
Sandra bekerja seperti biasa, sedikit tenang saat melihat Farzan tak segelisah semalam. Sampai detik ini wanita itu tidak tahu apa yang membuat Farzan semalam terlihat gusar, bahkan semalam Sandra tahu dengan jelas jika pria itu tidak bisa tidur dengan tenang.
Saat Sandra sedang mendesain gaun untuk sebuah fashion show salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan tempatnya bekerja, telepon kabel yang ada di mejanya berdering. Sandra pun langsung menjawab karena panggilan itu pasti penting.
“Halo.” Sandra langsung bicara saat gagang telepon menyentuh telinga.
“Bu Sandra, ada seseorang mencari Anda,” kata resepsionis dari seberang panggilan.
“Siapa?” tanya Sandra dengan dahi berkerut halus.
“Seorang wanita bernama Anisa,” jawab resepsionis.
Dahi Sandra semakin berkerut, jelas menunjukkan jika dia tidak mengenal dengan nama yang disebutkan oleh resepsionis.
“Baiklah, aku akan turun,” kata Sandra kemudian.
Dia merasa tak sopan jika mengabaikan, hingga memilih turun ke lobi dan melihat siapa yang mencarinya.
Anisa datang ke perusahaan Sandra setelah mendapatkan informasi dari salah satu orang kepercayaannya. Tentunya kedatangannya ke sana karena ada maksud yang akan disampaikan ke Sandra.
Anisa duduk di ruang tunggu yang terdapat di lobi, sesekali melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan seolah waktunya sangat berharga untuk disia-siakan.
__ADS_1
Sandra baru saja keluar dari lift lantas berjalan menuju ruang tunggu, hingga melihat wanita berumur lima puluh tahunan duduk dengan elegan, tapi tatapannya tidak fokus ke satu arah dan terlihat sedang mengeksplor sekitar.
“Maaf, apa Anda mencari saya?” tanya Sandra sopan begitu sampai di tempat Anisa menunggu.
Anisa langsung menatap Sandra begitu mendengar suara wanita itu. Dia kemudian berdiri dan memperhatikan penampilan Sandra dari ujung kaki hingga kepala, melihat kalau wanita yang disukai putranya ternyata benar jika wanita biasa.
“Kamu Sandra?” tanya Anisa menatap tak suka.
Sandra tersenyum ramah sambil menganggukkan kepala.
“Apa Anda ada keperluan dengan saya?” tanya Sandra balik dengan sopan.
“Kamu masih tanya apa ada keperluan denganmu? Apa kamu ini sok sibuk?” Anisa bicara dengan nada ketus.
Sandra sangat terkejut dengan ucapan Anisa, tapi masih bersikap biasa saja.
“Maaf, saya tidak bermaksud seperti itu.” Sandra tetap bersikap sopan, bahkan mengangguk kecil sebagai permohonan maaf jika memang menyinggung.
“Aku tidak akan berbasa-basi, aku ingin kamu meninggalkan Farzan!” titak Anisa langsung ke inti maksud kedatangannya ke sana.
Sandra sangat terkejut dengan ucapan Anisa, kini dia tahu siapa wanita yang sedang berdiri di hadapannya sekarang.
__ADS_1
“Kenapa kamu diam? Kamu tidak mau meninggalkannya? Kamu pikir aku akan merestui hubunganmu dengan putraku satu-satunya!” ketus Anisa dengan lirikan seolah tak menyukai sama sekali wanita itu.
Sandra menghela napas pelan, masih bisa mengulas senyum, meski rasanya sakit saat mendengar ucapan Anisa. Semua ketakutannya sebelum menjalin hubungan dengan Farzan terbukti, benar jika orangtua pria itu tak mungkin setuju dengan hubungan Farzan dan dirinya.
“Bukan saya tak mau meninggalkannya, tapi saya tak yakin jika Farzan mau meninggalkan saya,” ucap Sandra dengan suara lembut, sedikit menunduk untuk merendah terhadap orang yang lebih tua.
“Sombong sekali kamu! Kamu pikir Farzan tidak bisa meninggalkanmu, begitu? Apa hebatnya kamu? Hanya janda anak satu yang pernah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain, hampir merusak rumah tangga orang lain. Apa sekarang targetmu itu pria seperti putraku? Seorang duda yang baru saja berpisah dengan istrinya?”
Anisa terus memojokkan Sandra, mencoba mempengaruhi pikiran wanita itu agar menjauhi putranya. Anisa mendapatkan informasi jika Sandra pernah dekat dengan Gilang dan digosipkan jika mereka menjalin hubungan, hingga rumah tangga Gilang dan Liana berantakan. Padahal kenyataannya Lianalah yang berselingkuh, hingga membuat Gilang pergi dari rumah karena putranya salah paham kepadanya.
“Kamu tidak pantas bersama putraku dan takkan pernah pantas bersanding dengannya, jadi jangan bermimpi!” hardik Anisa.
Sandra memejamkan sekilas saat dituduh sebagai orang ketiga, tuduhan itu bukan pertama kalinya didengar, sehingga Sandra pun tidak terkejut dan sudah terbiasa dengan tuduhan itu.
“Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus meninggalkan Farzan atau aku akan membuat perhitungan denganmu! Jauhi dia karena kamu tidak layak untuknya!” Anisa terlihat begitu emosi, bahkan bicara sambil menunjuk wajah Sandra.
Sandra hanya diam saat Anisa menghujaninya dengan kata tuduhan dan juga makian. Bukannya tak bisa membalas atau melawan, dia hanya menghormati wanita yang lebih tua darinya itu.
Anisa langsung pergi setelah memperingatkan Sandra, meninggalkan kekasih putranya itu bergeming sendirian di sana.
Sandra memejamkan mata sekilas, menarik napas panjang dan menghela perlahan untuk mengatur emosinya. Bukankah dia sudah terbiasa menahan emosi, baginya tak sulit melakukan hal itu, meski jauh di lubuk hatinya merasa sakit karena diminta meninggalkan pria yang awalnya terus mengejar dirinya, hingga pada akhirnya membuatnya bisa jatuh cinta.
__ADS_1