Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Undangan makan malam


__ADS_3

Sandra ikut Gilang dan Liana pergi ke kantor polisi, di mana anak buah Gilang sudah menemukan Grisel dan langsung membawanya ke kantor polisi. Namun, Gilang juga terlihat berpikir dengan keras, mengingat ucapan anak buahnya tadi.


Mereka sudah sampai di kantor polisi, hingga anak buah Gilang langsung menghampiri.


“Pak, dia di dalam,” kata anak buah Gilang.


Gilang mengangguk, hingga kemudian memilih masuk ke kantor polisi diikuti oleh Sandra dan Liana. Saat sampai di dalam, Sandra dan yang lainnya begitu terkejut melihat kondisi Grisel.


Grisel terlihat seperti sedang memeluk sesuatu meski di tangannya tidak ada apa-apa. Wanita itu juga bicara sendiri kemudian tersenyum sendiri.


Gilang memperhatikan Grisel, hingga baru percaya jika ucapan anak buahnya benar. Grisel ditemukan dalam kondisi gila, serta bayi yang diculiknya hilang.


“Apa yang terjadi dengannya?” tanya Sandra ke polisi yang ada di sana.


“Sepertinya dia mengalami gangguan jiwa. Kami sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk memastikan, sebelum kami memproses hukum, apakah dia harus proses hukum atau tidak,” jawab polisi menjelaskan.


“Uh … anak tampan, jadi anak Mama ya. Nanti Mama kasih uang yang banyak.”


Grisel bicara sambil memandang ke tangan yang kosong, posisi tangan Grisel seperti sedang menggendong sesuatu.


“Di mana bayi yang diculiknya?” tanya Liana ke polisi.


“Saat ditemukan, dia dalam kondisi sendirian,” jawab polisi.


Liana langsung membungkam mulut dengan telapak tangan, kemudian menatap Grisel yang duduk sambil menimang-nimang angin.


Sandra juga terkejut, jika Grisel ditemukan sendiri, lalu di mana bayi Joya.


Liana langsung mendekat ke arah Grisel, berdiri tepat di depan wanita itu.

__ADS_1


“Di mana cucuku? Katakan! Kamu pasti menyembunyikannya dan sekarang berpura-pura gila, ‘kan? Katakan! Di mana cucuku!” Liana begitu emosi karena harus kehilangan cucu pertamanya.


Liana menarik lengan Grisel, kemudian menggoyangkan dengan kencang agar Grisel mau bicara.


Bukannya bicara, Grisel malah ketakutan. Bahkan menjerit-jerit histeris dan menyembunyikan wajah ke tembok.


Gilang, Liana, dan Sandra akhirnya tahu jika Grisel benar-benar mengalami gangguan jiwa, hal itu diperkuat dengan pernyataan dokter yang datang dan memeriksa kondisi kejiwaan Grisel.


“Sekarang bagaimana, di mana cucuku?” Liana menangis, tidak percaya jika kehilangan cucunya.


Sandra duduk di samping Liana, mereka masih berada di kantor polisi. Sandra mengusap punggung Liana untuk menenangkan.


Gilang terlihat berpikir dengan keras, hingga kemudian mengambil keputusan yang terbaik bagi mereka.


“Kita bawa Grisel ke rumah sakit jiwa. Kita harus berusaha membuatnya kembali seperti semula, agar bisa mengatakan di mana dia meletakkan bayi Kenzo. Aku tidak bisa membiarkan cucuku terlantar begitu saja di sana,” kata Gilang.


Sandra hanya diam, sedangkan Liana masih terus terisak karena begitu sedih.


Farzan memandang Sandra yang tampak sedih. Kekasihnya itu hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di piring.


“Kenapa tidak di makan? Apa makanannya tidak enak?” tanya Farzan membuka percakapan.


Sandra menggeleng-gelengkan kepala, hanya masih memikirkan kondisi Joya yang sangat terpukul, saat tahu Grisel sudah ditemukan tapi bayinya tidak.


“Aku hanya masih memikirkan kondisi Joya. Jika itu aku, mungkin aku akan gila, takkan sekuat Joya yang hanya menangis, meski suara tangisnya begitu menyayat,” ujar Sandra, kemudian menghela napas kasar.


Farzan meraih telapak tangan Sandra yang berada di atas meja, lantas menggenggamnya erat.


“Kita sudah berusaha membantu mencari, bahkan polisi saja tidak bisa menemukan di mana bayi Joya berada. Sekarang kita hanya bisa menghiburnya, serta berdoa semoga ada keajaiban,” ucap Farzan mencoba menenangkan perasaan Sandra.

__ADS_1


Bagaimanapun, Farzan pun tidak tega jika melihat Sandra banyak pikiran.


Sandra mengangguk-anggukkan kepala, hingga memilih menyantap makan siangnya. Saat keduanya sedang makan siang bersama, ponsel Farzan tiba-tiba berdering dan nama Anisa terpampang di sana.


Sandra menengok ke ponsel Farzan, hingga beralih memandang kekasihnya yang terlihat tidak bersemangat untuk menjawab.


“Angkat saja, jangan buat mamamu marah,” kata Sandra.


Farzan mengangguk, kemudian menjawab panggilan itu atas permintaan Sandra.


“Halo, Ma.” Farzan pun menjawab panggilan itu.


“Farzan! Kapan kamu akan mengajak wanita itu dan anaknya makan malam di rumah? Bukankah Mama sudah bilang ingin mengajak makan malam, kenapa kamu tidak pulang?” Suara Anisa terdengar menggelegar dari seberang panggilan sana.


Ternyata Anisa sudah menyampaikan keinginan mengajak makan malam bersama sejak satu minggu yang lalu. Namun, karena banyaknya pekerjaan juga masalah yang terjadi, membuat Farzan belum menentukan kapan dirinya akan datang bersama Sandra.


“Aku kemarin benar-benar masih sibuk, Ma.” Farzan mencoba membela diri.


“Minggu ini, Mama tidak mau tahu kalian harus datang, atau Mama akan membatalkan rencana pernikahan kalian!” ancam Anisa yang kesal karena merasa diabaikan oleh Farzan.


Farzan menghela napas kasar, lantas mengiakan permintaan sang mama.


Sandra memperhatikan Farzan yang baru saja selesai bicara, melihat jika kekasihnya itu sedikit tertekan.


“Apa ada masalah?” tanya Sandra.


“Mama meminta kita datang makan malam bersama Chila juga. Apa kamu tidak keberatan?” tanya Farzan memberitahukan apa yang dibahas sang mama.


Farzan hanya takut jika sang mama membuat masalah lagi, mengingat Anisa belum menyukai Sandra serta merestui pun karena terpaksa.

__ADS_1


Sandra cukup terkejut mendengar Farzan malah bertanya kepadanya, tampaknya pria itu memang sangat menjaga perasaan Sandra.


“Tidak masalah, lagi pula hanya makan malam saja, ‘kan.”


__ADS_2