
Pagi itu Darren dan Viona sarapan bersama, tidak ada pembahasan apa pun lagi sejak kemarin meski Viona baru saja melihat kenyataan jika sang suami telah tidur bersama wanita lain.
Bukankah wanita itu mengerikan, dia bisa memendam amarah dan emosi untuk bisa merencanakan sesuatu yang lebih besar. Dia melepas ikan kecil yang dipancingnya, demi mendapatkan kesempatan mendapatkan pancingan yang lebih besar.
“Sayang, minggu depan adalah ulang tahun pernikahan kita, kamu tidak lupa, ‘kan?” tanya Viona di sela sarapan.
Darren terlihat terkejut, tampaknya dia lupa akan hari penting itu.
“Tentu saja tidak, sayang.” Darren mengulas senyum ke arah sang istri. “Kamu mau mengadakan pesta yang seperti apa?” tanya Darren kemudian untuk menutupi rasa terkejut dan jangan sampai Viona tahu.
“Kali ini boleh aku yang memilih semuanya sendiri?” tanya Viona penuh harap, tatapannya terlihat seperti anak kecil yang sedang menginginkan sesuatu.
“Apa pun yang kamu inginkan, lakukan saja,” ujar Darren memberi izin.
“Terima kasih,” ucap Viona dengan senyum lebar di wajah.
**
Claudia sangat terkejut melihat luka di leher Grisel, semalam modelnya itu memang menghubungi tapi Claudia sedang ada urusan.
“Kenapa bisa begini?” tanya Claudia sambil mengamati luka di leher Grisel.
“Ini gara-gara ada yang melempar batu hingga membuat kaca mobil pecah. Masih beruntung batu itu tak mengenai kepalaku.” Grisel masih merasa kesal, belum lagi dia mendapatkan sebuah ancaman juga.
“Ada yang sedang main-main denganku,” kata Grisel.
Grisel menunjukkan kertas yang digunakan untuk membungkus batu, lantas memberikannya ke Claudia.
Claudia terdiam membaca tulisan di kertas itu, tentu tak terkejut mengingat banyaknya orang yang sudah disakiti oleh Grisel.
“Menurutku kamu seharusnya bisa mengambil hikmah dari kejadian yang ada, semua yang kamu lakukan, memiliki resiko tersendiri di dalamnya. Aku yakin ini pasti ancaman dari salah satu orang yang kamu lukai,” ujar Claudia, hanya ingin Grisel sadar dan berhenti main-main dengan karir dan hidupnya sendiri.
Grisel menyeringai mendengar nasihat Claudia, seolh dirinya paling benar dan tidak terjamah.
“Aku takkan takut hanya dengan ancaman itu,” balas Grisel dengan seringai di wajah. “Tapi siapa yang ingin mengusikku?”
Grisel bertanya-tanya sendiri, hingga di pikirannya hanya ada satu nama yang melintas.
“Apa menurutmu istri Darren sudah tahu dengan hubunganku dengan suaminya, lantas dia kini berusaha mengancamku?” tanya Grisel sambil memandang Claudia.
Claudia menggeleng karena tak tahu, lantas kemudian berkata, “Menurut informasi yang aku dengar. Nona Viona itu wanita yang lemah lembut dan baik. Tidak pernah ada berita atau gosip yang menyebar tentang hubungan rumah tangganya dengan Darren, meski sebagian orang tahu kalau Darren selingkuh sebelumnya.”
“Jadi menurutmu, kalaupun dia tahu aku berselingkuh dengan suaminya, dia tetap akan diam dan tidak bertindak?” tanya Grisel memastikan ucapan Claudia.
“Bisa jadi seperti itu, bisa saja ‘kan kalau Viona sebenarnya tahu tapi tidak mau peduli dengan perselingkuhan suaminya.”
__ADS_1
Grisel terlihat berpikir, mungkinkah benar demikian. Namun, Grisel tak langsung menyimpulkan seperti itu karena pada kenyataannya Grisel tahu jika Viona seolah tak menyukainya, semua terlihat dari tatapan wanita itu.
**
Farzan menjemput Sandra di rumah Gilang sebelum berangkat bekerja karena wanita itu tak membawa pakaian ganti. Kini keduanya sudah berada di mobil menuju rumah Sandra.
“Zan, Chila bilang kemarin mamamu menemuinya,” ucap Sandra memecah keheningan kabin mobil.
Farzan cukup terkejut mendengar perkataan Sandra, hingga menoleh dan memandang sekilas kekasihnya itu.
“Benarkah?”
Sandra mengangguk-angguk, kemudian mengulas senyum. “Meski mamamu tidak menyukaiku, tapi setidaknya dia menyukai Chila. Bagiku yang terpenting Chila tak tersakiti karena hubungan yang kita jalani.”
Farzan merasa bersalah karena Anisa masih tak menyukai Sandra. Hingga mengulurkan tangan kemudian mengusap belakang kepala Sandra.
“Maaf karena sikap Mama, tapi aku yakin jika suatu hari nanti dia pasti bisa menerimamu,” ucap Farzan penuh pengharapan.
**
Sandra bekerja seperti biasa. Masalah yang sempat membuatnya begitu lelah dan kesal, kini lama-lama terlupakan.
Hingga sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan Sandra, wanita itu kemudian mempersilakan masuk.
“Siapa?” tanya Sandra masih duduk di kursi kerjanya.
“Namanya Bu Viona,” jawab asisten Sandra.
Sandra mengerutkan dahi, tidak mengenal nama yang disebutkan asistennya. Namun, Sandra pun tidak bisa mengabaikan dan berpikir jika mungkin saja ada hal penting yang akan disampaikan.
Sandra pun meminta asistennya itu mempersilakan Viona masuk.
Viona berterima kasih ke asisten Sandra yang mempersilakan masuk, hingga mengulas senyum ketika melihat janda cantik satu anak itu.
“Silakan!” Sandra mempersilakan dengan sopan.
Viona mengangguk, kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
“Maaf sebelumnya, Anda siapa?” tanya Sandra saat mereka sudah duduk bersama.
“Oh … perkenalkan, saya Viona.” Viona dengan sopan mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Sandra.
Sandra pun membalas jabat tangan Viona sambil memperkenalkan dirinya juga. Dia masih bingung siapa wanita itu dan kenapa mencarinya.
“Apa ada yang bisa saya bantu, Nona Viona?” tanya Sandra. Dia bersikap sopan dan terlihat begitu elegan.
__ADS_1
Viona mengamati sikap dan cara bicara Sandra, hingga tersenyum karena bisa menilai karakter wanita itu.
“Sebenarnya bukan hal penting, tapi entah kenapa saya merasa perlu ke sini,” jawab Viona.
Sandra masih bingung karena tidak mengenal, tapi mencoba mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh wanita yang kini duduk di hadapannya itu.
Viona bercerita tentang Chila yang ditarik paksa Grisel, hingga membuat Sandra terkejut karena wanita itu tahu.
“Bagaimana Anda tahu?” tanya Sandra dengan ekspresi wajah terkejut yang tidak bisa disembunyikan.
“Sebenarnya saya di sana saat itu, bahkan saya yang membantu anak Anda lepas dari Grisel,” jawab Viona masih dengan senyum yang terpajang di wajah.
Sandra semakin bingung dan penasaran, kenapa wanita itu tahu dirinya serta apa sebenarnya maksud kedatangannya.
“Mungkin Anda terkejut karena saya datang kemari, sedangkan Anda tak mengenal saya,” ujar Viona saat melihat ekspresi wajah bingung Sandra. “Tapi yakinlah kalau saya di sini sebagai teman bukan lawan.”
“Saya tidak paham dengan maksud Anda,” kata Sandra masih mencoba meresapi apa yang sebenarnya terjadi.
“Saya tahu jika Anda dianggap saingan oleh Grisel, serta mungkin saja Anda juga benci dengan wanita itu,” ujar Viona dengan senyum yang memudar dari wajah.
Sandra masih menelaah setiap kata yang diucapkan Viona, memperhatikan serta menebak apa yang sebenarnya ingin dilakukan wanita itu.
“Apa kamu mau bekerja sama denganku untuk menghancurkannya?” tanya Viona.
Sandra mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Viona. “Apa maksud Anda?”
Viona memberikan tatapan tajam penuh kebencian, mungkin karena sakit hati yang begitu dalam akan hubungan terlarang suaminya dan Grisel.
“Jika Anda mau bekerja sama, aku bisa pastikan Anda melihat kehancuran wanita itu,” kata Viona.
“Saya tidak paham dengan apa yang Anda inginkan, serta saya sebenarnya tak ingin mencari musuh lagi,” balas Sandra masih bersikap tenang. Bukannya tak tahu maksud Viona, tapi dirinya bukan tipe wanita yang suka mendendam.
Viona kini mengubah ekspresi wajah yang penuh kebencian dengan senyum merekah.
“Ah … aku paham. Tidak masalah,” kata Viona masih dengan senyum di wajah.
Sandra merasa merinding melihat tatapan dan ekspresi wajah Viona yang berubah-ubah. Dia melihat banyaknya kebencian dalam diri Viona, mungkinkah wanita itu juga disakiti oleh Grisel, begitulah Sandra bertanya-tanya dalam hati.
“Namun, jika Anda ingin melihat kehancurannya sebagai balasan karena telah menyakiti banyak orang, silakan datang ke sini. Saya pastikan Anda takkan pernah menyesal hadir di sana.”
Viona meletakkan sebuah undangan ke meja, kemudian berdiri dan pamit undur diri.
Sandra masih terpaku di tempatnya, memandang undangan itu meski Viona telah pergi.
“Apa sebenarnya yang ingin dilakukan wanita itu? Serta dendam apa yang membuat wanita secantik itu terlihat begitu menakutkan.”
__ADS_1