Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Mencoba gaun


__ADS_3

Sandra terkejut mendengar pertanyaan Farzan, kemudian menggelengkan kepala cepat untuk menjawab pertanyaan kekasihnya itu.


“Jangan bohong, mata dan wajahmu terlihat merah,” kata Farzan.


Sandra menangkup kedua pipi, kemudian membalas, “Mungkin karena tadi ketiduran bersama Chila, jadi kelihatan begini. Karen tidur, jadi tidak tahu kalau kamu menghubungi.”


Farzan masih menatap Sandra, merasa jika kekasihnya berbohong. Namun, karena Sandra pun tidak mau cerita, akhirnya Farzan tak bertanya lagi dan memilih mengajak Sandra ke butik.


**


Di butik, Anisa sudah menanti, memilih beberapa gaun pengantin sebagai contoh, sebelum Sandra datang dan memilih yang cocok.


Hampir satu jam Anisa menunggu, hingga akhirnya Farzan dan Sandra pun tiba dan langsung menyapa wanita itu.


“Zan, Mama sudah memilihkan beberapa jas yang sesuai, coba kamu pilih,” kata Anisa ke sang putra.


Farzan mengangguk, kemudian melirik Sandra dan agak ragu meninggalkan Sandra sendirian bersama Anisa.


“Sana kamu pilih dan coba!” perintah Anisa karena Farzan tak kunjung pergi bersama pelayan butik.


Farzan pun akhirnya menuruti ucapan Anisa dan pergi mencoba jas pilihan sang mama, sedangkan Anisa langsung melirik Sandra dan melihat wajah calon menantunya itu sedikit merah.


“Kamu ikut aku!” Anisa bicara dengan sedikit nada ketus.


Sandra hanya mengangguk, kemudian mengikuti langkah Anisa menuju ruang khusus.


“Kenapa kamu? Nangis karena diajak ke sini?” tanya Anisa yang berjalan di depan Sandra.


Sandra terkejut mendengar pertanyaan Anisa, kemudian menjawab, “Tidak.”

__ADS_1


Anisa menghentikan langkah, membalikkan badan dan menatap ke Sandra.


“Jangan kamu pikir aku bodoh, kamu pasti bertengkar dengan Farzan karena tak mau diajak ke sini, ‘kan?” Anisa menuduh tanpa dasar.


Sandra harus banyak bersabar menghadapi Anisa. Dia pun menghela napas pelan untuk mengontrol emosi yang memang sedang tidak stabil.


“Saya tidak bertengkar dengan Farzan, juga tidak menolak pergi ke sini,” kata Sandra sekali lagi membela diri.


Anisa memicingkan mata, kemudian memilih mengabaikan Sandra dan meminta calon menantunya itu untuk memilih dan mencoba gaun yang sudah dijadikan opsi sebelumnya.


Sandra memilih satu gaun yang paling sederhana di antara semua gaun, Anisa ingin melarang tapi terlalu gengsi sehingga memilih diam.


Di dalam ruang ganti saat sudah berganti pakaian, ponsel Sandra berdering dan melihat nama Chila terpampang di sana. Sandra pun buru-buru menjawab panggilan putrinya itu.


“Halo sayang, kamu sudah bangun?”


Di luar ruang ganti. Anisa mendengar Sandra memanggil sebutan sayang, membuat wanita itu mendekat dan berdiri di depan pintu ruang ganti untuk menelinga.


“Iya,” jawab Sandra berbohong. “Kamu sudah baik-baik saja?” tanya Sandra lagi.


“Sudah, terima kasih Mama menemaniku tidur.”


Sandra tersenyum dengan bola mata berkaca mendengar ucapan terima kasih dari Chila.


“Iya sayang. Kamu jangan terlalu memikirkan masalah tadi, anggap saja tadi bertemu orang gila dan kamu tidak akan bertemu lagi dengannya untuk kedua kali,” ucap Sandra untuk menenangkan serta membuat Chila melupakan kejadian tadi.


“Iya, Chila memang menganggapnya gila,” balas Chila dari seberang panggilan.


Sandra senang karena Chila tak seperti tadi, kemudian memilih pamit karena dirinya harus segera keluar atau Anisa akan bersikap ketus dan berpikiran yang aneh-aneh.

__ADS_1


Di luar kamar ganti, Anisa mendengarkan apa yang dibicarakan Sandra dan Chila, hingga sadar jika kondisi Sandra sekarang karena ada masalah lain dan bukan karena bertengkar dengan Farzan.


Anisa buru-buru kembali duduk saat tak ada suara lagi dari Sandra, hingga pintu terbuka dan Sandra keluar dengan memakai gaun yang melekat pas di tubuhnya.


“Terlalu sederhana,” protes Anisa saat melihat penampilan Sandra.


Sandra menunduk dan memperhatikan penampilannya, merasa jika gaun itu sudah cukup indah dan cantik.


“Ini bagus, Tante.” Sandra merasa heran karena Anisa protes. Dia seorang desainer, sudah pasti paham model yang bagus dan tidak.


“Tidak usah bantah, kalau aku bilang terlalu sederhana ya sederhana. Ganti yang lain!” perintah Anisa tak mau menerima komplain apa pun.


Sandra mencoba bersabar, lantas memilih gaun lainnya sesuai permintaan Anisa.


Farzan sendiri sudah memilih dan mencoba, lantas memperlihatkan ke Anisa agar sang mama senang.


“Bagaimana, Ma?” tanya Farzan meminta pendapat.


Anisa memperhatikan penampilan Farzan, hingga tampak kagum dan senang karena sang putra begitu tampan.


“Ini sangat cocok denganmu, kamu ini memakai apa pun pasti bagus,” kata Anisa memuji.


Farzan mengangguk, asal membuat sang mama senang maka sudah cukup baginya. Hingga tatapan tertuju ke ruang ganti, menunggu Sandra yang belum keluar.


“Sandra belum selesai mencoba?” tanya Farzan mengalihkan tatapan ke Anisa.


“Dia tadi milih gaun yang sangat sederhana, Mama memintanya untuk mencoba yang lain,” jawab Anisa yang sedikit merubah ekspresi wajah saat membahas Sandra.


Farzan merasa Anisa terlalu memaksakan kehendak, menebak jika Anisa pasti mempersulit Sandra.

__ADS_1


“Ma, jangan memaksakan kehendak kepadanya. Sandra suka kesederhanaan, tolong jangan minta dia berubah seperti yang Mama harapkan,” pinta Farzan.


Anisa kesal dinasihati Farzan hanya karena Sandra, hingga kemudian wanita itu berkata, “Jika kamu mau Mama merestui dan setuju dengan hubungan kalian, maka turuti semua ucapan Mama.”


__ADS_2