Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Bertemu Gilang


__ADS_3

Sebuah hubungan yang didasari dengan rasa suka, pada akhirnya harus mampu menghadapi semua masalah dan badai bersama. Saling menguatkan agar bisa melalui semuanya bersama.


Farzan mengantar Sandra ke rumah Gilang. Keduanya kini sudah berada di rumah tempat Chila tinggal sementara.


“Kamu tunggu di sini dulu, aku akan masuk melihat Chila,” ucap Sandra meminta Farzan menunggu di kursi yang terdapat di teras.


Farzan hanya mengangguk, kemudian duduk di kursi yang ada di sana, sementara Sandra masuk rumah Gilang.


“Kamu datang.” Liana langsung menyambut Sandra. Wanita itu sedang menyiapkan sarapan.


“Chila di mana?” tanya Sandra.


“Ada di kamarnya, mungkin baru mandi,” jawab Liana sambil menunjuk dengan dagu.


Sandra mengangguk lantas berjalan menuju kamar yang ditempati Chila, hingga berpapasan dengan Gilang.


“Bisa bicara sebentar?” tanya Gilang.


Sandra agak kikuk saat Gilang ingin bicara, berpikir jika mungkin saja pria itu ingin membahas tentang Farzan.


“Ya,” jawab Sandra yang tak mungkin menolak.


Mereka pun pergi ke ruang kerja Gilang untuk bicara.


“San, kamu dan pria bernama Farzan itu, apa kalian sedang menjalin hubungan serius?” tanya Gilang langsung karena dia bukan tipe pria yang suka berbelit-belit.


Sandra gelagapan mendengar pertanyaan Gilang, tak menyangka jika pria itu akan langsung bertanya.


“Ya,” jawab Sandra yang tak mungkin menutup-nutupi, karena paham jika pria itu pasti sudah menyelidik.


Gilang memandang Sandra setelah menjawab pertanyaan darinya, semua kecurigaannya benar tapi kenapa Sandra memilih menutupi hal itu darinya.


“Apa dia pria yang menurutmu baik?” tanya Gilang lagi.


“Ya, selain dia perhatian kepadaku, pada dasarnya semua perhatian itu sebenarnya lebih besar ditujukan ke Chila. Hal itulah yang membuatku mempertimbangkan untuk menerimanya. Chila butuh seorang ayah, semenjak bertemu dan berinteraksi dengan Farzan, Chila seperti lebih bersemangat, banyak perubahan dalam hidup Chila, termasuk sekarang mau berinteraksi dengan teman-temannya,” ujar Sandra menjawab pertanyaan Gilang.


Gilang mendesau pelan, kemudian tampak berpikir dengan keras, sebelum kemudian memandang Sandra.


“Aku tidak melarang dirimu berhubungan dengan siapapun, hanya saja aku ingin kamu lebih waspada dan hati-hati. Kamu pasti paham kenapa aku harus bertanya seperti ini, semua ini semata-mata karena amanat mendiang suamimu. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua, sebab itu aku terkadang tidak mudah percaya dengan siapa yang dekat denganmu, terutama pria,” ujar Gilang menjelaskan agar Sandra tak salah paham terhadapnya.


“Aku paham,” balas Sandra. “Selama ini Anda pun selalu menjaga aku dan Chila dengan baik. Bahkan Anda memperlakukan kami di luar batas seharusnya. Aku akan mengingat pesan Anda untuk waspada, tapi aku memang memiliki penilaian lain tentangnya.”

__ADS_1


Gilang mengangguk paham, kemudian menghela napas kasar.


“Baiklah, yang terpenting jika ada sesuatu, kamu harus memberitahuku,” ujar Gilang.


Sandra mengangguk, hingga kemudian ingat akan kejadian semalam.


“Pak, semalam pria itu mendatangiku di rumah,” kata Sandra karena perlu memberitahukan agar Gilang segera bisa membantu dirinya.


“Pria itu?” Gilang mengerutkan dahi karena belum paham siapa yang dimaksud Sandra.


“Pria yang mengirimiku pesan ancaman, semalam dia datang dan ingin membunuhku,” ujar Sandra menjelaskan.


“Apa?” Gilang sangat terkejut mendengar ucapan Sandra. “Bagaimana bisa? Kamu tidak terluka?” tanya Gilang panik.


Sandra menggelengkan kepala, kemudian bercerita jika Farzan datang dan menolongnya, bahkan karena dirinya pria itu akhirnya terluka.


**


Chila tampak keluar dari kamar. Gadis kecil itu berjalan menuju pintu utama untuk keluar.


“Chila mau ke mana?” tanya Liana saat melihat gadis kecil itu berjalan menuju pintu.


Chila hanya menunjuk keluar tanpa menjawab, terus melangkah karena ingin segera bertemu Farzan. Dia ternyata mengirim pesan ke Farzan, bertanya apakah pria itu akan datang ke rumah Gilang, hingga begitu senang saat mendapat balasan jika Farzan ada di depan.


“Om.” Chila langsung memanggil saat sudah di ambang pintu dan melihat Farzan.


Farzan menoleh dan tersenyum melihat Chila, hingga berdiri untuk menyambut gadis kecil itu. Chila berjalan mendekat, ada senyum kecil di wajah Chila.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Farzan meski mereka baru tidak bertemu sehari.


Chila mengangguk-angguk kecil untuk menjawab pertanyaan Farzan, hingga ekor mata melihat tangan kanan Farzan yang diperban.


“Tangan Om kenapa?” tanya Chila masih memandang telapak tangan Farzan.


“Oh ….” Farzan memandang telapak tangan. “Tidak apa-apa, hanya tergores kaca,” jawab Farzan yang tentunya berbohong karena tidak ingin Chila cemas.


Saat keduanya sedang berbincang, Liana keluar dan melihat Farzan. Wanita itu cukup terkejut melihat ada yang bisa akrab bicara dengan Chila.


“Chila, ini siapa?” tanya Liana sambil memandang Farzan.


Farzan dan Chila langsung memandang Liana, kemudian pria itu mengulas senyum dan sedikit membungkukan badan untuk memberi hormat.

__ADS_1


“Pagi, saya Farzan,” sapa pria itu.


Liana terkejut mendengar nama Farzan, tentunya dia sudah tahu siapa pria itu dari cerita sang suami. Liana tersenyum canggung hingga bingung harus bagaimana, apalagi saat tahu jika ternyata Farzan lebih muda dari Sandra.


“Kenapa di luar? Tadi datang bersama Sandra?” tanya Liana kemudian.


“Ya,” jawab Farzan. “Tadi Sandra masuk dulu, jadi saya menunggu di luar,” ujar Farzan menjelaskan.


Liana mengangguk paham, kemudian meminta Farzan masuk saja bersama Chila karena merasa tak sopan jika ada tamu tapi hanya diminta menunggu di depan.


Saat bersamaan, Sandra dan Gilang juga baru saja keluar dari ruang kerja. Gilang melihat Liana yang sedang mempersilakan Farzan duduk.


“Kamu datang bersamanya?” tanya Gilang sambil menoleh Sandra yang berdiri di sampingnya.


“Ya, tadi pagi Chila mengirimkan pesan jika ingin bertemu dengannya, jadi aku ajak dia untuk datang,” jawab Sandra. Namun, Sandra masih menutupi jika tinggal bersama Farzan, karena tahu jika Gilang pasti tidak akan setuju.


Sandra pun memilih berjalan menghampiri Farzan dan Chila, sedangkan Gilang masih berdiri mengamati dari tempatnya berdiri.


“Kalian sudah sarapan? Bagaimana jika sarapan sekalian?” tanya Liana. Dia melirik sang suami yang masih berdiri, yakin jika suaminya pasti masih merasa curiga dengan Farzan.


“Kami sudah sarapan sebelum datang ke sini, jadi tidak perlu repot-repot,” jawab Sandra.


“Baiklah, kalau begitu secangkir kopi saja,” balas Liana kemudian meninggalkan Sandra dan yang lainnya menuju dapur.


Gilang akhirnya berjalan mendekat, kemudian bergabung bersama Sandra dan yang lain.


“Zan, ini Pak Gilang.” Sandra akhirnya memperkenalkan Farzan ke Gilang.


Farzan mengangguk sambil mengulas senyum, kemudian berdiri untuk menyapa pria itu.


“Halo, Pak. Saya Farzan,” ucap Farzan memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan kanan yang berbalut perban.


“Gilang,” balas pria itu menjabat tangan Farzan. Namun, Gilang tak terlalu menyentuh karena telapak tangan Farzan sedang terluka. Kini percaya jika cerita Sandra tentang Farzan yang menolong adalah benar adanya.


Farzan tersenyum canggung, merasa atmosphere di ruangan itu jadi berubah. Sandra berdeham, merasa jika Gilang bersikap terlalu dingin terhadap Farzan.


“Papa Gilang, ini Om Farzan yang Chila ceritakan.”


Suara Chila memecah keheningan, membuat Gilang yang sejak tadi memasang wajah dingin, kini menunjukkan senyum hangatnya untuk gadis kecil itu.


”Ya, Papa Gilang sudah tahu,” balas Gilang.

__ADS_1


“Papa Gilang jangan jahat ke Om Farzan, nanti Chila marah,” ucap Chila dengan suara lirih, tapi terkesan penuh penekanan.


Semua orang tertegun mendengar ucapan Chila, baru kali ini gadis kecil itu mengucapkan kata ancaman serta banyak bicara.


__ADS_2