Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Kembali bekerja


__ADS_3

Malam terlihat begitu indah dengan taburan bintang yang menghias langit malam, deburan ombak terdengar sesekali memecah pantai.


Sandra dan Farzan duduk di balkon yang terdapat di belakang kamar, memesan pelayanan khusus untuk makan malam mereka. Keduanya sudah duduk berhadapan, meja bundar dengan aneka hidangan laut sudah tersaji di sana.


“Bagaimana makanannya?” tanya Farzan saat keduanya mulai menikmati.


“Sangat enak,” jawab Sandra dengan senyum merekah.


Farzan tersenyum melihat Sandra yang begitu bahagia, bersama wanita itu kebahagiaan Farzan juga kembali setelah lama terpuruk dalam kubangan hubungan yang tidak sehat.


Setelah makan malam, mereka menghabiskan waktu berdua dengan cara duduk di kursi yang terdapat di balkon sambil menautkan jemari mereka. Sesekali Farzan mengecup punggung tangan Sandra, membuat wajah wanita itu sampai bersemu merah.


“San, apa perlu kita pindah rumah?” tanya Farzan di sela keromantisan suasana yang tercipta malam itu.


Sandra menoleh, memandang Farzan yang sudah memulas senyum dan menatap dirinya.


“Kenapa?” tanya Sandra balik.


Farzan menepuk-nepuk punggung tangan Sandra dengan lembut, kemudian menjawab, “Hanya tanya, siapa tahu kamu berpikir demikian. Aku hanya berpikir kita cari rumah yang sedikit besar, hingga cukup untuk kita, Cheryl, dan mungkin ….” Farzan menjeda apa yang ingin diucapkan, takut Sandra terlalu memikirkan apa yang dikatakannya.


Sandra terus menatap Farzan, melihat jika pria itu sebenarnya juga masih berharap memiliki bayi darinya. Namun, hal itu tidak lantas membuat Sandra marah dan terbebani. Dia pun sudah pasrah, andaikata diberi maka dia akan sangat bersyukur, jika belum pun maka dirinya akan lebih bersabar.


“Mungkin Chila akan memiliki adik?” Sandra pun melanjutkan ucapan Farzan.


Farzan hendak mengangguk, tapi ragu kalau Sandra mengucapkan itu hanya karena tertekan.

__ADS_1


Sandra menyandarkan kepala di lengan Farzan, membuat pria itu terus memandang.


“Aku tahu kamu menginginkan anakmu sendiri, aku tidak melarang, Zan. Hanya saja tidak yakin apakah masih bisa, kamu ingat jika aku sudah membicarakan ini, ‘kan? Aku harap kamu tidak banyak berharap dan serahkan semua ke Yang Maha Kuasa,” ujar Sandra mencoba memberi pengertian.


Farzan jadi merasa bersalah mendengar ucapan Sandra karena pembahasan rumah. Dia tidak bermaksud menagih atau meminta serta memaksa, hanya saja berharap jika memang Tuhan masih berbaik hati kepadanya.


Farzan mengapit dagu Sandra, lantas mendongakkan wajah wanita itu ke arahnya.


Kedua mata mereka saling tatap, seolah sedang menyelami isi hati masing-masing.


“Jangan dijadikan beban, maaf jika aku salah bicara,” ucap Farzan.


“Tidak apa-apa, kamu tidak perlu minta maaf,” balas Sandra.


Farzan tersenyum, hingga kemudian memagut bibir Sandra begitu dalam, menyesap dan merasakan manis bibir ranum itu.


**


Setelah homeschooling dalam jangka waktu yang lama, akhirnya Chila sudah diperbolehkan masuk sekolah lagi oleh Sandra dan Gilang. Gilang sendiri akan terus memastikan Chila aman, dengan cara meminta salah satu anak buahnya untuk berjaga di luar sekolah sampai Chila pulang.


“Chila belajar yang benar,” kata Sandra saat putrinya akan kembali sekolah.


Sandra memutuskan untuk membiarkan Chila kembali ke sekolah, setelah dirinya dan Farzan usai liburan, serta mulai kembali bekerja.


Chila mengangguk-angguk mendengar perkataan Sandra, kemudian menarik tangan Sandra dan meminta wanita itu sedikit menunduk.

__ADS_1


Sandra pun mengikuti apa yang diminta Chila, hingga sebuah kecupan mendarat di pipi.


Bukan hanya Sandra, tapi Farzan juga mendapatkan sebuah kecupan dari Chila.


“Da, Mama, Papa.” Chila melambaikan tangan, lantas masuk ke gedung di mana sang guru sudah menyambut dirinya.


Farzan dan Sandra menatap ke arah Chila, Farzan merangkul pundak Sandra dan merapatkan ke tubuhnya.


“Ayo bekerja,” ajak Farzan dan langsung mendapat sebuah anggukan dari Sandra.


**


Mobil Farzan sudah sampai di depan lobi perusahaan tempat Sandra bekerja. Sandra pun bergegas melepas seat belt, siap bekerja setelah satu minggu mendapatkan izin cuti.


“Nanti siang aku akan menjemput Chila,” kata Farzan sebelum Sandra keluar. “Nanti kita makan siang sekalian, aku akan menjemputmu,” imbuhnya.


Sandra menoleh, lantas menganggukkan kepala.


“Aku ngikut saja,” kata Sandra.


Sandra bersiap membuka pintu mobil, hingga Farzan mencegah tangan Sandra, membuat wanita itu menoleh kepadanya.


“Jangan terlalu lelah,” ucap Farzan sambil meraih kepala Sandra, lantas mendaratkan sebuah kecupan di kening.


Sandra mengulum bibir mendapatkan perlakuan manis dari Farzan, pria itu benar-benar memperlakukannya begitu baik.

__ADS_1


“Aku akan menuruti ucapanmu,” kata Sandra, lantas pamit keluar dari mobil.


__ADS_2