Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Ingin sosok ayah


__ADS_3

Farzan pulang ke rumah Sandra setelah mengantar Chila. Tentu saja pria itu begitu senang karena mendapatkan izin dari gadis kecil itu. Meskipun awalnya Chila terkejut dan tampak sedikit bingung, sebab tak tahu apa itu pernikahan. Farzan pun menjelaskan jika menikah dengan Sandra maka secara tidak langsung akan menjadi ayah bagi Chila, hal itulah yang membuat Chila akhirnya setuju dengan keinginan Farzan menikahi Sandra.


Sandra di rumah dengan perasaan cemas, takut jika Farzan salah bicara dan membuat Chila tertekan. Dia menunggu pria itu di ruang tamu, berjalan mondar-mandir seperti setrikaan menanti kedatangan Farzan.


Hingga beberapa saat kemudian. Suara mobil Farzan terdengar memasuki halaman rumah Sandra. Wanita itu pun langsung membuka pintu dan melihat mobil Farzan yang baru saja berhenti. Wanita itu menanti dengan cemas, tidak sabar ingin mendengar cerita Farzan.


Farzan mematikan mesin mobil, melihat Sandra yang sudah di depan pintu memandang ke arah mobil. Dia menebak jika Sandra pasti sedang cemas menanti kedatangannya. Pria itu tersenyum, tak menyangka jika Sandra sebenarnya juga sangat antusias dengan ajakan menikah.


“Bagaimana?” tanya Sandra saat Farzan sudah berada di hadapannya.


“Kita masuk dulu,” ajak Farzan yang tak langsung menjawab pertanyaan Sandra.


Tentu saja yang dilakukan Farzan semakin membuat Sandra penasaran, meski yakin jika Chila setuju tapi cemas jika itu akan menjadikan beban pikiran putrinya.


“Bagaimana? Apa dia syok?” tanya Sandra. Selama Chila beranjak besar, Sandra tidak pernah membahas pernikahan atau bahkan pasangan.


“Dia awalnya hanya tidak paham, tapi saat aku jelaskan langsung mengerti. Kamu tahu apa yang dia katakan kepadaku?” tanya Farzan setelah dia dan Sandra duduk bersisian dan saling pandang sekarang.


“Apa yang dikatakannya?” tanya Sandra sedikit was-was.

__ADS_1


“Dia bilang seperti ini. ‘Jika Om Farzan menikah dengan Mama, apa itu artinya Om Farzan akan jadi Papa Chila?’.”


Mendengar ucapan Farzan, membuat jantung Sandra berdegup dengan cepat.


“La-lu?” tanya Sandra tergagap. Sungguh ingin mendapatkan restu dari Chila seperti sedang meminta restu dari orangtuanya sendiri.


“Aku bilang benar, dan dia sangat senang sampai langsung memelukku. Aku bilang kepadanya untuk memanggilku Papa, dan dia langsung melakukan hal itu. Dia setuju dan berkata jika sangat senang,” jawab Farzan menceritakan apa yang diucapkan dan dilakukan Chila tadi.


“Satu lagi, dia berkata sejak dulu ingin seorang Papa. Meski dia punya Pak Gilang, tapi Chila berkata jika Pak Gilang tidak selalu ada jika dia membutuhkannya.”


Sandra terlihat begitu senang dan hampir menangis. Andai dia bisa melihat ekspresi wajah putrinya yang akan mendapatkan ayah, mungkin dia tidak akan bisa membendung air mata yang akan meluap.


“Aku tidak pernah tahu apakah selama ini menjadi singel parent baginya adalah hal baik. Aku pikir jika cukup ibu saja yang menjaganya, tapi ternyata dia sangat mendamba sosok ayah juga,” ujar Sandra mencoba menahan perasaan yang bergejolak aneh karena rasa bahagia.


“Mungkin dia tak pernah bilang karena takut menjadi beban untukmu. Chila berkata ingin seperti teman-temannya yang selalu didampingi ayah dan ibu mereka. Aku harap dengan kehadiranku, bisa membawa kebahagiaan untuknya. Setidaknya bisa sedikit mengobati rasa rindunya terhadap sosok mendiang ayahnya,” ujar Farzan dengan tatapan terus tertuju ke Sandra.


Mendengar Farzan menyebut mendiang suaminya, membuat hati Sandra seolah bergejolak hingga pada akhirnya tak bisa membendung rasa haru dan juga bahagia. Buliran kristal bening akhirnya luruh dari kelopak matanya.


“Terima kasih karena mau masuk ke kehidupan kami.”

__ADS_1


**


Gilang pulang ke rumah sedikit malam. Saat sampai rumah Chila sudah berada di kamar dan hanya ada Liana di ruang keluarga.


“Chila sudah tidur?” tanya Gilang sambil meletakkan jas yang tadi ditenteng ke sandaran sofa.


Pria itu kemudian duduk di samping sang istri yang baru saja melihat acara televisi.


“Dia tadi di kamar, menggambar seperti biasa,” jawab Liana dengan tatapan tertuju ke pintu kamar Chila.


Setelah menjawab pertanyaan Gilang, Liana teringat akan ucapan Chila sore tadi.


“Sayang, apa Sandra bicara kepadamu tentang dia akan menikah?” tanya Liana karena penasaran. Biasanya sang suami yang mengetahui terlebih dahulu segala urusan tentang Sandra, jadi berpikir jika pasti suaminya sudah tahu.


Gilang sangat terkejut mendengar pertanyaan sang istri, hingga menatap Liana dengan tatapan keheranan.


“Siapa yang bilang?” tanya Gilang balik. “Sandra tidak bicara apa pun kepadaku.”


Liana jadi makin penasaran, kemudian menjawab pertanyaan Gilang.

__ADS_1


“Tadi Chila tiba-tiba memanggil Farzan dengan sebutan Papa, saat aku tanya Chila bilang kalau Farzan dan Sandra akan menikah.”


Gilang cukup terkejut mendengar ucapan Liana, jika memang hal itu benar, kenapa Sandra tidak membicarakan hal sepenting itu kepadanya.


__ADS_2