
“Bagaimana kalau kita ke dokter saja?” tanya Farzan saat membantu Sandra berbaring di ranjang.
Farzan meminta Chila untuk ke kamar dan beristirahat karena Sandra sakit.
Sandra menggelengkan kepala, berbaring dengan posisi bantal sedikit tinggi sambil menahan rasa sakit di ulu hati.
“Ini sangat tidak nyaman,” ucap Sandra dengan kelopak mata yang sedikit terpejam.
Farzan bingung harus bagaimana, Sandra tidak mau diajak ke dokter dan berkata jika sudah terbiasa kambuh seperti itu. Akhirnya Farzan memilih mengambil air hangat untuk mengompres di rasa sakit agar sedikit berkurang. Dia juga mengambilkan air putih dan obat yang biasa dikonsumsi Sandra, agar istrinya minum obat sebelum beristirahat.
**
Di sisi lain, Anisa dan Harun juga sudah sampai di rumah.
“Pa, apa menurutmu Sandra sedang hamil?” tanya Anisa dengan dahi berkerut karena banyak pertanyaan di kepala.
“Jangan terlalu berharap, Ma. Nanti kecewa,” balas Harun santai. Pria itu melepas jas dan memasukkan ke keranjang pakaian kotor.
Anisa sedang duduk di depan meja rias dan melepas anting, lantas memutar badan hingga memandang suaminya.
“Bukan berharap, Pa. Tapi lihat saja Sandra, wajahnya begitu pucat dan dia tidak bisa makan. Bisa saja itu tanda hamil,” kekeh Anisa merasa jika penilaiannya tidak salah.
Harun memandang sang istri yang begitu bersemangat membahas Sandra, hingga kemudian menghela napas kasar sambil menggelengkan kepala.
“Sudahlah, Ma. Pokoknya jangan tanya atau bicara yang aneh-aneh kepadanya, kasihan dia kalau sampai tertekan dan banyak pikiran.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Harun pun pergi meninggalkan Anisa.
Anisa kesal karena suaminya tidak mendukung kecurigaannya, malah menceramahi dirinya. Dia yang pernah kecewa karena menantu pertamanya, kini begitu berharap dengan menantu keduanya.
“Tidak bisa, besok aku mau memastikan.” Anisa tentunya tidak mengindahkan perkataan suaminya. Semenjak dirinya kecewa karena Grisel, sejak itu pula Anisa menjadi keras kepala dan menuruti egonya sendiri.
**
__ADS_1
Sandra masih tertidur pulas di lelapnya. Farzan pun tidur sambil memeluk istrinya itu dari belakang, setelah semalaman mencemaskan Sandra karena sang istri merintih kesakitan.
Fajar saja belum menyapa, bahkan langit masih gelap gulita, di saat Sandra merasa lambungnya terasa perih seperti lapar dan kemudian dada terasa penuh seperti sesuatu siap dikeluarkan.
Sandra terbatuk, hingga merasa mual dan ingin sekali muntah. Dia bangun dengan cepat, sampai mengejutkan Farzan yang masih terlelap. Sandra menutup permukaan bibir dengan telapak tangan, kemudian berlari keluar kamar menuju kamar mandi.
Farzan terkejut dan ikut bangun. Bahkan menyusuk Sandra yang pergi ke kamar mandi. Dia berdiri di depan pintu, mendengar Sandra yang muntah.
“San, kamu baik-baik saja?” tanya Farzan yang mencemaskan kondisi istrinya.
“Ti-dak apa-apa.” Suara Sandra terdengar berat dari kamar mandi.
Guratan kecemasan terukir jelas di wajah Farzan, kenapa asam lambung bisa sampai membuat mual hingga muntah.
Pintu kamar mandi terbuka, Farzan pun membantu Sandra berjalan karena istrinya itu terlihat lemas.
“Duduklah, aku buatkan minuman hangat,” kata Farzan sambil membantu Sandra duduk di kursi yang ada di meja makan.
Sandra mengangguk dan tidak berkomentar, kepalanya sedikit pusing setelah muntah. Dia pun duduk sambil memegangi kepala dan memijatnya sedikit pelan.
“Minumlah.” Farzan mengusap lembut rambut Sandra setelah meletakkan susu ke meja.
Sandra mengangguk, lantas mengambil gelas berisi susu dan meminumnya agar lambungnya terasa hangat dan tidak kosong.
“Apa mau makan? Biar aku buatkan sesuatu agar lambungmu terisi,” kata Farzan lagi.
Pria itu begitu memperhatikan karena sangat menyayangi Sandra. Dia tidak tega jika melihat istrinya seperti saat ini.
“Aku mau makan buah saja,” balas Sandra.
Farzan mengangguk, dengan sigap dirinya mengambil buah di lemari pendingin, lantas mengupas apel juga memberikan pisang ke Sandra.
__ADS_1
Sandra mencoba makan meski lambungnya terasa perih, dirinya tidak ingin jika maag yang dideritanya semakin parah. Namun, baru saja makan satu gigit pisang, perutnya kembali terasa mual dan Sandra langsung berlari lagi ke kamar mandi.
“San!” Farzan kembali panik, kemudian memilih menyusul ke kamar mandi yang tidak tertutup.
Sandra berjongkok di depan closet, berusaha memuntahkan apa yang ada di isi lambungnya karena merasa tidak nyaman.
“San.” Farzan tidak tega melihat kondisi Sandra yang seperti ini, hingga kemudian berjongkok dan membantu menekan tengkuk istrinya.
“Kita, ke rumah sakit saja buat periksa, ya!” ajak Farzan. Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada istrinya.
Sandra mengangguk setuju, itu karena dirinya merasa sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang terasa menjalar di seluruh tubuh.
**
Setelah mengantar Chila ke sekolah, Farzan menemani Sandra pergi ke rumah sakit setelah izin ke sekretarisnya jika akan datang terlambat. Sandra sendiri sudah menghubungi asistennya, berkata jika dirinya akan ke rumah sakit untuk periksa karena kondisinya semakin memburuk.
“Mungkin Anda sedang hamil, apa sudah coba dicek menggunakan testpack?”
Pertanyaan dokter membuat Sandra dan Farzan melongo, mereka saling tatap sebelum kemudian memandang dokter yang memeriksa Sandra.
“Ha-hamil?” Sandra seolah tidak percaya dengan diagnosa dokter yang memeriksanya.
“Hanya kemungkinan, karena saya dokter umum dan tidak bisa memastikannya. Gejala yang Anda alami memang mengacu ke asam lambung yang naik, tapi asam lambung naik pun bisa karena adanya perubahan hormon di tubuh,” ujar dokter itu menjelaskan lagi.
Sandra menggenggam erat tali tas yang ada di pangkuan, apakah benar jika dirinya hamil, meski sebelumnya tidak optimis mengingat umurnya yang hampir kepala empat.
Farzan tidak berkata-kata, tapi dalam hatinya berdoa jika memang benar Sandra hamil. Itu akan menjadi hadiah teristimewa baginya.
“Saya sarankan melakukan cek dengan testpack dulu atau bisa langsung ke poli kandungan. Silakan pilih, jika ingin cek dulu sendiri, saya akan memberikan obat anti mual yang aman, untuk berjaga-jaga jika Anda memang hamil,” kata dokter itu, menatap Farzan dan Sandra bergantian.
“Saya akan cek dulu.”
__ADS_1
“Saya akan membawanya ke poli kandungan.”
Farzan dan Sandra bicara bersamaan dan bertolak belakang, membuat dokter kebingungan dan menatap dua orang itu bergantian.