Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Pertengkaran


__ADS_3

Sudah lima belas menit tapi Anisa tak kunjung datang, membuat Farzan sedikit gerah dan tidak nyaman karena bersama Valeria hanya berdua.


Apalagi Valeria sejak tadi terus mengajaknya bicara, membuat Farzan semakin malas dan hanya menanggapi dengan jawaban singkat.


“Apa mungkin Bibi ada masalah di jalan, sehingga dia belum datang,” ucap Valeria sambil menengok arloji yang melingkar di pergelangan tangan.


Farzan langsung melirik Valeria, berpikir apakah wanita itu berucap hanya untuk memecah suasana dingin di antara mereka.


“Aku harus pergi karena banyak urusan,” kata Farzan kemudian berdiri dan merapikan jasnya.


Valeria memandang Ethan, kemudian meraih tas yang ada di kursi sampingnya.


“Aku juga sebenarnya ada latihan, tapi karena Bibi menghubungi, jadi aku datang kemari,” timpal Valeria yang ikut berdiri.


Farzan menatap sekilas wanita yang ada di hadapannya itu, meski masih muda dan terlihat begitu anggun, tapi pada kenyataannya Farzan tidak pernah tertarik, entah itu dulu atau sekarang.


Tanpa berucap, Farzan pun berjalan meninggalkan Valeria, sedangkan wanita itu menatap punggung Farzan yang menghilang di balik pintu. Pria yang sangat pemilih dan susah ditaklukkan.


Farzan sangat kesal karena ibunya tidak datang, menduga jika semua ini pasti rencana Anisa agar dirinya bisa bertemu dengan Valeria. Tidak bisa membiarkan sang ibu melakukan sesuatu yang tak disukainya, Farzan memilih pergi ke rumah Anisa untuk meminta penjelasan dari wanita yang sudah melahirkannya itu.


Benar saja, Anisa berada di rumah dan sedang menikmati secangkir teh hijau sambil menonton tayangan infotainment di televisi. Dia memang sengaja tidak datang hanya untuk memberi kesempatan Valeria bertemu dan bicara dengan Farzan. Kedatangan keduanya di kafe pun sudah direncanakan Anisa, bahkan Valeria tidak tahu jika Farzan akan datang dan Anisa tidak.


“Ah … mereka pasti sekarang sedang mengobrol bersama, kemudian dekat dan siapa tahu Farzan akan berubah pikiran, ‘kan.”

__ADS_1


Keinginan Anisa terlalu tinggi tanpa melihat bagaimana sifat putranya.


Farzan langsung keluar dari mobil begitu sampai di rumah orangtuanya, berjalan dengan cepat masuk rumah dan mencari keberadaan ibunya.


“Ma, kita perlu bicara!” Farzan berdiri di samping sofa tempat Anisa duduk, menatap sang ibu dengan perasaan kesal.


Anisa terkejut dengan kedatangan Farzan. “Kenapa kamu di sini, bukankah seharusnya kamu berada di kafe?”


Farzan tersenyum ironi karena dugaannya benar jika Anisa hanya beralasan saja agar dirinya bertemu dengan Valeria.


“Mama berharap aku bicara dan dekat dengan Valeria? Jangan harap!” Farzan bicara begitu tegas.


“Kenapa? Kenapa kamu bicara seperti itu? Bukankah tidak ada salahnya jika kalian saling mengenal lebih jauh.” Anisa berdiri, hingga kini saling berhadapan dengan putranya.


“Pilihan apa, hah? Janda tak tahu diri itu? Kamu tahu betapa buruknya janda, hah? Apalagi wanita itu juga pernah menjadi selingkuhan pria bersuami!” Tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya, Anisa langsung menuduh Sandra jika pernah menjadi perebut laki orang.


“Ma! Hentikan! Mama tidak tahu apa-apa tentangnya, jadi jangan pernah menghina atau menjelekkannya!” geram Farzan masih berusaha menahan amarahnya.


Anisa terkejut mendengar Farzan yang bicara sedikit keras, putranya kini terus membangkang sejak mengatakan menjalin hubungan dengan janda anak satu yang dibenci Anisa.


“Lihat! Lihat dirimu! Sejak mengenal wanita itu, kamu jadi pembangkang! Apa kamu mau jadi anak durhaka dengan melawan Mama, hah?” Anisa kesal karena Farzan bicara dengan keras, hingga wanita itu kini juga ikut berteriak.


Farzan menghela napas kasar, bahkan memalingkan wajah karena sang ibu tidak menyadari kesalahannya sendiri yang membuat Farzan seperti sekarang.

__ADS_1


“Jangan menyalahkan siapapun, Ma! Aku membangkang karena Mama tidak mau memahami perasaanku! Kenapa Mama dengan tega menemuinya dan meminta agar menjauhiku, bahkan Mama tega mengatainya buruk dan terus menghinanya. Mama adalah wanita, jika Mama diperlakukan seperti itu, bagaimana perasaan Mama?” Farzan mencoba menurunkan nada suaranya, berharap Anisa paham akan yang diinginkannya.


“Dia mengadu! Sungguh wanita jahat!” cibir Anisa, merasa jika penilaiannya tidak salah.


Farzan terkejut dengan cibiran ibunya, kedua telapak tangan yang ada di samping tubuh mengepal.


“Dia tidak pernah mengatakan apa pun tentang Mama, akulah yang mencari tahu sendiri apa yang terjadi. Asal Mama tahu, Sandra masih membela Mama dengan tidak ingin aku marah ke Mama. Tapi apa yang Mama lakukan, terus menghinanya? Apakah dengan cara itu bisa membuat Mama puas? Apakah dengan begitu Mama berpikir bisa memisahkan kami?” Farzan bicara dengan terus memandang Anisa.


Anisa melihat amarah ditatapan putranya, tapi juga ada kekecewaan yang mendalam.


“Asal Mama tahu, semakin Mama mengekang maka akan semakin keras aku memberontak. Mama tidak menginginkan aku bersama Sandra, maka aku akan terus bersamanya. Aku akan melakukan hal sebaliknya, jika Mama masih terus menginginkan aku menerima perjodohan yang Mama lakukan.”


Farzan bicara dengan nada suara sedikit rendah, sebelum kemudian memilih membalikkan badan karena tak ingin lagi berdebat dengan wanita yang sudah melahirkannya.


“Farzan! Jika kamu masih berhubungan dengan wanita itu, maka jangan anggap aku sebagai ibumu!” teriak Anisa saat melihat Farzan melangkah menuju pintu.


Farzan menghentikan langkah kaki, tak menoleh dan hanya berdiri dengan suara helaan napas. Anisa menyeringai, tahu jika Farzan pasti takkan menyakiti hatinya dengan terus membangkang, sangat yakin jika Farzan akan mengubah keputusan yang dibuat.


“Jika itu yang Mama inginkan, aku akan menerimanya.” Farzan kembali melangkah, sebelum berhenti lagi dan berkata, “Jika Mama sayang kepadaku, seharusnya Mama paham apa yang aku inginkan dan bisa membuatku bahagia.”


Anisa sangat tercengang mendengar ucapan Farzan, melihat putranya itu melangkah sebelum menghilang dari balik pintu.


“Di-dia bilang apa? Farzan!” teriak Anisa histeris.

__ADS_1


Farzan masih terus melangkah tanpa menoleh. Mungkin dia sudah durhaka dan gila karena telah menentang sampai menerima jika tak dianggap anak. Namun, semua itu dilakukan karena Farzan ingin mempertahankan kebahagiaannya. Tujuh tahun hidup penuh tekanan, apakah tidak layak dia mendapatkan ketenangan bersama wanita yang benar-benar dianggapnya layak bersama.


__ADS_2