
Di sebuah pemukiman yang biasa dijadikan tempat kos pekerja pabrik atau karyawan perusahaan lain. Terlihat sebuah mobil suv hitam berhenti di seberang jalan sebuah kos berlantai dua.
Ada dua pria di mobil dan kini sedang mengawasi rumah kos itu.
“Apa benar ini tempatnya tinggal?” tanya salah satu pria.
“Ya,” jawab pria satunya. “Informasi yang aku dapatkan memang benar di sini.”
“Kita pantau sampai melihatnya sendiri?” tanya pria berkemeja merah dengan motif kotak-kotak kecil.
“Ya, begitu melihatnya, kita langsung bekuk dia,” jawab pria satunya berkemeja biru tua dengan ujung lengan dilipat hingga sebatas siku.
Kedua pria itu terus mengawasi hingga hampir berjam-jam di sana. Sampai mereka melihat mobil sedan hitam masuk gerbang sebelum kemudian berhenti di halaman rumah kos itu. Mereka mengawasi hingga melihat target yang mereka cari turun dari mobil sedan tadi.
“Itu dia.”
Kedua pria itu memilih turun dari mobil, mereka berjalan cepat untuk menghampiri pria yang dipantaunya sejak tadi.
“Kamu ikut kami!” Pria berkemeja merah memegang pundak seorang pria yang tak lain adalah Herman.
Herman yang baru saja melangkah untuk masuk ke kos tempatnya tinggal saat ini, sangat terkejut ketika ada yang memegang pundak dan memintanya ikut.
__ADS_1
“Siapa kalian dan mau apa?” Herman menggerakkan pundak sedikit kencang agar tangan pria yang memegangnya terlepas, tapi ternyata tidak berhasil karena pria itu mencengkram pundak begitu kuat.
“Ikut saja dan jangan membangkang!” perintah pria yang memegang pundak Herman.
Pria berkemeja biru hendak membekuk tangan Herman, tapi targetnya itu melawan dengan cara menepis tangan yang berada di pundak, sebelum kemudian mendorong pria berkemeja merah.
Herman lantas memukul pria satunya, sebelum kemudian berlari ke mobil saat kedua pria tadi lengah.
“Sial! Siapa mereka?” Herman menggerutu dalam hati, kemudian masuk mobil dan segera menyalakan mesin untuk kabur.
Dua pria tadi begitu terkejut karena Herman kabur, mereka berusaha mengejar tapi mobil Herman sudah keluar gerbang dan melesat meninggalkan rumah kos itu.
Kedua pria itu pun berlari ke mobil mereka, lantas memacu mobil untuk mengejar Herman.
“Halo, Pak. Kami sudah menemukan dia, tapi saat akan kami bawa, dia memberontak dan kabur. Sekarang kami sedang mengejar mobilnya.” Pria berkemeja biru bicara dengan seseorang dari seberang panggilan.
“Tangkap dia sampai dapat, jangan biarkan dia lolos.” Suara Gilang terdengar dari seberang panggilan.
Ternyata dua pria itu adalah orang suruhan Gilang. Gilang sendiri takkan diam saja dan membiarkan Herman mengancam nyawa Sandra. Meski polisi juga sedang mencari, tapi Gilang akan lebih puas jika bisa menangkap sendiri kemudian memberi pelajaran sebelum menyerahkan ke kantor polisi.
“Baik, kami mengerti.”
__ADS_1
Panggilan itu berakhir, kedua pria itu fokus mengejar mobil Herman.
Herman memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan sampai menekan klakson berulang saat ada mobil lain menghalangi jalannya.
“Minggir, brengseek!” umpat Herman dengan wajah panik karena akan ditangkap.
Herman melihat dari kaca spion, mobil yang mengejarnya agak jauh berada di belakangnya.
“Kalian ingin menangkapku? Jangan harap bisa!”
Pria itu semakin memacu mobil dengan kecepatan tinggi, hingga meninggalkan mobil suv yang sedang mengejarnya.
Di dalam mobil suv, dua anak buah Gilang mengumpat kesal karena kehilangan pandangan pada mobil Herman. Terlebih karena lalu lintas yang tiba-tiba ramai saat mereka sampai di persimpangan.
“Agh! Sial!” umpat pria berkemeja merah sambil memukul stir.
Mobil mereka terjebak di lampu lalu lintas, sedangkan mobil Herman sudah melesat entah ke mana.
“Pak Gilang pasti kecewa,” gumam pria satunya.
“Sial! Lain kali kita bawa borgol dan langsung ringkus saja dia. Kenapa kita bodoh?” Pria itu mengumpat sendiri karena kesal.
__ADS_1