Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Barang sisa


__ADS_3

Darren masih setia menunggu Viona hingga sadar. Dia sangat menyesal karena selam ini tidak peduli, bahkan tidak tahu jika istrinya sedang sakit.


Setelah beberapa jam pingsan, akhirnya Viona sadar dan hal pertama yang dilihatnya adalah Darren. Wanita itu merasakan telapak tangan yang digenggam Darren dan langsung menariknya.


“Kamu sudah sadar.” Darren terlihat begitu bahagia melihat Viona sadar.


Viona memalingkan wajah, seolah tidak senang melihat pria itu di sana.


“Kenapa kamu di sini?” tanya Viona dengan suara lemah.


“Aku sangat mencemaskanmu, bagaimana bisa kamu bertanya kenapa aku di sini,” ujar Darren memandang Viona yang tidak mau menatapnya.


Viona tersenyum getir mendengar ucapan Darren, hingga kemudian menoleh dengan bola mata berkaca.


“Cemas? Sekarang kamu baru cemas? Ke mana saja kamu dulu? Kamu bahkan tidak pernah menanyakan kenapa aku sering ke luar negeri, bahkan curiga pun kamu tidak, seolah tidak pernah memedulikanku. Kamu tidak pernah tahu, karena selama ini kamu abai, sebab itu aku pun memilih diam. Sayangnya kamu malah bertingkah sesuka hatimu, melakukan hal-hal yang membuatku semakin merasa sakit!”


Bola mata Viona berkaca-kaca, bahkan ujung hidung dan kelopak mata memerah karena menahan air mata.


Darren buru-buru menggenggam telapak tangan Viona, mengusap lembut dengan tatapan terus tertuju ke istrinya itu, bahkan saat Viona mencoba menarik tangan, Darren tidak mengizinkan dan semakin menggenggam erat.


“Aku sadar telah egois dan salah. Tapi aku benar-benar mencintaimu, Vi. Aku mohon beri kesempatan kedua untukku, aku berjanji akan berubah,” pinta Darren memelas. “Aku ingin menebus kesalahan yang pernah aku perbuat, Vi. Aku mohon.”


Viona terdiam mendengar permohonan Darren, tapi dia tetap bersikukuh akan bercerai dari Darren.

__ADS_1


“Memohon sekarang pun percuma, aku tetap akan meminta cerai. Aku harap kamu bisa menghormati keputusanku!” Viona tetap kekeh dengan pendiriannya karena semua sudah dipertimbangkannya dengan matang.


Darren cukup terkejut dengan keputusan Viona yang tidak bisa diubah, tapi pria itu tetap bertekad untuk berusaha membuat Viona mengurungkan niat bercerai. Dia ingin menebus kesalahannya, jadi dia akan terus berusaha membuat Viona menerima dirinya.


**


Grisel keluar dari rumah secara diam-diam dengan menyamar. Tentu saja wanita itu tidak bisa tinggal di rumah begitu saja.


“Aku harus menemui Darren, dia harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi,” gumam Grisel saat berada di taksi.


Grisel pergi ke rumah sakit untuk mencari Darren. Dia tahu jika Darren pasti ada di sana karena di berita terlihat Darren yang ada di rumah sakit. Dia pergi mengenakan topi dan penutup wajah agar tidak ada yang melihat, sesampainya di rumah sakit langsung mencari informasi kamar inap Viona.


Grisel langsung pergi ke ruang inap tempat Viona dirawat. Saat hampir sampai di ruang rawat inap Viona, Grisel melihat Darren yang baru saja keluar dari kamar.


Darren sangat terkejut dengan yang dilakukan Grisel, hingga menepis kasar tangan wanita itu dari lengannya.


“Siapa kamu?” tanya Darren tidak senang.


Grisel membuka penutup wajah, hingga membuat Darren terkejut karena ada Grisel di sana.


“Kita perlu bicara, kamu tidak bisa terus mengabaikanku!” Grisel menatap pria yang menjadi selingkuhannya itu.


“Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Pergi kamu dari sini!” Darren langsung mengusir Grisel.

__ADS_1


Darren hendak memutar badan untuk pergi, tapi terhenti saat mendengar Grisel bicara.


“Setelah kamu menjadikanku selingkuhan, lalu terlibat skandal, kamu sekarang mau mengabaikanku begitu saja! Apa kamu pikir aku akan tinggal diam? Aku tidak terima kamu membuangku begitu saja!” geram Grisel sampai menghentakkan satu kaki ke lantai.


Darren langsung menatap tajam Grisel, merasa kalau wanita itu sudah banyak bicara. Dia lantas mendekat ke Grisel dan mendorong tubuh wanita itu hingga membentur tembok.


“Kamu sudah tahu konsekuensi menjadi selingkuhan, tapi kamu mau menerima semuanya. Sekarang kamu ingin menyalahkanku, apa kamu pikir aku ini bodoh! Sekarang diam saja di rumahmu, serta tidak usah banyak bicara, paham!” Darren melepas tangan yang mendorong Grisel, lantas sedikit mundur untuk menjauh dari wanita itu.


“Aku tidak mau kamu buang! Aku masih memiliki harga diri! Jika kamu membuangku, maka aku tidak akan segan mengusik hidupmu!” ancam Grisel.


Darren tertawa mendengar ucapan Grisel, hingga kemudian tersenyum mencibir ke wanita itu.


“Harga diri? Harga dirimu sudah lama hancur saat kamu menyerahkan diri ke pelukanku! Apa kamu pikir masih memilikinya? Munafik!” cibir Darren.


“Perjanjian kita hanya sebatas di atas ranjang, jadi aku harap kamu bisa sadar diri! Kamu tak lebih dari sebuah barang sisa yang layak dibuang kapan saja!”


Darren terus mencecar Grisel dengan ucapan hinaan, membuat wanita itu mengepalkan kedua telapak tangan dengan erat.


“Padahal aku menaruh hati kepadamu.” Tanpa diduga kalimat itu lolos dari bibir Grisel.


Darren ingin tertawa mendengar ucapan Grisel, hingga kembali menatap selingkuhannya itu dengan tajam.


“Sayangnya aku hanya mencintai istriku, meski aku telah membuat kesalahan,” ucap Darren. Pria itu hendak meninggalkan Grisel, tapi kemudian kembali menoleh dan berkata, “Jika kamu berani mengganggu Viona, maka aku tidak akan segan membunuhmu dengan kedua tanganku!”

__ADS_1


Grisel bergeming mendengar ancaman Darren, kini dia bagai jatuh tertimpa tangga. Karir dan hidupnya hancur, tidak ada lagi tempatnya bernaung atau sekadar berkeluh kesah. Dia adalah wanita buangan yang tidak diharapkan oleh siapapun.


__ADS_2