Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Makan malam kacau


__ADS_3

Saat malam hari. Sandra dan Farzan berada di mobil bersama Chila menuju rumah bibi Farzan untuk menghadiri acara keluarga yang memang dilakukan setiap sebulan sekali.


Mobil mereka sudah memasuki halaman rumah bibi Farzan, mereka pun turun dan berjalan masuk rumah sang bibi. Farzan menggandeng tangan Chila, sedangkan Sandra mengalungkan tangan di lengan sang suami.


“Kamu yakin jika baik-baik saja?” tanya Farzan.


Bukan tanpa sebab Farzan bertanya seperti itu. Dia melihat wajah Sandra yang pucat sejak pulang kerja tadi, bahkan meski kini wanita itu mengenakan makeup pun masih terlihat pucat.


“Aku baik-baik saja, kamu jangan cemas,” jawab Sandra dengan senyum merekah di bibir. “Hanya perut yang tidak nyaman karena asam lambung,” imbuhnya.


Farzan akhirnya tidak lagi bertanya, percaya jika sang istri hanya sakit biasa.


Saat sampai di dalam, semua orang tampak sudah hadir di sana, termasuk Anisa dan keluarga sepupu Farzan yang bernama Zayn.


“Chila.” Anisa langsung menyambut Chila penuh rasa senang. Wanita itu bahkan langsung menggandeng dan memberikan tempat untuk cucu ketemu besar itu.


Farzan menarikkan kursi untuk Sandra, membuat para bibirnya ada yang menatap sinis karena merasa Farzan terlalu berlebihan memperlakukan sang istri. Padahal dalam adab makan malam bersama, sudah menjadi kewajiban jika pria menunjukkan perhatian kecil dengan cara menarikkan kursi bagi pasangannya.


“Kok terlambat, sibuk banget, ya!” sindir salah satu bibi Farzan.


Anisa langsung melotot mendengar sambutan berupa sindiran dari saudaranya yang ditunjukkan untuk sang menantu.


“Jelaslah sibuk, dia ini kepala desainer di perusahaannya, tentu saja dia banyak pekerjaan dan berusaha membagi waktu. Dia bisa datang saja sudah bersyukur, jadi jangan sok nyindir-nyindir!” Anisa bicara pedas karena kesal dengan sambutan saudaranya, baru saja telat sepuluh menit, tapi saudaranya sudah bercicit layaknya putra dan menantunya itu telat berjam-jam.


Kedua sudut bibir Sandra tertarik ke atas, menciptakan lengkungan kecil di bibir saat mendengar Anisa membela dirinya.

__ADS_1


“Sibuk kerja, nanti nggak bisa dapat cucu lagi, terus kecewa,” cibir saudara Anisa dengan suara lirih dan memalingkan wajah.


Anisa melotot, hendak membalas tapi sang suami langsung menggenggam telapak tangannya, serta memberikan isyarat agar Anisa diam. Harun tahu, dalam setiap pertemuan keluarga, pasti ada pro kontra sebuah pembahasan, takut jika nantinya Sandra yang dijadikan bahan pembicaraan.


“Sudah, jangan bahas yang lain dulu. Kita di sini untuk kumpul dan bercengkrama, jangan bersitegang. Lebih baik kita mulai makan malam,” kata salah satu saudara Anisa.


“Tanya saja ke dia, kenapa mulai perdebatan,” gerutu Anisa, kemudian memilih mulai membantu Chila untuk mengambil makanan.


Semua orang makan dengan khidmat, hingga Sandra kembali merasakan perutnya terasa perih saat makanan masuk ke lambung.


“Ada apa?” tanya Farzan saat melihat sang istri yang memegangi perut.


“Sepertinya asam lambung naik, aku tidak bisa makan, rasanya sakit saat aku menelan makanan,” ucap Sandra sambil memegangi perut. Dia bicara agak lirih agar para bibi Farzan tidak dengar.


“Kenapa? Makanannya tidak enak? Atau kamu alergi sama masakan yang aku sajikan?” Pertanyaan wanita itu terdengar ketus, membuat semua orang berhenti makan dan menatap ke Sandra juga Farzan.


Farzan terkesiap mendengar ucapan sang bibi, sedangkan Sandra tersenyum canggung sambil menahan perih di lambung.


“Sandra sedang sakit, aku harap Bibi tidak bicara sembarangan,” kata Farzan sambil menatap bibinya.


“Tadi baik-baik saja, tapi kenapa tiba-tiba sakit? Makananku memang bawa penyakit!” sindir bibi Farzan pedas.


Farzan mengepalkan telapak tangan, geram karena sang bibi tidak paham akan kondisi istrinya.


Anisa memandang Sandra yang terlihat pucat dan tidak nyaman, kemudian beralih menatap saudaranya yang sedang bersitegang dengan Farzan.

__ADS_1


“Wajah Sandra sudah pucat, bagaimana bisa kamu berkata kalau dia baik-baik saja!” Anisa pun angkat bicara.


“Bela saja terus, dia menantumu! Jangan sampai kayak dulu, dibela dan manja tahunya mengecewakan bikin sakit hati!” sindir bibi Farzan. Tampaknya wanita itu benar-benar tidak menyukai Sandra, hingga terus menyindir dan menyerang dengan kata-kata pedas.


Anggota keluarga lain kebingungan, baru kali ini makan malam sedikit kacau karena perdebatan. Mungkin karena Sandra adalah anggota baru keluarga yang memang belum sepenuhnya diterima. Belum lagi karena status Sandra yang dianggap tidak setara dengan keturunan keluarga mereka.


“Sepertinya kami tidak bisa lanjut makan malam, Sandra terlalu sakit dan aku akan membawanya pulang.” Tidak ingin berdebat dengan lama, serta menambah beban pikiran Sandra, Farzan pun mengambil keputusannya sendiri.


Farzan berdiri kemudian mengajak Sandra untuk ikut. Sandra sedikit kebingungan, kenapa karena dirinya semua jadi kacau.


“Kamu butuh istirahat, lebih baik kita pulang saja, jangan sampai asam lambungmu semakin kambuh, hanya karena memikirkan sindiran yang tidak mendasar,” ucap Farzan dengan sedikit nada sindiran.


Sandra akhirnya berdiri dengan tangan yang sudah digandeng Farzan, Chila yang melihat kedua orangtuanya hendak pergi, lantas memilih turun dari kursi dan menghampiri Sandra dan Farzan.


Farzan berpamitan ke semua orang, termasuk kedua orangtuanya, kemudian pergi meninggalkan meja makan juga rumah itu.


Anisa terlihat kesal karena sikap saudaranya yang tidak sopan sebagai tuan rumah, kemudian berdiri dan melirik Harun yang terkejut.


“Tampaknya, makan malam kali ini memang sedikit membuat tidak nyaman, aku juga ingin pergi dulu,” kata Anisa dengan ekspresi wajah datar.


Anisa pun akhirnya mengajak Harun pergi dari sana. Zayn—sepupu Farzan, terlihat tidak nyaman dengan situasi yang ada, pemuda itu juga akhirnya minta izin hingga membuat sang mama terkejut.


“Semua salahmu yang terlalu menekan Farzan dan keluarganya!” Salah satu bibi Farzan menyalahkan.


“Kenapa? Aku hanya bicara fakta.”

__ADS_1


__ADS_2