
Sandra dan Farzan makan malam bersama keluarga. Di meja makan itu terasa aura kebahagiaan dan suasana yang begitu hangat.
“Makan yang banyak, biar kamu sehat, bayimu juga. Ingat, kamu perlu mempersiapkan fisik dan tenaga sejak sekaran,” ucap Anisa sambil menyodorkan piring sayur dan daging ke Sandra.
“Terima kasih, Ma.” Sandra benar-benar sungkan karena Anisa begitu baik dan perhatian kepadanya.
“Kenapa kamu banyak sekali mengucapkan terima kasih? Seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu mau menemani dan menerima Farzan apa adanya,” ucap Anisa dengan senyum begitu hangat dan penuh kasih sayang.
Sandra tersipu mendapatkan pujian dari Anisa, sedangkan Farzan kini bisa bernapas lega setelah tujuh tahun hidupnya berumah tangga selalu dirundung rasa gundah dan gulana.
“Chila juga makan yang banyak, biar cepat besar. Katanya besok mau jadi pelukis hebat,” ujar Anisa ke Chila sambil meletakkan lauk ke piring gadis kecil itu.
Chila mengangguk penuh semangat, kini gadis kecil itu mendapatkan kasih sayang tidak hanya dari ibunya, tapi juga ayah, serta kakek dan nenek barunya. Anisa sendiri tidak mengabaikan Chila, meski sudah memiliki harapan akan mendapatkan cucu kandung.
Mereka pun makan penuh kebahagiaan, sesekali membahas kandungan Sandra terkadang sesekali membahas tentang pekerjaan.
**
Tidak terasa kandungan Sandra sudah memasuki usia tiga puluh tujuh minggu. Sandra memilih izin cuti lebih awal karena tidak memungkinkan bekerja lagi. Dia sekarang mudah lelah, sehingga memutuskan cuti demi menjaga kondisi janinnya serta mempersiapkan persalinan yang mungkin akan segera dihadapinya.
“Kamu mau aku libur hari ini?” tanya Farzan karena melihat Sandra yang kurang sehat.
“Tidak usah, aku baik-baik saja. Nanti jika ada masalah, aku akan menghubungimu,” jawab Sandra dengan seulas senyum, meyakinkan sang suami jika dirinya akan baik-baik saja.
Farzan merasa cemas, tapi juga tidak bisa memaksa Sandra dan takut akan membuat istrinya tidak nyaman.
__ADS_1
“Ya sudah, kalau begitu aku ke kantor dulu. Ingat untuk menghubungiku jika memang ada masalah,” ucap Farzan lagi dengan sedikit raut kecemasan di wajah.
Sandra tersenyum lebar, kemudian mengangguk-anggukan kepala.
Farzan meraih belakang kepala Sandra, lantas mengecup kening Sandra penuh kasih sayang.
Mereka keluar kamar, melihat Chila yang sudah duduk di sofa dengan tas di sampingnya. Gadis berumur sebelas tahun itu melompat dari sofa, kemudian berjalan menghampiri Sandra.
“Chila berangkat dulu, Mama sama adik di rumah ya,” ucap Chila kemudian mengusap perut sang mama yang besar.
Chila memang senang saat mengetahui jika akan memiliki adik. Dia tidak keberatan dan tidak pernah merasa takut jika kasih sayang kedua orangtuanya saat ini akan terbagi.
“Iya Kakak,” balas Sandra sambil mengusap rambut Chila dengan lembut. “Kakak juga yang rajin sekolahnya,” ucap Sandra seolah bicara sebagai bayi yang ada di rahimnya.
Chila tersenyum lebar, lantas mencium perut sang mama, sebelum kemudian mengecup pipi Sandra.
Sandra mengantar sampai di pintu, satu tangan memegangi perutnya yang besar, sedangkan tangan satunya melambai ke arah mobil Farzan yang mulai meninggalkan halaman rumah. Chila melongok keluar dan melambai ke arah sang mama.
Sandra tersenyum, hatinya begitu bahagia mendapatkan keluarga yang sempurna. Tidak ada lagi beban yang membuat dirinya kalut atau sedih. Sebuah impian yang dulu sudah dikubur semenjak suaminya meninggal, kini akhirnya bisa terwujud bersama pria yang sangat mencintainya itu.
“Akh!” Sandra memekik saat merasakan kontraksi.
Sudah sejak subuh dirinya mengalami kontraksi palsu, sehingga Sandra menganggap itu hal wajar dan tidak terlalu menanggapinya. Dia sendiri tidak memberitahukan ke Farzan karena takut suaminya itu terlalu mencemaskan dirinya.
Setelah mencoba bernapas dengan cara mengambil napas dari hidung dan mengeluarkan dari mulut, akhirnya kontraksi itu pun menghilang. Sandra pun memilih melakukan aktivitas seperti biasa.
__ADS_1
Sandra mencuci piring setelah sebelumnya membereskan kamar tidur. Hingga dia mendengar suara ketukan pintu, membuat Sandra berhenti mencuci dan membersihkan tangan.
“Sebentar!” teriak Sandra agar tamu yang datang tahu jika dia ada di dalam.
Sandra berjalan ke arah pintu, tapi tiba-tiba merasakan kontraksi lagi. Dia meringis menahan sakit, tapi berusaha untuk tetap bersikap biasa. Sandra menarik napas dan membuang melalui mulut berulang kali, sebelum kemudian membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.
“Pak.” Sandra melihat Gilang berdiri di hadapannya.
“Aku pikir kamu tidak di rumah, karena lama membuka pintu,” kata Gilang. Pria itu datang sambil membawa paper bag di tangan.
Sandra mencoba tersenyum meski sedang merasa sakit. Dia pun mempersilakan Gilang masuk.
“Ada apa, San? Kenapa kamu terlihat kurang sehat?” tanya Gilang saat mengamati wajah Sandra. Dia melihat wajah wanita itu pucat dan terlihat sesekali meringis.
“Tidak, Pak. Aku baik-baik saja,” jawab Sandra kembali memaksakan senyum. “Anda mau minum apa?” tanya Sandra kemudian.
“Tidak usah repot-repot. Aku ke sini karena diminta Liana untuk mengantar makanan ini.” Gilang meletakkan paper bag ke meja.
Sandra mengangguk-angguk, wajahnya terlihat pucat dan dia meringis menahan sakit. Sandra memegangi perut yang mengalami kontraksi lagi.
“Akh!” Sandra kini tidak bisa menahan kontraksi itu.
“San! Ada apa?” tanya Gilang yang panik.
“Sepertinya aku mau melahirkan, Pak.” Sandra merasakan kontraksi itu semakin sering dan jaraknya pun dekat.
__ADS_1
“Kita ke rumah sakit sekarang, San. Aku akan menghubungi suamimu,” ucap Gilang mengajak Sandra ke mobil agar bisa segera ke rumah sakit.