Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Menjaga sepenuh hati


__ADS_3

Farzan terlihat berlarian di koridor rumah sakit. Dia mendapatkan panggilan dari Gilang jika Sandra mengalami kecelakaan, membuat pria itu bergegas datang ke rumah sakit yang disebutkan oleh Gilang.


Begitu sampai di UGD, Farzan melihat Gilang yang berdiri menatap ke salah satu pintu ruang pemeriksaan, wajah pria itu terlihat begitu cemas, membuat Farzan begitu takut terjadi sesuatu dengan Sandra.


“Pak.” Farzan langsung memanggil Gilang.


Gilang menoleh dan melihat Farzan yang sudah berada di sampingnya, hingga kemudian menghela napas kasar.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Farzan dengan raut wajah penuh kecemasan.


“Dokter sedang memeriksanya,” jawab Gilang sambil menunjuk ke ruang pemeriksaan.


Farzan merasa hatinya tak tenang sebelum mengetahui kondisi Sandra, membuatnya terus membuang napas karena merasa sesak di dada.


“Apa Sandra sendirian saat mengalami kecelakaan?” tanya Farzan sambil menoleh pria yang berdiri di sampingnya.


“Sekretarisnya menghubungiku, berkata jika Sandra mengalami kecelakaan. Makanya aku langsung ke sini,” kata Gilang.


Farzan terdiam dan berpikir. “Apa mungkin kecelakaan yang terjadi karena disengaja?”


“Aku tidak bisa memastikan. Coba nanti kita tanya Sandra secara langsung,” jawab Gilang.

__ADS_1


Setelah keduanya selesai membahas tentang kecelakaan yang terjadi, dokter keluar dari ruang pemeriksaan dan langsung menemui keduanya.


“Bagaimana kondisinya?” tanya Farzan yang mencemaskan kondisi Sandra.


“Tulang bagian bahunya sedikit bergeser, sementara pasien harus menggunakan penyangga agar tidak terlalu banyak bergerak yang bisa membuatnya tulangnya semakin bergeser. Pasien bisa langsung pulang dan tak perlu rawat inap, nanti saya akan menjadwalkan kapan waktunya kontrol.” Dokter itu pun menjelaskan panjang lebar.


Setelah bicara dengan dokter. Farzan masuk ke ruang pemeriksaan bersama Gilang, dua pria itu melihat Sandra yang berbaring dengan kelopak mata terpejam.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya Farzan begitu berdiri di samping ranjang pesakitan.


Sandra membuka mata karena memang tidak dalam kondisi tidur. Dia melihat Gilang dan Farzan yang tampak mencemaskan dirinya.


“Tanganmu terluka, bagaimana jika sementara waktu tinggal di rumahku?” tanya Gilang. Dia cemas jika sampai Sandra tinggal sendirian di rumah dalam kondisi sakit.


Sandra dan Farzan terkejut bersamaan, keduanya saling tatap sebelum kemudian memandang Gilang. Tentu saja baik Farzan dan Sandra sama-sama bingung, atau sebenarnya Sandra memikirkan perasaan Farzan jika dirinya tinggal bersama Gilang, sedangkan Farzan memikirkan bagaimana bisa memberi perhatian kepada Sandra.


“Tidak usah, aku masih bisa melakukan semuanya sendiri. Lagi pula kalau siang akan ada Bibi yang datang ke rumah, jadi Anda tidak perlu cemas,” ujar Sandra untuk menolak tawaran Gilang.


“Tapi tetap saja, kondisimu tidak memungkinkan untuk tinggal sendiri,” sanggah Gilang membalas penolakan Sandra.


“Aku akan menemaninya,” timpal Farzan.

__ADS_1


Tentu saja ucapan Farzan menciptakan pertanyaan di dalam benak Gilang.


“Maksudmu menemani?” tanya Gilang memastikan. Tentu dia takkan setuju jika Farzan tinggal bersama Sandra.


“Ah, maksudku ….” Farzan kelimpungan mendengar pertanyaan Gilang, hingga menatap sekilas ke Sandra sebelum kembali memandang Gilang.


“Aku akan menjaganya di siang hari, memastikan kebutuhannya tercukupi. Jika perlu aku akan meminta Bi Sum menemaninya di rumah,” ujar Farzan menjelaskan.


Gilang menaikkan satu sudut alis, hingga kemudian memandang Sandra yang sedang mengatupkan bibir.


“Apa kamu mau seperti itu?” tanya Gilang ke Sandra.


“Sebenarnya aku hanya nyaman tinggal di rumah saja jika sakit. Aku merasa tidak enak jika berada di rumah Anda,” jawab Sandra memberikan pengertian yang masuk akal.


Gilang mengangguk-anggukan kepala, hingga kemudian setuju jika Sandra memang mau tinggal di rumah saja.


Farzan mengurus surat kepulangan Sandra, hingga saat akan masuk ke ruang perawatan untuk membawa pulang kekasihnya itu, dia dihadang Gilang di depan pintu.


“Aku curiga jika kecelakaan yang terjadi karena ulah Herman, pria yang aku jebloskan ke penjara bertahun-tahun lalu. Aku saat ini sudah mengerahkan anak buahku untuk mencari keberadaan pria itu, selama anak buahku belum menemukan dan menangkapnya, aku harap kamu bisa menjaga Sandra dengan nyawamu sendiri,” ujar Gilang.


“Aku akan menjaganya sepenuh hati, bahkan jika harus mempertaruhkan nyawaku, aku tidak akan keberatan.”

__ADS_1


__ADS_2