
Sandra pulang ke rumah di malam hari, tentunya setelah dirinya menengok Chila di rumah Gilang. Wanita itu harus tinggal sendiri sementara waktu, hanya demi mengamankan sang putri tersayang agar tidak ada yang melukai.
Memang berat keputusan yang diambil Sandra, tapi semua demi keselamatan si kecil. Dia tidak akan pernah mempertaruhkan keselamatan Chila, hanya karena dendam yang sebenarnya tak bisa dibilang dendam, karena bagaimanapun pria itu bersalah.
“Halo, ada apa?” Sandra menjawab panggilan dari Farzan.
“Kamu sudah pulang?” tanya Farzan dari seberang panggilan.
“Ya, baru saja sampai,” jawab Sandra sambil melepas heels dan duduk di sofa.
“Aku berada di jalan menuju rumahmu, apa kamu mau nitip sesuatu?” tanya Farzan.
Sandra menaikkan kedua alis, kenapa kekasihnya itu mau ke rumah. Mungkinkah Farzan merasa cemas.
“Tidak ada, tidak perlu ….” Sandra berhenti bicara saat listrik di rumahnya tiba-tiba padam.
“San, tidak perlu apa?” tanya Farzan dari seberang panggilan.
Sandra tidak langsung menjawab pertanyaan Farzan, melihat keluar dan lampu jalan hidup tapi kenapa rumahnya padam. Hingga Sandra melihat sekelebat bayangan dari luar, membuatnya langsung waspada.
“Sandra, ada apa?” tanya Farzan karena Sandra diam.
“Zan, listrik rumahku padam. Sepertinya ada orang lain juga di rumah.” Sandra bicara dengan pelan, mata masih mengawasi bayangan yang tampak mondar-mandir di luar.
Farzan sedang mengemudikan mobil menuju rumah Sandra, tampak begitu terkejut saat mendengar ucapan Sandra.
“Keluar dari rumah!” perintah Farzan yang panik. Pria itu langsung memacu mobil dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai ke rumah Sandra.
“Tidak bisa, orang itu di depan.” Sandra beringsut dari sofa untuk bersembunyi, kemudian berjongkok dan mencoba berjalan mundur dengan tatapan terus tertuju ke jendela depan.
Di dalam mobil Farzan semakin panik, kemudian meminta Sandra bersembunyi selagi dirinya menuju ke sana.
Sandra mengakhiri panggilan itu, masih mengawasi hingga melihat pintu rumah terbuka. Wanita itu bersembunyi di samping sofa, tangan meraih vas bunga untuk digunakan sebagai alat membela diri.
__ADS_1
Seorang pria masuk rumah Sandra kemudian mengunci pintu dari dalam, pria itu mengenakan kaus dan celana hitam, serta berjalan perlahan mengendap sambil memantau situasi.
Sandra memegang vas bunga begitu erat, siap menggunakan benda itu untuk melawan penjahat yang masuk rumah.
Pria itu berjalan tepat di samping Sofa, Sandra masih tak bergerak dan memilih bersembunyi karena jika langsung melawan pun akan percuma. Sandra mencari cela agar bisa lari keluar rumah, dengan begitu dirinya bisa meminta bantuan di luar.
Pria itu kembali berjalan pelan dan berhenti lagi, hingga menatap ke kamar yang ada di rumah itu.
Sandra melangkah kecil masih dengan berjongkok, hendak pergi ke pintu untuk kabur. Saat pria itu melangkah lagi, Sandra mencoba berdiri untuk berlari ke pintu ketika berhasil sayangnya tak bisa membuka karena kunci diambil pria tadi.
“Akh!” Sandra memekik saat rambut dijambak dari belakang. Terkejut karena ternyata dia ketahuan.
Pria yang masuk rumahnya menyadari jika Sandra akan kabur, lantas meraih rambut Sandra dan menariknya kuat. Kemudian menghempaskan tubuh wanita itu ke lantai.
“Kamu benar-benar ingin main petak umpet denganku, hah?” Pria itu berdiri di depan kaki Sandra, menatap wanita itu yang berada di lantai.
Sandra merasakan tubuhnya sakit karena membentur lantai, serta kulit kepala yang begitu perih karena ditarik begitu keras, kemudian memandang pria yang berdiri di hadapannya.
“Mau apa kamu? Aku tidak mengenalmu!” Meski dirundung rasa takut, Sandra mencoba bersikap kuat.
“Kamu bersalah dan sudah selayaknya dihukum!” Sandra menatap pria itu penuh waspada.
Pria itu melangkah dan membuat Sandra mundur semampunya.
Pria itu berjongkok dengan cepat, lantas memosisikan tangan di leher Sandra, sedikit menekan untuk mencekik wanita itu.
Sandra mencoba menahan tangan pria itu agar tidak mencekik, tapi tenaganya tetap kalah kuat dari pria itu.
“Aku tidak peduli salah atau benar, karena tugasku melenyapkanmu.” Pria itu menggunakan dua tangan untuk mencekik Sandra, dia berada di atas tubuh kekasih Farzan itu dan mencoba mencekik begitu kuat.
Sandra mencoba menahan kedua tangan pria itu, memberontak dengan tenaga yang dimiliki. Namun, semua usahanya sia-sia, dia tak bisa membuat pria itu berhenti mencekik.
Farzan baru saja sampai di rumah Sandra, bergegas turun bahkan tanpa mematikan mesin mobil. Berlari ketika melihat pintu rumah kekasihnya itu tertutup, lantas mengintip dari jendela dan melihat Sandra yang berada di bawah kungkungan seorang pria.
__ADS_1
“Sandra!” Farzan panik, berusaha membuka pintu tapi terkunci.
Farzan tidak bisa tinggal diam, melepas jas kemudian menggulung di telapak tangan. Dia mengayunkan kepalan telapak tangan yang sudah berbalut jas ke kaca jendela, hingga akhirnya bisa membuat kaca pecah dan memberikan jalan untuknya masuk.
Pria yang sedang berusaha membunuh Sandra terkejut mendengar suara pecah, menoleh dan melihat Farzan yang sedang masuk. Dia pun melepas Sandra dan berdiri, kemudian mengambil sesuatu dari balik kaus.
Sandra terbatuk-batuk saat tangan pria itu terlepas dari leher, wajahnya sudah pucat pasi karena aliran oksigen dan darah tersendat akibat ulah pria itu.
Farzan melihat Sandra yang terbatuk, kemudian menatap tajam pria yang hendak mencelakai Sandra.
“Biadap!” umpat Farzan begitu geram.
Pria itu menyeringai, tangan kanan tampak memegang belati.
“Pengganggu kesenangan.” Pria itu menatap Farzan dengan seringai di wajah.
Pria itu mengarahkan pisau ke arah Farzan, hendak menusuk tapi Farzan bisa menghindar dengan cepat.
Farzan memukul tangan pria itu untuk menjatuhkan pisau, sebelum kemudian menyiku dada hingga pria itu mundur karena terkena hantaman begitu kuat.
“Sialan!” Pria itu memegangi dada yang terkena pukulan Farzan.
Keduanya terlibat saling baku hantam, beberapa kali Farzan berhasil mendaratkan bogem mentah di wajah maupun perut pria yang menyusup masuk rumah Sandra, sampai akhirnya pria itu tersungkur di lantai.
Sandra beringsut di dekat sofa, melihat perkelahian yang terjadi dalam kegelapan itu.
Pria itu geram karena kalah dari Farzan, hingga melihat pisau yang ada di lantai kemudian meraihnya. Farzan mendekat untuk meringkus pria itu, tapi saat akan membungkuk untuk menahan, pria itu langsung mengayunkan pisau.
Untung saja Farzan bisa menghindar, tapi pria itu tidak menyerah. Pria itu berdiri kemudian kembali mengayunkan pisau, mencoba menusuk tapi terus gagal. Hingga tatapan pria itu tertuju ke Sandra, merasa Farzan agak jauh dari wanita itu, membuat penjahat memilih menargetkan Sandra.
Dia berlari ke arah Sandra, hingga mengarahkan pisau ke Sandra. Farzan begitu terkejut, lantas mencoba berlari ke arah Sandra agar penjahat itu tidak melukai sang kekasih. Sandra sangat panik, saat penjahat itu mendekat apalagi pisau mengarah kepadanya.
“Mati kau!” teriak pria itu dengan pisau siap menghujam ke tubuh Sandra.
__ADS_1
Sandra memejamkan mata karena tak bisa kabur, hingga kembali membuka mata karena tak merasakan apa pun. Sampai Sandra begitu terkejut dengan bibir begitu kelu ketika melihat yang terjadi, darah tampak mengalir membasahi lantai.