
Sandra baru saja menghadiri rapat dengan beberapa desainer lain di perusahaan termasuk juga Joya. Mereka duduk hampir satu jam di sana dan Sandra melihat Joya mulai tidak nyaman duduk. Sampai akhirnya rapat pun selesai, semua staf dan desainer keluar dari ruangan.
“Joy, perutmu sudah sangat besar, kenapa belum ambil cuti?” tanya Sandra, kemudian membantu Joya berdiri.
“Aku sebenarnya bekerja di rumah. Tapi karena ada rapat jadi ke perusahaan,” jawab Joya yang sudah berdiri.
Sandra dan Joya pun berjalan bersama keluar dari ruang rapat.
“Ini sudah berapa bulan?” tanya Sandra sambil menyentuh permukaan perut Joya.
“Baru mau masuk tiga puluh tujuh minggu. Kalau perhitungan tidak salah, tiga minggu baru akan melahirkan,” jawab Joya.
Sandra mengangguk kemudian menekan tombol lift agar terbuka. Saat menunggu lift terbuka, Joya tiba-tiba merasakan mulas dan langsung memegangi perut.
“Joy, ada apa?” tanya Sandra saat melihat Joya meringis menahan sakit.
“Tidak tahu, perutku tiba-tiba mulas,” jawab Joya menahan sakit di perut.
“Apa kamu mau melahirkan?” Sandra melihat Joya yang berwajah pucat dan meringis menahan sakit.
__ADS_1
Sandra mengeluarkan ponsel dengan satu tangan membantu Joya berdiri, dia menghubungi Kenzo untuk memberitahukan kondisi istrinya.
Sandra menemani Kenzo mengantar Joya ke rumah sakit. Joya langsung masuk ruang persalinan karena ternyata sudah pembukaan tujuh.
“Kamu tenang saja, semuanya pasti baik-baik saja,” kata Sandra sambil memandang Kenzo yang cemas.
“Dia terlihat kesakitan.” Kenzo memandang Sandra yang berdiri di sampingnya.
“Wajar, Ken. Begitulah wanita saat akan melahirkan,” kata Sandra mencoba menenangkan.
Perawat keluar dan menyampaikan jika Joya tidak bisa melahirkan secara normal, serta memberikan pilihan kepada Kenzo apakah mau dioperasi caesar atau vakum. Kenzo sendiri hanya ingin istri dan bayi mereka selamat, hingga kemudian memilih caesar.
Lama Sandra dan Kenzo menunggu, hingga terdengar suara tangis bayi dari ruang operasi. Kenzo mengusap wajahnya sebagai tanda sebuah kelegaan karena bayinya sudah lahir, sedangkan Sandra ikut bahagia melihat putra dari pria yang selalu membantunya, kini mendapatkan kebahagiaan baru.
“Keluarga Nyonya Joya.”
Seorang perawat keluar dari ruang operasi dan mencari keberadaan anggota keluarga.
Kenzo dan Sandra langsung berdiri, kemudian menghampiri perawat.
__ADS_1
“Saya suaminya,” kata Kenzo.
“Selamat ya, Pak. Ibu dan bayinya sehat, kita akan memindahkan ibunya ke ruang perawatan, sedangkan bayinya akan diobservasi sementara sebab lahir dengan cara tindakan,” ujar perawat menjelaskan.
Kenzo mengangguk-angguk, begitu bahagia dan tidak bisa berkata-kata saat mengetahui istri dan bayinya sehat dan selamat.
“Bayinya cowok atau cewek?” tanya Sandra.
“Cowok, benarkan Sus?” Kenzo menjawab pertanyaan Sandra, tapi juga bertanya ke perawat.
“Benar, bayinya laki-laki dan sangat menggemaskan,” jawab perawat kemudian pamit undur diri.
**
Setelah Joya dipindah ke ruang inap. Sandra pun memilih pamit karena harus kembali ke perusahaan, tapi sebelum itu mengucapkan selamat ke Joya dan akan datang lagi untuk melihat bayi Joya.
Saat sedang berjalan keluar dari bangsal ibu dan anak, Sandra melihat Darren yang berjalan ke bangsal khusus. Dia pun penasaran apakah Viona benar-benar sakit parah seperti yang diberitakan.
Sandra berjalan ke arah Darren pergi, hingga sampai di kamar VIP. Sandra melihat dari kaca yang terpasang di pintu, tapi sayangnya ranjang pesakitan tidak tampak dan hanya melihat Darren berdiri sambil memandang dengan tatapan sendu.
__ADS_1
“Dia pasti sangat menyesal karena berselingkuh, terlebih saat tahu istrinya sakit parah. Jika tidak menyesal, berarti dia memang tidak memiliki hati,” gumam Sandra, kemudian memilih pergi meninggalkan kamar itu.