Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Berubah sikap


__ADS_3

Setelah tahu Sandra hamil, sikap Anisa pun melunak ke menantunya itu. Mungkin takut jika sampai Sandra tertekan dan terlalu banyak pikiran.


“Sikap Mama sekarang yang berubah lagi, jangan dijadikan beban,” kata Farzan sambil menggenggam erat telapak tangan Sandra.


Farzan duduk di tepian ranjang bersama Sandra. Dirinya dan sang istri akan menginap semalam atas permintaan Anisa. Kini mereka berada di kamar lama Farzan.


Sikap Anisa sendiri langsung berubah saat tahu Sandra hamil, tentu saja perubahan itu karena dirinya begitu bahagia sebab akhirnya akan memiliki keturunan dari putranya sendiri.


“Tidak, aku tidak pernah menjadikan beban, memikirkan, ataupun tidak senang dengan sikap Mama. Jadi kamu jangan cemas,” balas Sandra.


Farzan meraih belakang kepala Sandra, kemudian menekan sedikit untuk bisa mendaratkan kecupan di kening.


“Kamu harus jaga kesehatan, jangan terlalu lelah juga. Ingat pesan dokter untuk mengurangi kegiatan berat karena hamil di usiamu butuh perhatian khusus,” ucap Farzan mengingat perkataan dokte.


Sandra tertawa mendengar ucapan Farzan dan melihat suaminya yang sedikit cemas.


“Pekerjaanku tidak berat, Zan. Jadi kamu jangan cemas,” balas Sandra.


“Terlalu banyak berpikir itu berat, San. Meski kamu hanya mendesain, tapi aku yakin banyak tekanan di dalamnya. Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan dalam segi psikis, tapi bukan berarti aku juga ingin melarangmu bekerja. Aku hanya ingin kamu tidak terlalu banyak pekerjaan.” Farzan mengungkap kecemasannya.


Sandra tersenyum mendengarkan setiap kata yang terlontar dari bibir Farzan, tahu jika suaminya sangat cemas dan takut terjadi sesuatu dengan kandungannya.


“Iya, iya … aku akan mulai mengurangi pekerjaanku. Senang?” Sandra bicara dengan sedikit nada manja.

__ADS_1


Farzan pun gemas dengan tingkah Sandra, lantas memeluk istrinya itu dan mendaratkan kecupan lagi ke kening.


“Kamu memang paling mengerti apa yang aku cemaskan dan aku inginkan.


**


Saat makan malam, Anisa terlihat begitu bahagia karena akhirnya impiannya memiliki cucu kandung terlaksana. Wanita itu sudah memberitahu suaminya, Harun pun bahagia dan berkata jika Anisa tidak boleh bersikap berlebih, serta jangan membuat Sandra tertekan lagi dengan sikap ketusnya.


“Chila mau makan yang mana?” tanya Anisa ke gadis kecil itu.


“Apa saja boleh,” jawab Chila yang bingung.


Bagaimana tidak? Malam itu Anisa memasak banyak menu makanan.


Anisa pun mengambilkan makanan yang menurutnya mudah dicerna oleh lambung Chila. Meski dia bahagia akan mendapatkan cucu, tidak lantas membuat Anisa mengabaikan gadis kecil itu.


Anisa sebenarnya wanita yang ramah dan penyayang, buktinya saat dulu Grisel menjadi menantunya, Anisa sangat menyayangi dan memanjakan Grisel. Namun, kekecewaan yang didapat, membuat Anisa lebih waspada, hingga akhirnya tidak mudah menerima Sandra.


Sandra terkejut mendengar ucapan Anisa, tapi kemudian mengulas senyum ke arah mertuanya. Sandra sendiri sebenarnya sudah berdiri untuk mengambil makanan, tapi urung saat mendengar pertanyaan sang mertua.


“Aku makan sayur saja, Ma. Soalnya kalau makan daging, pasti selalu ingin mual,” jawab Sandra.


Anisa mendekatkan piring berisi sayur dan menggeser piring berisi daging.

__ADS_1


“Makan yang banyak, selama itu bisa masuk ke lambungmu. Ingat untuk jaga kesehatan karena ada nyawa lain yang harus kamu pertahankan,” ucap Anisa yang terdengar sedikit lembut.


Sandra mengangguk-angguk dengan senyum kecil di wajah. Awalnya berpikir jika mungkin Anisa masih akan bersikap ketus, tapi ternyata pemikirannya salah.


Harun sendiri senang karena akhirnya Anisa sedikit demi sedikit mulai menerima Sandra, atau mungkin ini semua karena Sandra sudah membuktikan jika bisa memberikan keturunan ke mereka tanpa menunda atau beralasan.


Farzan senang dan tenang saat melihat perubahan Anisa. Dia langsung menggenggam telapak tangan Sandra saat istrinya itu kembali duduk.


**


“Ah … apa benar hamil? Jangan-jangan hanya bohongan lagi, atau penuh dusta seperti mantan menantumu.”


Cibiran itu terdengar sangat pedas di telinga Anisa.


Siang itu Anisa berkumpul dengan saudara-saudaranya seperti biasa, tapi tampaknya dari beberapa saudaranya, ada yang memang tidak menyukai menantunya sekarang yang mantan janda.


“Tidak percaya ya sudah, pendapatmu juga ga penting,” balas Anisa ketus.


Saudara Anisa semakin melotot mendengar ucapan ibu Farzan itu.


“Kalau perutnya benar-benar besar dan melahirkan, baru aku percaya,” hardik saudara Anisa.


“Kalau kamu sewot terus, aku juga ga bakal kabarin kamu kalau dia lahiran!” balas Anisa yang geram karena saudaranya itu terus memojokkan.

__ADS_1


“Sudah-sudah, kita mau kumpul buat senang-senang, kenapa jadi debat?” Saudara lain menengahi.


“Salahkan dia yang memulai, aku hanya menyampaikan kabar bahagia karena menantuku hamil, tapi tanggapannya tidak mengenakan! Jangan pikir aku tidak tahu yang kamu bicarakan di belakang! Meski kita saudara, tapi kalau kamu menyakiti hati menantuku, maka siap-siapa mendapat murkaku! Ingat, kamu dan keluargamu masih berada di bawah naungan keluargaku. Jadi aku tidak akan membiarkan kamu menginjakku apalagi menantuku!” Anisa mengeluarkan taringnya karena sikap saudaranya.


__ADS_2