
Farzan dan Gilang menunggu di depan ruang operasi. Dirinya belum menghubungi Anisa dan Harun karena tidak ingin membuat mereka cemas. Dia duduk sambil menatap pintu besar di mana sang istri berada di dalam sedang berjuang melahirkan bayi mereka. Meski melahirkan dengan cara operasi, tetap saja hal itu membuat Farzan tidak tenang. Gilang sendiri hanya bisa membantu doa, dengan sesekali menepuk pundak Farzan seolah sedang menyalurkan kekuatan dan kesabaran ke pria itu.
Setelah satu jam lebih, akhirnya perawat keluar dari ruang operasi. Farzan dan Gilang pun langsung berdiri dan menghampiri perawat.
“Bagaimana, Sus?” tanya Farzan dengan air muka panik dan cemas.
“Operasinya berjalan lancar, bayinya laki-laki sehat. Ibunya pun baik meski tekanan darahnya masih belum normal.”
Farzan langsung mengusap wajah dengan kedua telapak tangan sebagai rasa syukur karena semua berjalan dengan baik. Gilang terlihat begitu lega dan bahagia, ditepuknya pundak Farzan beberapa kali.
“Terima kasih ya Tuhan.” Terlihat jelas raut kebahagiaan dan kelegaan di wajah pria itu.
“Kami akan memindah ibunya ke ruang inap, sedangkan bayinya akan kami observasi terlebih dahulu,” ucap perawat lagi kemudian kembali masuk.
Tidak ada yang lebih membahagiakan selain hari ini. Farzan beribu-ribu mengucap rasa syukur atas pemberian Tuhan yang tiada tara.
Sandra akhirnya dipindah di ruang rawat inap, dirinya tidak dibius total sehingga masih bisa tersenyum saat melihat suaminya yang begitu mencemaskan dirinya.
__ADS_1
“Terima kasih karena sudah membawa Sandra ke rumah sakit,” ucap Farzan karena tadi tidak sempat mengucapkannya karena panik.
“Sama-sama, bagaimanapun Sandra juga menjadi tanggung jawabku. Jika kamu sedang tidak ada, maka aku yang akan menjaganya,” balas Gilang dengan senyum merekah.
Farzan mengangguk-angguk paham, sebelum kemudian fokus ke Sandra yang masih terbaring lemah.
“Di mana bayi kita?” tanya Sandra dengan suara masih lemah.
“Sedang diobservasi karena lahir secara tindakan,” jawab Farzan. Dia mengusap kening Sandra, sebelum kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kening.
Sandra mengangguk, rasanya begitu lelah karena mengalami kontraksi yang luar biasa dan harus berakhir di ruang operasi.
Anisa sedang berada di rumah seperti biasa. Wanita itu tengah melihat-lihat pakaian bayi yang baru saja dibelinya untuk calon cucunya.
“Sandra pasti suka,” gumam Anisa dengan senyum merekah di wajah.
Saat dirinya melipat satu persatu pakaian bayi itu, ponselnya berdering dan nama Farzan terpampang di layar. Anisa pun buru-buru menjawab panggilan itu.
__ADS_1
“Halo, Zan.”
“Ma, apa Mama nanti bisa menjemput Chila?” tanya Farzan dari seberan panggilan.
“Tentu bisa,” jawab Anisa santai. “Apa ada masalah?” tanya Anisa karena merasa aneh Farzan bertanya demikian.
“Tidak ada masalah, Ma,” jawab Farzan, “hanya saja pagi ini Sandra melahirkan dan aku menunggunya di rumah sakit,” imbuhnya.
“Apa?” Anisa terkejut karena begitu bahagia. Dia sampai berdiri dan salah tingkah.
“Apa Sandra baik-baik saja? Apa bayinya baik-baik saja?” tanya Anisa yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
“Keduanya baik dan sehat, Ma. Sandra sudah berada di kamar inap, sedangkan bayi kami masih di ruang perawatan bayi,” jawab Farzan dari seberang panggilan.
Anisa benar-benar bahagia, bahkan bola matanya kini berkaca dan pelupuk mata penuh dengan buliran kristal bening yang membendung di sana.
“Mama akan ke sana setelah menjemput Chila. Ya Tuhan, Mama nggak menyangka kalau akan memiliki cucu.” Suara Anisa bergetar, tampaknya terlalu bahagia dan kini sedang menahan tangis.
__ADS_1
Di rumah sakit, Farzan tersenyum mendengar suara Anisa yang tertahan karena ingin menangis. Dia mengakhiri panggilan itu kemudian menoleh Sandra yang masih beristirahat pasca melahirkan.
“Kamu memang membawa kebahagiaan, San.”