Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Wanita jahat


__ADS_3

Sandra pergi ke rumah Gilang setelah memberi pelajaran Grisel. Dia memang tak langsung menemui Chila karena emosinya sedang memuncak.


“Di man Chila?” tanya Sandra saat bertemu Liana.


“Sejak pulang dia terus mengurung diri di kamar, tampaknya masih syok dengan yang dilakukan Grisel kepadanya,” jawab Liana dengan mimik wajah cemas juga sedih.


Sandra mengangguk lantas memilih menemui Chila untuk melihat kondisi putrinya itu. Saat masuk kamar, Sandra melihat Chila duduk menghadap meja belajar. Gadis itu memegang pensil dan terlihat menggerakkan benda itu.


“Chila.” Sandra mendekat sambil menyebut nama putrinya.


Namun, Chila tidak merespon. Dia masih fokus dengan gambar yang sedang dibuatnya.


Tentu saja Sandra cemas melihat kondisi Chila, hingga langsung menghampiri dan melihat apa yang digambar putrinya. Sandra cukup terkejut melihat Chila menggambar wanita berwajah garang dengan api di belakangnya.


“Chila.” Sandra sadar jika sang putri sedang dalam tertekan dan ketakutan.


Wanita itu langsung memeluk dari samping, mendekap erat Chila agar tak takut lagi.


“Mama di sini,” ucap Sandra dengan suara berat karena menahan sesak di dada melihat putrinya seperti itu.


Chila berhenti menggambar, hingga merasakan hangatnya pelukan sang ibu yang selalu menjadi pelindungnya. Hingga Chila membalas pelukan Sandra dan menangis.

__ADS_1


Sandra memilih menggendong Chila, mengajak putrinya menuju ranjang dan membaringkan. Dia memeluk sambil berbaring, mengusap punggung kecil putrinya untuk menenangkan.


“Dia jahat.” Chila bicara dengan bibir bergetar.


“Chila tenang saja, Mama sudah menghukum yang jahat,” ucap Sandra dengan mata perih dan merah menahan kesedihan akan luka yang dirasa sang putri.


Chila kembali diam, kedua tangan kecilnya memeluk pinggang sang ibu yang selalu menjadi sandaran untuknya.


Liana menyusul Sandra ke kamar Chila, melihat bagaimana wanita itu sedang menenangkan Chila dalam pelukan. Dia pun memutuskan untuk keluar lagi dan membiarkan ibu dan anak itu berdua.


Lama keduanya saling berpelukan. Sandra terus mengusap punggung dan rambut Chila untuk menenangkan, tatapannya begitu hampa membayangkan bagaimana putrinya tadi sangat ketakutan.


“Ya, sayang.” Sandra sedikit memundurkan kepala, kemudian melirik ke bawah untuk bisa melihat Chila.


Chila menggerakkan kepala, kemudian menengadahkan wajah untuk bisa menatap Sandra.


“Apa benar Mama merebut suami orang?” tanya Chila hati-hati, terbalut takut dan cemas.


Sandra terperangah mendengar pertanyaan Chila, dari mana putrinya tahu akan kalimat pertanyaan itu.


“Siapa yang bilang?” tanya Sandra balik sambil mengusap rambut Chila ke belakang.

__ADS_1


“Wanita jahat itu. Katanya Mama merebut suami orang, apa itu?” tanya Chila yang ternyata tidak paham akan istilah itu.


Sandra benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa Grisel mengucapkan kalimat yang belum dimengerti anak-anak. Sandra lupa kalau Grisel memang tidak waras, terkadang suka melakukan sesuatu tanpa berpikir dan tidak memandang siapa yang diajak bicara.


“Itu tidak benar, sayang. Wanita itu gila dan hanya meracau sembarangan. Dia membenci kita karena dekat dengan Papa Farzan, tapi sekarang Chila tidak perlu cemas karena Papa Farzan sangat menyayangi Chila, ‘kan? Dia akan melindungi Chila,” ujar Sandra sekenanya. Tidak mungkin jika Sandra menceritakan apa itu perebut suami orang.


Chila mengangguk-angguk paham, kemudian kembali memeluk dan memejamkan mata dalam dekapan Sandra.


Sandra kembali geram, tahu begini dia tadi akan meremas mulut Grisel yang sering mengucapkan kata-kata fitnah dan kebohongan.


**


Di ruang kerja, Darren sangat terkejut ketika melihat rekaman video yang beredar di perusahaan. Tentu saja itu mempengaruhi citra dirinya sebagai perekrut Grisel, serta akan mempengaruhi citra perusahaan jika sampai tersebar keluar.


Darren memanggil sekretarisnya, meminta agar bagian admin grup untuk menghapus semua chat juga video yang mempertontonkan kekerasan terhadap Grisel.


“Dia ini kenapa tidak bisa menghindari masalah?” Darren merasa geram.


Darren mendial nomor Grisel, kemudian menempelkan ponsel ke telinga.


“Aku ingin bertemu denganmu di apartemen, datanglah ke sana!” perintah Darren. Setelah mendapat jawaban dari Grisel, dia pun mengakhiri panggilan itu.

__ADS_1


__ADS_2