
Pagi itu Sandra membuatkan kopi untuk Farzan. Dia tidak tahu apakah akan sesuai dengan selera pria itu, hanya saja berusaha menyenangkan, apalagi semalam Farzan memang dalam kondisi buruk.
Sandra meletakkan cangkir kopi ke meja, lantas menatap pintu kamar mandi, di mana Farzan masih mandi. Dia pun keluar lagi untuk membantu Bi Sum menyiapkan sarapan.
“Anda di sini tamu, kenapa membantu saja memasak setiap hari,” kata Bi Sum yang merasa tak enak hati.
“Tamu apanya, Bi. Aku di sini malah merepotkan, jadi sudah sepatutnya aku pun membantu pekerjaan rumah,” kata Sandra dengan senyum hangat di wajah.
Bi Sum tentu tahu jika hubungan Sandra dan Farzan bukan sekadar tamu dan tuan rumah, atau rekan kerja. Keduanya memiliki hubungan lebih, hingga Farzan saja tak menjaga jarak terhadap Sandra.
“Tapi tetap saja saya merasa tak enak karena Anda terus membantu pekerjaan saya,” kata Bi Sum merasa sungkan.
Bukan hanya memasak, Sandra bahkan bangun pagi dan menyapu juga mengepel, membuat Bi Sum benar-benar tak enak hati.
**
Farzan baru saja keluar dari kamar mandi, berjalan menuju ruang ganti seraya mengusap rambut yang basah dengan handuk kecil. Hingga langkahnya terhenti saat melihat secangkir kopi yang masih menguarkan uap panas.
“Apa dia membuatkannya untukku?” Farzan tersenyum, lantas memilih duduk di sofa untuk bisa menikmati secangkir kopi panas.
__ADS_1
Saat Farzan sedang menyesap kopi, pintu kamar terbuka dan Sandra tampak masuk.
“Kamu sudah selesai mandi?” tanya Sandra sambil mendekat.
Farzan baru selesai menyesap kopi, lantas melirik Sandra.
“Sudah,” jawab Farzan. “Kopi ini kamu yang buat?” tanya Farzan sambil meletakkan cangkir di meja lagi.
“Ya, apa kurang enak?” tanya Sandra cemas jika kopi itu tidak sesuai selera Farzan.
Farzan tersenyum lebar, kemudian menjawab, “Ini sangat pas, sesuai dengan seleraku.”
Selama ini Grisel tidak pernah membuatkannya kopi, mantan istrinya itu selalu berpikir jika sudah ada pembantu yang memasak dan menyajikan makanan juga minuman untuk mereka, lantas buat apa repot-repot membuatkan kopi untuk suaminya.
“Bagaimana lukamu? Apa perlu kita bawa ke dokter saja karena semalam berdarah lagi?” tanya Sandra cemas.
Farzan menatap ke telapak tangan, kemudian menggelengkan kepala pelan.
“Tidak usah, lagi pula tidak terasa sakit, jadi kamu jangan cemas.”
__ADS_1
**
Di rumah orangtua Farzan, Anisa dan Harun sedang sarapan berdua. Namun, wajah Anisa masih terlihat masam karena masalah semalam.
“Ma, makanlah dulu,” kata Harun karena Anisa sibuk bermain ponsel.
“Sebentar.” Anisa memilih melanjutkan mengetik pesan ke seseorang.
Harun mengerutkan dahi, mengamati apa yang sedang dilakukan istrinya.
Anisa meletakkan ponsel ke meja, kemudian kembali sarapan bersama sang suami.
“Siapa yang kamu hubungi?” tanya Harun penasaran.
“Kenalan,” jawab Anisa, lantas memasukkan suapan ke mulut. “Aku minta kenalanku untuk mencari tahu siapa wanita yang disukai Farzan.”
Anisa kembali bicara sambil mengunyah makanan yang sudah masuk ke mulut.
Harun cukup terkejut mendengar ucapan sang istri, tampaknya Anisa benar-benar tidak rela jika Farzan menyukai seorang janda.
__ADS_1
“Apa Mama masih tidak mau membiarkan Farzan memutuskan sendiri apa yang diinginkan?” tanya Harun hati-hati.
“Jelas Mama tidak akan membiarkan Farzan memilih pasangannya sendiri. Cukup sekali ya dia salah pilih, sekarang kesempatan kita untuk memilihkan dan memberikan yang terbaik untuknya. Mama tidak mau kalau dia salah pilih lagi, apalagi wanita itu sudah punya anak, pasti takkan mau punya anak lagi dengan alasan tak ingin anaknya diduakan. Mama sudah sering lihat alasan itu di sinetron-sinetron, jadi jangan sampai kita tidak memiliki cucu dari anak kandung kita sendiri, hanya gara-gara Farzan menuruti keinginan wanita itu,” cerocos Anisa yang tak mau mendengarkan ucapan suaminya.