Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Mundur dari kepala desainer


__ADS_3

“Saya ingin mengundurkan diri sebagai kepala desainer, Pak.”


Gilang begitu terkejut mendengar ucapan Sandra.


“Kenapa?” tanya Gilang tidak percaya dengan keinginan wanita yang sudah dijaganya selama bertahun-tahun itu. “Apa Farzan yang melarang?” tanya Gilang dengan ekspresi wajah tidak senang.


Sandra sengaja menemui Gilang untuk membahas pekerjaannya. Dokter memintanya untuk tidak terlalu lelah dan banyak pekerjaan, mengingat jika dia hamil di usia lanjut dan kandungannya butuh perhatian khusus untuk menghindari suatu hal yang tidak diinginkan. Sebab itu Sandra memutuskan sendiri untuk mundur jadi kepala desainer yang sudah dijabatnya selama bertahun-tahun itu, demi menjaga kandungannya.


Sandra tertawa kecil mendengar tuduhan Gilang, hingga kemudian dia menjawab, “ Bukan karena Farzan, Pak. Tapi karena aku sedang hamil dan butuh perhatian khusus mengingat usiaku yang sudah tidak semuda dulu. Aku tidak ingin kerja terlalu banyak, demi menjaga kandunganku.”


Gilang terkejut mendengar Sandra hamil, tapi juga ikut senang mendengar kabar membahagiakan itu.


“Kamu hamil? Selamat,” ucap Gilang ikut senang.


“Terima kasih,” ucap Sandra sambil mengangguk kecil.


“Tapi kamu sudah yakin dengan keputusan ini?” tanya Gilang memastikan.


Sandra menjawab pertanyaan Gilang dengan sebuah anggukan, sebelum kemudian berkata, “Saya sangat yakin. Anda bisa menunjuk Joya sebagai kepala desainer menggantikanku, karena Anda tahu jika Joya memiliki kemampuan lebih dalam hal desain. Aku percaya dengan kemampuannya.”


Gilang mengangguk-angguk paham. Meski Sandra merekomendasikan Joya, tapi tak serta merta membuat Gilang langsung memilih menantunya sebagai pengganti Sandra meski tahu kemampuan Joya. Dia hanya tidak ingin dianggap nepotisme, hingga memilih untuk mendiskusikannya dengan jajaran direksi.

__ADS_1


**


Sandra kembali ke perusahaan setelah bertemu Gilang dan menyampaikan maksudnya. Dia memang belum membicarakan itu dengan Farzan, tapi yakin jika suaminya pasti juga akan mendukung dirinya.


Sandra masuk ke ruang divisinya, memandang ke arah staff yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun ini. Entah kenapa keputusannya mundur menjadi kepala desainer, membuatnya merasa bersalah ke timnya itu. Dia tahu jika proyek yang dikerjakan berkurang, maka bonus untuk timnya juga akan berkurang.


“Teman-teman, bisa bicara sebentar,” pinta Sandra.


Para staff pun berkumpul, mereka ada yang duduk dan ada yang berdiri, menatap Sandra yang tersenyum ke arah mereka.


“Sebelumnya, aku ingin minta maaf,” ucap Sandra sambil menatap satu persatu timnya itu.


“Kenapa Ibu minta maaf?” tanya asisten yang biasa menemani Sandra.


“Aku baru aja izin ke atasan jika akan mengundurkan diri sebagai kepala desainer,” ucap Sandra kemudian kembali menatap satu persatu timnya untuk melihat ekspresi wajah mereka.


Semua orang di sana terdiam, mungkin mereka terkejut mendengar keputusan Sandra.


“Ada alasan yang membuatku tidak bisa mengemban jabatan kepala desainer. Aku tahu mungkin kalian kecewa, tapi aku harap kalian mengerti dengan kondisi dan menerima keputusanku. Aku sendiri tidak memaksa kalian tinggal bersamaku, sadar jika setelah aku melepas jabatan ini, pekerjaan dan penghasilan kalian pasti akan berkurang. Namun, meski begitu aku tidak akan mencegah kalian jika ingin mengajukan pindah divisi atau pindah ke kepala desainer baru, sebab aku yakin dengan kemampuan kalian,” ujar Sandra panjang lebar.


Semua orang terdiam, hingga asisten Sandra bertanya, “Kenapa Anda ingin mundur?”

__ADS_1


Sandra tersenyum mendengar pertanyaan asistennya, sebelum kemudian menjawab, “Aku sedang hamil dan butuh perhatian khusus. Aku tidak bisa menanggung beban pekerjaan terlalu banyak.”


“Benarkah Anda hamil?” Asisten Sandra terkejut tapi juga ada gurat kebahagiaan di wajah.


Ekspresi wajah staff lain pun berubah dari kecewa hingga bahagia. Mereka tidak menyangka jika alasan Sandra mundur karena sedang hamil.


“Iya,” ucap Sandra menanggapi pertanyaan sang asisten.


“Ya Tuhan, selamat Bu.” Asisten Sandra langsung memeluk penuh kebahagiaan. “Saya tidak masalah Anda mundur, asal Anda masih di sini maka saya akan terus bersama Anda.”


“Terima kasih.” Ucapan asistennya membuat Sandra ingin menangis.


“Kita tidak akan pindah atau meninggalkan Ibu, bagi kami Anda adalah pimpinan yang luar biasa. Anda sabar membimbing kami dari nol, lalu bagaimana bisa kami mundur dan meninggalkan Anda hanya karena Anda melepas jabatan. Ah … Anda bercanda saat berkata memberi kami pilihan untuk pergi,” ujar salah satu staff dengan bola mata berkaca. Dia sudah ikut Sandra hampir tujuh tahun lamanya, selama ini Sandra sangat baik dan juga sabar membimbing dirinya, bagaimana bisa dia meninggalkan Sandra.


Gadis berambut pendek dengan kacamata bertengger di hidung itu mendekat, kemudian memeluk Sandra dan memberi selamat.


“Saya akan terus bersama Ibu, jadi jangan cemas, Bu. Masalah bonus tambahan, gaji pokokku sudah bisa dibilang sangat cukup untuk menopang kebutuhanku,” ucap gadis itu.


“Terima kasih,” ucap Sandra terharu.


Semua orang pun melakukan hal sama, mereka tidak ingin berpisah dari Sandra serta tidak peduli jika Sandra turun jabatan karena sedang hamil.

__ADS_1


Mereka memeluk Sandra satu persatu, hingga sebuah suara membuat semua orang menoleh ke pintu masuk divisi.


“Apa aku mengganggu?”


__ADS_2