
Hari berikutnya. Farzan tampak duduk di ruang kerjanya mengecek beberapa dokumen. Sampai terdengar suara ribut di luar ruangan, membuat Farzan mengerutkan alis.
"Ada apa di luar?" Farzan bertanya dalam hati.
Ternyata di luar Grisel datang ke perusahaan Farzan, bahkan nekat menerobos masuk ruangan meski sekretaris Farzan mencegah.
"Anda harus membuat janji dulu," kata sekretaris Farzan saat melihat mantan istri atasannya itu datang.
"Aku tidak perlu izin untuk bertemu dengannya, sekretaris bodoh!" umpat Grisel dengan mata melotot.
"Maaf, Nona. Meski Anda mantan istri Pak Farzan, tetap saja harus menjalani prosedur yang ada. Saya tidak bisa membiarkan Anda masuk." Sang sekretaris bicara dengan nada tegas, berdiri di depan pintu ruangan Farzan.
"Mantan? Kamu sudah mengataiku mantan istrinya! Pengadilan saja belum mengesahkan perceraian kami, jaga mulutmu!" bentak Grisel semakin angkuh dan sombong.
Di dalam ruangan, Farzan sadar suara siapa itu. Ia pun memilih bangun dari duduknya, lantas berjalan ke arah pintu. Farzan takkan membiarkan sekretarisnya kesusahan dalam menghadapi Grisel.
"Ada apa ini?" tanya Farzan begitu membuka pintu, melihat sang sekretaris yang berdiri memunggungi dirinya dan Grisel yang berdiri menatapnya dengan angkuh.
Sekretaris Farzan langsung menoleh saat mendengar suara atasannya itu, dengan hormat langsung membungkukkan badan dan sedikit menggeser posisi berdiri.
"Tanyakan saja pada sekretarismu yang tidak sopan ini!" Grisel langsung bersedekap dada dan memalingkan wajah.
Sekretaris Farzan menundukkan kepala karena takut mendapatkan masalah.
"Kembali ke mejamu, biar aku yang mengurusnya," ucap Farzan pada sang sekretaris dengan senyum kecil di wajah.
"Baik, Pak." Sekretaris Farzan pun mengangguk sebelum kemudian kembali ke mejanya.
__ADS_1
Kini Farzan menatap Grisel, tak tahu lagi apa yang diinginkan wanita itu.
"Mau apalagi kamu ke sini?" tanya Farzan menatap Grisel dengan wajah tak senang.
Bukannya menjawab pertanyaan Farzan, Grisel malah langsung masuk ke ruangan pria itu begitu saja.
Farzan terlihat begitu malas, hingga akhirnya memilih ikut masuk ke ruangannya, di mana Grisel sudah masuk terlebih dahulu.
"Apa sebenarnya yang kamu inginkan lagi?" tanya Farzan dengan wajah tak senang.
"Tentu saja membahas masalah kemarin," jawab Grisel santai, langsung duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Farzan menghela napas kasar seraya memalingkan wajah sekilas, sebelum kemudian kembali menatap pada wanita yang kini duduk santai di sofa.
"Apa dia wanita yang kamu sukai? Karena itu kamu bersikukuh ingin bercerai dariku?" tanya Grisel seraya memainkan kuku, lantas menatap Farzan yang berdiri di samping sofa.
"Itu bukan urusanmu!" jawab Farzan ketus.
"Ah … tampaknya memang benar jika wanita itu yang kamu sukai," ujar Grisel, lantas kembali berdiri hingga berhadapan dengan Farzan.
"Aku bilang, itu bukan urusanmu!" Farzan mulai kesal dengan sikap Grisel.
"Tentu ini masih menjadi urusanku, kamu masih menjadi suamiku, kita belum resmi bercerai. Aku bisa menuntutmu karena ternyata telah berselingkuh dariku." Grisel menyeringai setelah mengucapkan kalimat itu.
Tentu saja Grisel hanya menggertak Farzan, meski mereka akan bercerai tapi Grisel takkan membiarkan Farzan mendapatkan penggantinya begitu saja.
"Hidupku dan urusanku, kamu sudah tidak berhak lagi mencampuri. Tepatnya setelah kamu memilih untuk mempertahankan egomu!" ujar Farzan.
__ADS_1
"Aku sudah memberikan rumah dan melaksanakan semua kewajiban, apa itu masih kurang bagimu?" tanya Farzan lagi.
Meski rumah itu dibeli dari hasil keringatnya, serta sedikit bantuan dari orangtuanya, tapi Farzan memilih memberikan rumah itu sebagai harta gono-gini karena sudah mereka tempati bersama.
Grisel lagi-lagi menyeringai, sebelum kemudian maju satu langkah dan berdiri tepat di hadapan pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu.
"Bukan masalah harta, kita bercerai karena terpaksa. Aku tidak rela dan takkan rela jika kamu bersama wanita lain. Camkan itu!" Grisel menepuk jas bagian dada Farzan, tersenyum kecil kepada pria itu.
Farzan langsung menepis tangan Grisel yang menyentuhnya, seolah dirinya merasa jijik dengan sikap Grisel yang seperti ini.
“Rela atau tidak rela, itu masalahmu! Aku tidak peduli denganmu lagi, jadi aku tidak akan pernah peduli dengan apa yang kamu rasakan dan pikirkan! Kita sudah mengambil jalan hidup masing-masing, jadi jangan pernah lagi mencampuri urusanku!” Farzan mencoba menjauh dari Grisel, baginya kini wanita itu sudah gila dan tak bisa lagi ditunjukkan jalan yang benar.
Grisel menatap Farzan saat tangannya ditepis, memandang pria itu bicara dengan senyum menyeringai di wajah.
“Aku paham dan sangat paham jika kamu sekarang bisa bicara seperti itu, tapi lihat saja apa yang bisa aku lakukan padamu, atau mungkin pada wanita itu!” ancam Grisel kemudian.
Farzan melebarkan kelopak mata mendengar ancaman Grisel, bagaimana bisa wanita itu semakin angkuh dan egois.
Grisel bersiap pergi meninggalkan ruangan Farzan, tapi lengannya dicekal oleh pria itu.
Farzan terlihat begitu emosi mendengar ancaman Grisel, hingga kemudian menahan lengan wanita itu saat akan pergi.
“Mereka tidak ada sangkutpautnya dengan masalah kita! Jika kamu berani mendekati bahkan melakukan sesuatu pada mereka, aku berjanji! Aku berjanji akan membuat perhitungan dan membuatmu menyesal seumur hidup!” ancam balik Farzan.
Grisel tersenyum miring melihat ekspresi Farzan, hingga kemudian berkata, “Dari reaksimu, sudah membuktikan jika ada sesuatu di antara kalian.”
Grisel menatap dua bola mata Farzan bergantian, masih dengan senyum mengejek di wajah. “Kamu ingin mengancamku? Kita lihat siapa yang akan memohon dulu!”
__ADS_1
Grisel melepas paksa tangan Farzan dari lengannya, sebelum kemudian berjalan keluar dari ruangan pria itu.
Farzan mengepalkan telapak tangan yang ada di samping tubuh, bagaimana bisa Grisel mengancamnya dengan menggunakan Sandra dan Chila. Tentu saja Farzan takkan membiarkan hal itu terjadi, semua masalah berawal darinya, maka dia yang akan menyelesaikan semuanya sendiri.