
Sandra pergi ke kamar bersama Farzan karena ingin mandi terlebih dahulu. Sandra hendak menurunkan resleting dress yang dikenakan, tapi tampaknya sedikit kesusahan.
“Zan, bisa tolong aku.” Sandra memanggil suaminya yang berada di luar kamar mandi.
Farzan masuk ke kamar mandi, hingga melihat sang istri yang kesusahan menurunkan resleting.
“Sepertinya ini nyangkut,” kata Farzan yang sudah mengambil alih untuk menurunkan resleting gaun sang istri.
Sandra menunggu sang suami selesai menurunkan, hingga akhirnya terasa longgar karena Farzan sudah bisa menurunkan resleting gaunnya.
“Terima kasih,” ucap Sandra akhirnya bisa melepas gaunnya.
Namun, bukannya membalas ucapan Sandra, Farzan malah memeluk dari belakang. Kini kedua tangan pria itu sudah berada di permukaan perut Sandra.
Sandra terkejut dengan yang dilakukan Farzan, tapi tentunya tidak bisa menolak dan membiarkan.
“Apa dia baik-baik saja di dalam?” tanya Farzan sambil meletakkan dagu di pundak Sandra, kemudian mata melirik ke bagian perut yang sudah membuncit tapi tidak terlalu besar.
“Tentu saja dia baik, kita menjaganya dengan baik,” jawab Sandra. Kemudian menyentuh tangan Farzan yang berada di atas permukaan perutnya.
__ADS_1
Farzan tersenyum, kemudian mencium pipi Sandra. Saat masih trimester pertama, Farzan sama sekali tidak pernah bercinta dengan istrinya karena takut membahayakan janin yang ada di rahim. Sandra yang hamil di usia tidak muda lagi, membuat dokter meminta agar Farzan dan Sandra tidak melakukan hubungan suami istri dulu di trimester pertama, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.
“Ada apa?” tanya Sandra karena suaminya begitu manja.
“Apa sekarang sudah boleh?” tanya Farzan balik memberikan kode.
Tentu saja dirinya ingin menjenguk calon bayi mereka yang ada di rahim sang istri.
Sandra tertawa kecil, kemudian bergerak sedikit memutar badan, hingga kini saling berhadapan dengan Farzan.
“Sudah kangen, hm?” Sandra tampaknya tahu maksud suaminya.
Sandra mengangguk tanda mengizinkan jika memang Farzan ingin meminta jatah, membuat pria itu begitu senang dan tidak menyiakan kesempatan.
Farzan menyentuhkan bibir mereka, memagut lembut dan satu tangan menyentuh perut Sandra yang sudah mulai besar. Sandra memejamkan kelopak mata saat bibir mereka saling bertautan. Merasakan napas hangat yang kini juga menerpa wajah.
Keduanya larut dalam kubangan gairah, hingga Farzan memilih mengangkat tubuh Sandra, lantas mengajak ke ranjang karena takut sang istri tidak nyaman jika melakukannya di kamar mandi. Dia merebahkan tubuh Sandra perlahan, sebelum kemudian mengukung tubuh sang istri yang setengah polos, sambil menautkan bibir mereka kembali.
Keduanya akhirnya melakukan penyatuan. Farzan mendorong dengan ritme yang teratur dan konstan. Dia tidak ingin membuat Sandra tidak nyaman, atau merasa sakit jika dirinya membuat dorongan terlalu keras.
__ADS_1
Sandra sendiri hanya memejamkan mata, mengikuti gerakan suaminya dengan sesekali meremas bantal atau sprei yang teraih tangan. Meski sang suami sudah melakukannya dengan hati-hati, tetap saja di dalam sana terasa sesak dan penuh.
Keduanya pun mengarungi samudera cinta dalam satu bahtera. Suara napas yang memburu mulai terdengar bersahutan satu sama lain, bak simfoni yang mengiringi kegiatan mereka. Peluh mulai bermanik di kening dan wajah.
Setelah beberapa saat, kegiatan mereka pun siap berakhir di saat tubuh menegang bersamaan dengan gelombang tinggi yang datang menggulung mereka. Farzan mencengkram erat sprei saat tubuhnya mengetat dan cairan hangat mulai membasahi lembah milik istrinya.
Napas Sandra tersengal saat merasakan dorongan keras hingga di dalam sana terasa penuh. Dia merasakan cairan hangat mengalir dari dalam sana hingga sedikit membasahi paha.
Farzan tersenyum, kemudian mengecup kening dan kedua kelopak mata Sandra secara bergantian penuh kasih sayang.
“Kali ini aku harus benar-benar mandi,” ucap Sandra sambil bersiap bangun.
Tubuhnya memang lelah bekerja, tapi menyenangkan suami tetap lebih utama baginya.
“Biar aku bantu,” kata Farzan, kembali meraup tubuh polos istrinya dalam gendongan.
Sandra cukup terkejut, jangan sampai ada ronde kedua di kamar mandi.
“Jangan minta lagi,” seloroh Sandra.
__ADS_1
Farzan tertawa kecil, kemudian membalas, “Nggak, palingan nyolek sedikit.”