Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Curiga dan cemas


__ADS_3

Chila memandang Farzan yang berjalan untuk mengambil pesanan mereka, kemudian mengedarkan pandangan dengan menggerakkan kedua kaki yang menggantung di kursi. Hingga tatapan gadis kecil itu tertuju keluar kafe tempat makan, Chila tiba-tiba turun dari kursi dan berjalan keluar kafe tanpa memberitahu Farzan.


Chila melihat seorang wanita kesusahan membawa barang belanjaan, bahkan sampai ada yang terjatuh di lantai dan tidak ada yang membantu wanita itu.


Chila pun mendekat untuk membantu, berjongkok dan memungut barang yang berserakan di lantai, kemudian memasukkan ke paper bag-nya lagi.


Gadis kecil itu mengulurkan paper bag yang dipungut ke wanita itu tanpa bersuara, Chila memang jarang bicara dengan orang asing.


“Oh, terima kasih,” ucap wanita itu sambil menerima paper bag dari tangan Chila.


Chila mengangguk kemudian berdiri bersamaan dengan wanita yang tak lain adalah Anisa.


Anisa terlihat mengecek barang belanjaannya apakah ada yang tertinggal.


“Terima kasih sudah membantu,” ucap Anisa lagi karena ucapan pertamanya tidak dijawab. Dia mengangkat wajah dan pandangan melihat Chila berdiri di depannya.


“Kamu?” Anisa ingat siapa Chila.

__ADS_1


Chila tersenyum tipis dan mengangguk pelan, sedangkan Anisa terlihat senang karena sudah ditolong.


“Terima kasih sudah membantu, aku agak kerepotan membawa barang sendirian,” kata Anisa.


Di saat bersamaan, Farzan yang baru saja mengambil makanan terlihat kelimpungan melihat kursi yang diduduki Chila kosong, hingga melihat gadis kecil itu sedang bersama seseorang. Farzan tidak tahu dengan siapa Chila sekarang, karena hanya melihat punggung wanita itu.


“Chila.” Farzan sudah panik setengah mati karena takut kehilangan atau terjadi sesuatu dengan Chila.


Farzan pun mendekat dengan perasaan lega karena gadis kecil itu tidak pergi jauh atau ada yang membawanya.


“Chila, kenapa pergi tidak bilang-bilang?” Farzan langsung memanggil.


Langkah Farzan melambat saat tahu siapa yang bersama Chila, dia sama terkejutnya dengan Anisa.


“Kenapa Mama bersama Chila?” Farzan bertanya-tanya dalam hati.


Chila menghampiri Farzan karena pria itu berhenti melangkah, kemudian berdiri tepat di hadapan pria itu.

__ADS_1


“Chila baru bantu nenek itu.” Chila menunjuk ke Anisa.


Anisa semakin terperangah melihat Chila bicara dengan Farzan, kemudian menatap putranya dengan beribu pertanyaan di kepala.


Farzan langsung menggandeng tangan Chila, menunjukkan ke sang ibu jika gadis kecil itu bersamanya. Farzan takut jika Anisa tadi bicara sesuatu ke Chila dan berpikir jika ibunya sudah tahu tentang Chila.


“Zan, dia ….” Anisa menghentikan ucapannya karena tak bisa menebak ada hubungan apa Farzan dengan gadis kecil yang digandeng sekarang ini.


Farzan menarik Chila hingga berdiri di sampingnya dengan tatapan masih tertuju ke sang ibu. Hingga Farzan menoleh Chila yang terlihat bingung.


Dengan setengah membungkuk Farzan pun bicara ke Chila. “Om mau bicara dengan ibu itu dulu, Chila ke meja dulu dan makan siang.”


Chila mendengarkan dengan seksama sebelum kemudian menganggukkan kepala. Gadis itu menoleh Anisa, kemudian melepas tangan dari genggaman Farzan dan masuk ke kafe sesuai perintah pria itu.


Anisa terkejut melihat sikap Farzan dan Chila, hingga memandang gadis kecil itu masuk ke kafe sebelum kemudian memandang putranya.


Farzan memandang Anisa, lantas berjalan mendekat ke wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.

__ADS_1


“Mama bicara apa saja kepadanya?” tanya Farzan penuh curiga.


“Apa?” Anisa sangat terkejut mendengar pertanyaan putranya, tak paham dengan maksud Farzan.


__ADS_2