
Meski harus menerjang badai, takkan dilupa cinta yang sudah tumbuh subur begitu indah. Takkan pernah membuang apa yang sudah didapat susah payah, karena sesungguhnya itu adalah rezeki yang tiada terkira.
Farzan memandang Sandra yang sedang menyajikan makanan yang mereka pesan melalui delivery, sepertinya malam ini Farzan benar-benar akan tidur di rumah Sandra.
“Apa kamu yakin jika akan ikut tidur di sini?” tanya Sandra memastikan, siapa tahu Farzan berubah pikiran.
“Sangat yakin,” jawab Farzan.
Farzan mengambil alat makan, kemudian bersiap menyantap makan malam yang sudah tersaji.
Sandra terus memandang Farzan, melihat betapa semangatnya pria itu ketika bersamanya. Mungkinkah sebenarnya memang seperti itu sifat Farzan, tidak seperti saat mereka bertemu dulu di mana pria itu terlihat begitu dingin dan cuek.
“Zan, boleh aku tanya sesuatu.” Sandra bicara dengan hati-hati. Dia duduk berhadapan dengan Farzan, menatap kekasihnya yang sedang makan.
“Tanya saja,” ucap Farzan mengizinkan. “Kenapa nasi goreng ini sangat enak,” imbuh pria itu menikmati nasi goreng yang dipesan lewat layanan delivery.
__ADS_1
Sandra malah tersenyum tipis mendengar Farzan memuji rasa nasi goreng yang sebenarnya bukan dibeli dari restoran mewah, tapi dipesannya dari pedagang biasa.
“Kamu mau bicara apa? Kenapa jadi diam?” tanya Farzan karena Sandra malah termangu.
Sandra ingat ingin menanyakan sesuatu, hingga kemudian memberanikan diri bicara.
“Kemarin saat kamu pulang dari rumah orangtuamu, kamu terlihat begitu tertekan. Apakah orangtuamu mengatakan sesuatu? Atau mungkin mereka tahu akan hubungan kita?” tanya Sandra hati-hati.
Tentu saja Sandra bertanya karena terus teringat akan ucapan Anisa. Dia menebak jika Farzan sebenarnya murung karena mungkin orangtuanya membahas hubungan mereka.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Farzan memandang Sandra.
“Karena tak mungkin kamu pulang dengan wajah kesal tanpa sebab,” jawab Sandra.
Sandra sendiri tidak berani langsung bicara tentang Anisa yang mendatangi dan memintanya menjauhi Farzan, tak mau jika kekasihnya itu salah paham.
__ADS_1
Farzan menghela napas panjang, tak langsung membalas ucapan Sandra dan memilih menyantap makan malamnya. Sandra terus memandang Farzan, yakin jika tebakan benar kalau orangtuanya mengatakan sesuatu tentang hubungan mereka. Jika tidak, mana mungkin Anisa sampai datang memperingatkannya untuk tak dekat dengan Farzan.
“Jika aku menceritakan apa yang terjadi, apakah kamu akan marah?” tanya Farzan akhirnya angkat bicara.
Sandra yang baru saja memasukkan suapan nasi goreng ke mulut, lantas memilih manatap sang kekasih seraya mengunyah. Dia pun mengangguk pelan.
“Sebenarnya, kemarin aku pulang karena ditawari untuk perjodohan,” ucap Farzan saat Sandra sudah berjanji takkan marah.
Meski Sandra tak terkejut karena sudah memprediksi karena didatangi Anisa, tapi entah kenapa dada terasa sesak mengetahui jika pria yang sudah masuk dalam hidupnya akan dijodohkan.
“Tentu aku menolak perjodohan itu, hingga akhirnya aku berdebat dengan Mama. Aku menjelaskan jika sudah menyukaimu, tapi tampaknya aku harus berusaha lebih keras agar Mama bisa menerimanya,” ucap Farzan mencoba jujur dengan yang terjadi, tak ingin ada yang disembunyikan dari Sandra.
Sandra mengulum bibir, sedikit menunduk untuk menyembunyikan senyum getir di wajah. Sudah jelas orangtua Farzan tidak merestui hubungan mereka, lalu haruskan hubungan itu tetap dipertahankan.
“Jika mamamu menginginkan kamu menikah dengan wanita yang lebih baik dariku, kenapa tidak kamu terima saja? Lagi pula aku hanya seorang janda dari kampung dan tidak sebanding denganmu. Jika dilihat, aku tidak layak untukmu.”
__ADS_1