Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Pelakunya Grisel


__ADS_3

Sandra kembali bekerja setelah menemani Kenzo menunggu Joya melahirkan. Sore itu dia bersiap pulang bersama Farzan yang sudah menunggunya di depan lobi.


“Mau ke tempat Pak Gilang dulu?” tanya Farzan saat keduanya sudah berada di mobil.


“Iya,” jawab Sandra, “hari ini Joya melahirkan, kemungkinan Bu Liana pasti akan ke sana. Chila pasti di rumah sendirian, kasihan kalau dia kesepian.”


Farzan mengangguk-angguk, kemudian melajukan mobil menuju ke rumah Gilang.


Sesampainya di rumah Gilang, Sandra langsung turun dan masuk bersama Farzan. Saat baru saja masuk, Sandra melihat Liana yang tampak kebingungan.


“Untung kamu sudah datang,” kata Liana dengan wajah cemas.


“Ada apa?” tanya Sandra memperhatikan Liana yang terlihat begitu cemas dan panik.


Liana menoleh Chila yang sedang menonton televisi, kemudian mengajak Sandra agak menjauh dari Chila.


“San, ada yang menculik bayinya Joya,” kata Liana.


Sandra sangat terkejut hingga membungkam mulut dengan telapak tangan.


“Kenzo dan ayahnya sudah mengerahkan orang buat mencari, tapi belum ketemu,” ucap Liana lagi dengan wajah panik dan sedih.


Sandra berpikir jika semua orang kini pasti dalam kondisi panik, belum lagi Joya yang baru saja melahirkan dan harus kehilangan bayinya.


“Zan, aku akan ke rumah sakit bersama Bu Liana. Apa kamu bisa di sini dulu menjaga Chila?” tanya Sandra ke Farzan.


Farzan mengangguk dan setuju untuk di sana, sedangkan Sandra dan Liana bergegas ke rumah sakit.

__ADS_1


**


Sesampainya di rumah sakit, Sandra dan Liana langsung pergi ke ruang inap Joya. Di sana ada Gilang, Kenzo sedang menenangkan Joya yang terus menangis.


“Dia di mana? Di mana bayi kita?” Joya terus meraung dan menangis karena kehilangan bayinya.


“Kita akan menemukannya, kamu tenangkan diri dulu,” ucap Kenzo sambil memeluk erat tubuh sang istri. Jika boleh jujur, Kenzo pun terpukul karena kehilangan bayi yang sudah sangat dinanti-nanti.


Joya semakin menangis histeris, bagaimana bisa bayinya hilang saat ditinggal beberapa menit saja.


Sandra begitu sedih dan tidak tega melihat kondisi Joya yang seperti itu. Pasti begitu berat bagi Joya, karena bagaimanapun bayi itu sangat dinantikan banyak orang.


“Bagaimana? Apa sudah ada yang menemukannya?” tanya Liana ke sang suami.


Gilang menggeleng-gelengkan kepala frustasi, hingga memijat kening yang terasa pusing.


Liana sedih karena cucu pertamanya harus hilang karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab.


Sandra merasakan aura kesedihan yang begitu kentara di ruangan itu. Kehilangan adalah rasa sakit yang akan sangat sulit untuk disembuhkan.


Sandra mendekat ke ranjang Joya, hendak menghibur wanita itu.


Kenzo sendiri memilih memberikan ruang, mungkin Joya pun butuh orang lain yang bisa menyemangatinya.


Sandra duduk di tepian ranjang, sebelum kemudian memeluk Joya yang masih menangis.


“Kamu yang sabar, ya. Bayimu pasti segera ditemukan, percayalah dengan suami dan mertuamu,” kata Sandra sebagai penghibur.

__ADS_1


Joya tidak membalas apa-apa, hanya mengangguk-anggukan kepala sebagai tanda dirinya akan lebih bersabar dan berdoa agar bayinya kembali.


“Kamu adalah wanita yang kuat, Joy. Aku sangat yakin kamu bisa menghadapi semuanya,” ucap Sandra lagi.


**


Sandra pulang terlebih dahulu dari rumah sakit, Gilang dan Kenzo belum menemukan pelaku penculikan anak Joya.


“Bagaimana?” tanya Farzan saat Sandra sampai rumah Gilang.


“Belum ditemukan,” jawab Sandra.


“Apa pelakunya tidak terekam Cctv rumah sakit?” tanya Farzan lagi penasaran.


“Katanya wajah pelaku tidak terlihat, tapi Pak Gilang masih terus mencari dan mengecek beberapa Cctv di luar rumah sakit juga,” jawab Sandra.


Baru saja Sandra selesai bicara, ponsel wanita itu berdering dan sebuah pesan masuk terpampang di sana.


[San, pelakunya Grisel. Dia terekam Cctv kafe yang berada di samping rumah sakit, berjalan membawa bayi.]


Sandra membungkam mulut karena terkejut, hingga kemudian menoleh Farzan dan memperlihatkan apa yang dibacanya.


Farzan membaca pesan dari Liana, hingga begitu geram karena ulah Grisel.


“Dia ini, kenapa tidak ada kapoknya?” Farzan terlihat begitu geram.


“Kita cari ke rumahnya, Grisel tidak bisa dibiarkan seperti ini!”

__ADS_1


__ADS_2