
Hari pernikahan Sandra dan Farzan pun tiba. Hotel tempat diadakan pesta pun sudah siap dengan segala persiapannya. Semua yang mengurus kebutuhan dan urusan pesta adalah Anisa, dia dan Harun tidak membebankan ke Gilang karena tahu jika pria itu sedang berduka.
“Gaunnya sangat pas di tubuhmu,” kata Liana saat menemani Sandra yang sedang dirias.
Sandra tersenyum mendengar pujian dari Liana.
“Bagaimana kabar Joya?” tanya Sandra karena beberapa hari ini tidak melihat Joya sama sekali.
“Dia sudah lebih baik, meski mungkin masih begitu sedih. Ada Cheryl bersamanya, dia bisa sejenak melupakan kesedihannya,” jawab Liana.
Sandra mengangguk paham, hingga kemudian memilih diam karena perias masih menata gaunnya.
Di lobi hotel, ternyata keluarga Anisa sudah datang untuk melihat acara prosesi pernikahan Farzan dan Sandra. Mereka sendiri masih terkejut karena Farzan sudah akan menikah lagi, padahal baru bercerai beberapa bulan.
“Dengar-dengar Farzan menikah sama janda?” tanya salah satu bibi Farzan saat duduk di kursi yang disediakan di ruangan itu.
“Katanya, tapi juga tidak tahu. Anisa sama Harun saja tidak memperkenalkan dengan kita. Tahu-tahu aja mereka memberi kabar kalau Farzan akan menikah,” jawab yang lain.
“Ehem … mungkin mereka belum sempat karena sibuk, apalagi ini memang terkesan dadakan. Kita cukup mendoakan saja dan jangan berprasangka buruk,” timpal Farah—ibu Zayn.
__ADS_1
“Nah itu makin mencurigakan, jangan-jangan calon istrinya hamil duluan,” balas yang lainnya.
“Omong-omong, Zayn juga bagaimana? Bukankah dia juga menyukai wanita yang ….” Salah satu bibi Farzan menjeda ucapannya, lantas melirik ke saudara yang lain.
Farah langsung melotot mendengar ucapan saudaranya, kemudian memilih memalingkan wajah dari mereka.
“Zayn dan Farzan ternyata sama, suka wanita yang sudah memiliki anak. Sayangnya Zayn malah menyukai wanita--”
“Cukup!” bentak Farah memotong ucapan saudaranya dengan cepat, tidak ingin mendengar hal buruk tentang putranya.
Farah memilih pergi meninggalkan saudara-saudaranya karena tidak ingin darah tinggi, sedangkan para wanita itu kembali bergosip tentang Sandra dan juga pernikahan yang terkesan terburu-buru.
Di sisi lain. Ternyata Joya dan suaminya datang bersama dengan Cheryl—anak asuhnya. Joya sekilas mendengar apa yang digunjingkan keluarga Farzan.
Kenzo—suami Joya, menoleh sang istri sambil tersenyum.
“Sudah tidak kaget?” tanya Kenzo.
“Sama sekali tidak,” jawab Joya.
__ADS_1
Meski masih kehilangan, tapi Joya juga tidak bisa kalau tak datang diacara pernikahan Sandra. Joya sadar jika hanya dirinya dan keluarga Gilanglah saudara untuk Sandra.
“Apa Lusy akan datang?” tanya Kenzo tiba-tiba. Mengamati sekitar dan tidak melihat ibu kandung Cheryl di sana.
“Pasti datang, apalagi Zayn juga pasti hadir di sini,” jawab Joya begitu yakin.
**
Farzan sudah siap untuk menjalani prosesi pernikahan. Dia mengenakan setelah tuxedo berwarna coklat susu, senada dengan warna gaun yang dikenakan Sandra.
Gilang masuk ke ruang rias tempat Farzan berada, memang sengaja karena ingin bicara dengan Farzan.
“Kamu terlihat sudah begitu siap.” Suara Gilang membuat Farzan menolah.
“Tentu saya siap, semenjak berniat menjalin hubungan serius dengan Sandra, sejak saat itu saya siap dengan segala-galanya,” ujar Farzan penuh percaya diri.
Gilang tersenyum mendengar ucapan Farzan, kemudian menepuk pelan lengan pria yang akan mengambil tanggung jawab menjaga Sandra. Pada akhirnya Gilang memang harus melepaskan Sandra yang sudah dijaganya selama bertahun-tahun lamanya.
“Sandra wanita baik dan penyabar, lebihlah perhatian kepadanya, serta jangan menyakiti hatinya. Dia terkadang suka diam saat memendam masalah, saat itu terjadi kamu harus peka dan mulailah untuk mengajaknya bicara.” Gilang memberikan sedikit nasihat untuk Farzan, semua itu juga semata-mata demi Sandra.
__ADS_1
Farzan mengulas senyum, kemudian menganggukkan kepala setelah mendengar nasihat Gilang.
“Saya akan selalu ingat pesan Anda.”