak diharapkan siapapun tentunya bukanlah sebuah impian. Dihina, dipandang buruk, hingga cacian kini harus dirasakan Grisel.


Semua adalah akibat dari perbuatannya sendiri, dia yang menabur, kini dia pula yang menuai.


Grisel berjalan gontai dengan kepala menunduk, setiap langkah mendengar suara hinaan karena berita yang sudah tersebar.


“Sangat disayangkan, dia akhirnya terlibat skandal.”


“Padahal aku dulu mengidolakannya, tapi sejak dia kena kasus dengan anak salah satu pemilik perusahaan ternama, aku pun hilang simpati.”


“Benar sekali, dulu dia memfitnah, kini malah kena batunya sendiri.”


Grisel semakin menunduk agar tidak ada yang melihatnya ketika mendengar perawat maupun pengunjung rumah sakit mulai bergosip tentang dirinya.


Hingga langkah terhenti saat melihat siapa yang baru saja melintas di hadapannya. Kenzo berjalan bersama seorang perawat yang menggendong bayi.


“Apa itu anak Joya? Hah … senang sekali hidupnya,” gumam Grisel dengan senyum getir di wajah.

__ADS_1


Hingga perasaan kesal dan benci kembali menyelimuti hati, tekanan yang diterima, dibuang serta dihina, membuat Grisel kehilangan akal. Dia menganggap semua akar masalah adalah Joya. Andai Joya tidak berpacaran dengan Farzan, andai Joya tidak hadir lagi di hadapannya, andai Farzan tidak pernah mencintai Joya, maka Grisel tidak akan pernah sangat membenci dan menaruh dendam ke Joya.


Grisel mengepalkan kedua telapak tangan yang berada di samping tubuh, hingga kemudian mengikuti dari jauh ke mana Kenzo dan perawat tadi pergi.


Kenzo masuk bersama perawat ke salah satu ruang inap. Ternyata Joya sudah dipindah ruangan pasca operasi dan kini bayi mereka juga dibawa ke sana setelah diobservasi beberapa jam.


Grisel melihat dari luar melalui kaca yang terpasang di pintu, melihat betapa bahagianya Joya yang kini sedang menimang bayi mungil yang terbungkus kain.


“Lihat, dia sangat tampan,” gumam Joya sambil memandang bayi laki-lakinya.


“Tentu saja tampan, lihat dulu siapa ayahnya,” timpal Kenzo memuji diri sendiri.


“Mau kamu beri dia nama siapa, sayang?” tanya Joya masih dengan memangku bayinya tapi tatapan tertuju ke Kenzo.


“Eldar Abimand, bagaimana menurutmu?” tanya Kenzo meminta pendapat.


Joya terlihat menimbang, hingga kemudian mengangguk setuju karena nama itu sangat sesuai dengan bayi mereka.

__ADS_1


Kenzo sangat bahagia, bahkan sampai menciumi bayinya berulang kali, sebelum beralih ke pipi sang istri.


Di luar, Grisel semakin cemburu dengan kebahagiaan yang didapat Joya. Pikiran yang sedang tertekan, serta mental yang sudah tidak sehat, membuat jiwa Grisel terganggu.


“Aku akan menelepon Papa dulu sebentar untuk memintanya mengurus masalah perusahaan,” ujar Kenzo.


Joya mengangguk dan membiarkan sang suami keluar sebentar. Joya masih memandang bayi mungilnya yang tertidur pulas, hingga tiba-tiba ingin pergi ke kamar mandi.


“Kamu bobok dulu ya, sayang. Mimi mau ke kamar kecil,” ucap Joya kemudian mencium pipi bayinya sebelum meletakkan ke ranjang.


Grisel bersembunyi saat Kenzo keluar kamar, melihat pria itu menjauh, sebelum kemudian melihat ke ruangan di mana Joya sedang turun dari ranjang.


“Dia meninggalkan bayinya, ini kesempatan buatku. Aku tidak bahagia, jadi semua orang pun tidak boleh bahagia.” Sepertinya akal sehat Grisel sudah hilang, tekanan dan rasa malu yang didapat membuat psikis wanita itu terganggu.


Grisel masuk ke ruang inap saat Joya masuk ke kamar mandi, lantas diam-diam mengambil bayi Joya dan membawanya pergi.


Tidak ada yang mengetahui perbuatan Grisel, wanita itu bisa lolos begitu saja keluar dari rumah sakit sambil membawa bayi Joya yang masih merah.

__ADS_1


“Kamu tampan sekali, apa kamu mau menjadi anakku? Kenapa kamu diam? Kamu tidak suka aku? Semua orang tidak suka aku, apa kamu juga? Kamu anak kecil tahu apa? Kamu pokoknya harus suka aku?”


Grisel tiba-tiba seperti orang gila, mengajak bicara bayi yang ada di gendongan, terkadang sesekali tertawa. Dia terus melangkahkan kaki tanpa arah, membawa bayi tidak berdosa yang entah bagaimana nasibnya setelah itu.


__ADS_2