Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Hamil


__ADS_3

Setelah sama-sama berargumen, akhirnya Sandra memilih mengalah dan menuruti pilihan Farzan. Sebenarnya Sandra takut jika dirinya tidak hamil dan itu akan membuat Farzan kecewa.


Sandra duduk menunggu antrian, sesekali terlihat meremas jemarinya sendiri karena cemas.


Farzan yang menyadari hal itu pun menggenggam telapak tangan Sandra, tatapannya begitu teduh memandang Sandra yang gusar.


“Apa perutmu sakit lagi?” tanya Farzan cemas, berpikir jika Sandra gusar karena rasa sakit di perut.


Sandra menggelengkan kepala, kemudian menjawab, “Tidak, aku baik-baik saja.”


Akhirnya setelah menunggu antrian, nama Sandra pun dipanggil. Dia dan Farzan pun masuk ke ruang pemeriksaan.


Setelah menjelaskan kondisi yang dialami Sandra, dokter pun meminta Sandra untuk berbaring di ranjang pesakitan dan mengecek apakah ada kantong janin di rahim Sandra.


Sandra sendiri tahu jika dirinya terlambat menstruasi, tapi bagi wanita seusianya, hal itu wajar saja. Dia hanya tidak ingin terlalu berharap yang akan membuatnya kecewa.


Farzan berdiri di samping kiri Sandra, menunggu dokter memeriksa sang istri. Penuh perhatian Farzan menggenggam telapak tangan Sandra.


“Coba kita cek ya, Bu.” Dokter bersiap memeriksa Sandra.


Sandra tampak tegang, bahkan dia sampai menggenggam erat telapak tangan Farzan. Sungguh, Sandra tidak ingin Farzan berharap dan kecewa.


Dokter mulai menyentuhkan alat USG ke perut bagian bawah Sandra, hingga tatapan dokter itu tertuju ke monitor yang ada di sana.

__ADS_1


Farzan pun memandang ke monitor, dalam hati terus berdoa agar sang istri benar-benar hamil.


Seulas senyum terbit di wajah dokter itu, hingga kemudian wanita berumur tiga puluh tahun itu memandang Sandra dan Farzan secara bergantian, sebelum kembali fokus ke monitor.


“Selamat, Anda benar-benar hamil. Di sini kantong janinnya. Lalu ini janin yang sudah terbentuk, ini kepala dan ini bagian pantatnya nanti,” ucap dokter sambil memperlihatkan satu persatu bagian yang disebutkan.


Mendengar jika dirinya hamil, Sandra melirik ke monitor besar yang ada di sana. Ya, setelah sepuluh tahun, kini ada lagi janin yang singgah di rahimnya. Sandra melihat bentuk janin yang belum sempurna, tapi sudah menunjukkan jika akan ada nyawa yang tinggal di sana.


“Usia kandungannya sudah sepuluh minggu, kondisi janinnya tampak sehat.” Dokter pun selesai memeriksa kemudian berjalan menuju mejanya lagi.


Sandra masih tidak percaya jika hamil, hingga tanpa terasa sebutir kristal bening luruh dari kelopak mata. Dia terharu, senang, bahagia.


“San.” Farzan pun tak kalah bahagia. Dia yang sudah sangat menanti bisa mendapatkan anak, kini akhirnya doa selama ini terkabul.


“Terima kasih,” ucap Farzan penuh rasa syukur.


**


Setelah mendapatkan vitamin dan juga obat mual serta penguat. Sandra dan Farzan pun pulang langsung ke rumah Anisa, karena Chila ada di sana.


Farzan meminta Anisa menjemput Chila, karena dia dan Sandra berada di rumah sakit sampai pukul dua siang. Namun, Farzan tidak berkata jika mengantar Sandra ke dokter kandungan, hanya berkata kalau memeriksakan Sandra.


“Mama!” Chila senang melihat Sandra datang, gadis itu berlari dan memeluk Sandra.

__ADS_1


“Bagaimana tadi sekolahnya?” tanya Sandra sambil mengusap lembut rambut Chila.


Chila mengangguk tanda sekolahnya lancar. Dia lantas menatap wajah sang mama yang pucat.


“Mama masih sakit?” tanya Chila cemas. Dirinya paling takut jika Sandra sakit.


Sandra menggelengkan kepala dengan seulas senyum.


“Mama tidak sakit, hanya sedikit lelah,” jawab Sandra yang tidak langsung memberitahukan tentang kondisinya.


Anisa memperhatikan Sandra yang sedang bicara dengan Chila, sebelum kemudian menatap ke Farzan yang terus mengulas senyum.


“Istrinya sakit, kenapa Farzan terlihat bahagia. Apa dugaanku benar?” Anisa bertanya-tanya dalam hati.


Sandra menggandeng tangan Chila, menghampiri Anisa bersama Farzan dan kemudian menyapa mertuanya itu.


“Ma.” Meski sudah menikah tiga bulan, tapi tetap saja Sandra kikuk saat berhadapan dengan Anisa.


Sandra duduk bersama Chila yang kembali mewarnai gambar, sedangkan Farzan memilih duduk di samping ibunya.


“Bagaimana? Kamu sakit apa?” tanya Anisa yang sebenarnya ingin menunjukkan perhatian, tapi masih gengsi sehingga apa yang diucapkannya terdengar ketus.


Farzan mendekatkan bibir ke telinga sang mama, sedangkan satu tangan merangkul pundak Anisa.

__ADS_1


“Sandra hamil, Mama akan dapat cucu.”


__ADS_2