Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Main api


__ADS_3

Grisel berada di mobil sambil mengompres pipi yang bengkak karena ditampar berulang oleh Sandra. Dia sangat marah dan malu, tapi tak bisa membalas.


“Lihat saja! Aku akan membuat perhitungan dengannya!” geram Grisel.


Claudia memandang Grisel, menilai jika semua yang terjadi sebenarnya adalah kesalahan Grisel sendiri.


“Gris, mengalah saja. Semua kejadian ini juga bermula dari perilakumu. Kamu beneran ingin menculik anak wanita itu?” Claudia memberanikan diri bicara, meski pada akhirnya akan terkena semburan dari Grisel.


Grisel langsung menoleh dengan cepat saat mendengar ucapan Claudia, menatap tajam ke managernya yang mulai banyak bicara lagi.


“Aku hanya ingin memberinya pelajaran, siapa juga yang mau menculik!” Grisel mencoba membela diri.


Claudia menghela napas kasar mendengar pembelaan Grisel, berpikir jika Grisel tak mengambil pelajaran dari kejadian yang sudah-sudah.


Saat Grisel masih mengompres pipi, ponselnya berdering dan nama Darren terpampang di sana.


“Darren.” Bola mata Grisel berbinar bahagia.


Grisel memberikan kompres ke Claudia, kemudian segera mungkin menjawab panggilan dari Darren.


“Halo.” Setelah beberapa hari, akhirnya Darren menghubungi Grisel, tentu saja hal itu membuat Grisel begitu bersemangat.


Grisel mendengarkan apa yang diucapkan Darren, kemudian mengangguk dan berkata akan segera ke sana.


“Ada apa?” tanya Claudia yang cemas jika sampai Grisel mendapatkan masalah.


“Darren ingin menemuiku di apartemen. Antar aku ke sana.” Tanpa berpikir berlebih, Grisel langsung minta diantar ke apartemen. Tentu saja di pikirannya hanya ada keinginan bercinta dengan pria itu.


**


Viona masih bersama asistennya memantau perkembangan video yang beredar di perusahaan, hingga Cecil mendapatkan informasi jika video itu sudah dihapus.


“Sepertinya Pak Darren bertindak,” kata Cecil sambil menunjukkan chat dari salah satu staf yang menginformasikan kalau pesan di grup chat perusahaan banyak yang dihapus termasuk video penamparan Grisel.


Tatapan Viona terlihat menakutkan, pancaran matanya penuh dendam dan amarah yang menggunung tinggi.


“Sepertinya aku harus bertindak,” ucap Viona.

__ADS_1


Viona memikirkan Sandra. Saat menolong Chila, Liana bercerita kenapa Grisel bersikap kasar terhadap Chila, hingga Viona tahu jika Grisel memiliki dendam kepada Sandra karena dianggap merebut Farzan.


“Dia tak becus menjadi istri, kemudian suaminya terpikat wanita lain, lalu dianya sendiri menjadi selingkuhan. Sungguh ironi.” Viona menyesap teh hijau setelah bicara.


“Apa aku harus bertemu dengan wanita itu untuk bekerja sama memberi Grisel pelajaran? Bukankah musuh dari musuhku adalah teman?” Setelah minum, Viona kembali bicara, kemudian memandang Cecil yang duduk berseberangan dengannya.


Cecil tersenyum mendengar ucapan Viona, majikannya itu memang sangat cerdas serta selalu memiliki rencana untuk maju ke tujuannya.


“Anda sangat cerdas, Nona.”


Viona menyeringai, terlihat bodoh dan tak tahu apa-apa adalah jurusnya. Selama ini dia berhasil menyingkirkan selingkuhan Darren tanpa diketahui oleh pria itu. Viona suka bermain halus, tapi kali ini tampaknya harus bermain sedikit kasar karena lawannya pun bukan wanita sembarangan.


Viona mengambil ponsel di meja, hendak menghubungi seseorang tapi ternyata ponselnya sudah berdering terlebih dulu.


“Halo.” Viona langsung menjawab panggilan itu.


“Nona, Pak Darren pergi ke apartemen,” ucap seorang pria dari seberang panggilan.


“Apartemen?” Viona mengerutkan dahi karena ini jam kerja.


Viona mengepalkan telapak tangan, siang bolong pun keduanya ingin bermain api. Viona begitu geram, hingga kemudian kembali bicara.


“Apartemen mana?” tanya Viona karena mengetahui semua apartemen yang dimiliki suaminya.


Viona mendengarkan, hingga kemudian menyeringai, “Tetaplah pantau, sisanya biar aku yang mengurus.”


Viona mengakhiri panggilan itu, kemudian menggenggam erat ponsel yang ditangan.


“Nona.” Cecil melihat amarah dan kekecewaan di tatapan Viona.


“Hubungi pengembang gedung dan katakan aku ingin bicara.” Viona memberi perintah, menyebut nama apartemen tempat Darren dan Grisel bertemu.


“Dia pikir aku tidak tahu apa-apa, dipikir siapa dia?” Viona menyeringai dengan tatapan menusuk penuh amarah.


**


Grisel sudah berada di apartemen saat Darren datang, senyum merekah terpasang di wajah ketika melihat kedatangan pria itu.

__ADS_1


“Darren.”


Darren memasang wajah datar, kemudian memilih melonggarkan dasi dan melepas jas.


“Apa yang sedang coba kamu lakukan, hah?” Darren menatap Grisel dengan perasaan tak senang.


Grisel terkejut karena Darren langsung bertanya demikian, tanpa menanyakan kondisinya yang penuh luka lebam.


“Memangnya apa yang aku lakukan?” tanya Grisel sambil memandang Darren yang duduk. Dia masih berdiri tepat di hadapan pria itu, sedikit menunduk agar bisa menatap wajah pria yang membuatnya tergila-gila.


“Kamu sengaja melukai Viona, lalu membuat masalah dengan wanita lain hingga videomu tersebar di seluruh perusahaan. Itu sangat memalukan!” geram Darren menjawab pertanyaan Grisel.


Grisel begitu terkejut mendengar Darren menuduhnya melukai Viona dan membuat masalah.


“Asal kamu tahu, aku tidak pernah melukai istrimu, soal masalah itu. Ya, aku akui jika yang memulai, karena tentunya aku kesal dengan wanita itu!” Grisel sejak tadi menahan amarah yang meluap, kini dirinya semakin emosi karena Darren tak peduli dan malah menyalahkan dirinya.


“Lihat wajahku! Istrimu menamparku di jalan, lalu wanita sialan itu menambahnya! Kamu berjanji akan membuat hidupku tenang, tapi nyatanya apa? Aku curiga istrimu tahu tentang hubungan kita, hingga dia membuat masalah dan menuduh hal yang tidak pernah aku lakukan!” Grisel bicara sambil menunjuk wajahnya yang lebam, benar-benar geram hingga meluapkan kekesalan ke Darren.


Darren terdiam mendengar ucapan Grisel, berpikir jika apa yang dikatakan selingkuhannya itu bisa saja benar, mengingat malam itu Viona tiba-tiba membahas tentang perselingkuhan.


“Aku mencoba menuruti ucapanmu, tenang dan tidak berbuat hal yang bisa memalukanmu. Tapi kenyataannya istrimu datang dan seolah terus membuat masalah denganku,” geram Grisel bicara dengan sangat tepat.


Darren tiba-tiba menarik tangan Grisel, membuat wanita itu jatuh ke pangkuannya.


“Sepertinya yang kamu katakan benar. Sebab itu aku menjaga jarak dan tidak menghubungimu. Masalahmu di perusahaan sebenarnya sudah aku selesaikan, tapi mungkin lebih baik kamu tidak ke perusahaan untuk sementara waktu. Aku akan mengatur alasan yang tepat, belum lagi wajahmu yang juga terlihat memar.” Darren bicara sambil mengapit dagu Grisel, mengarahkan wajah hingga saling tatap dengannya.


“Kamu tahu betapa tersiksanya aku,” ucap Grisel menurunkan ego agar Darren tak semakin marah kepadanya.


“Aku tahu, tapi bersabarlah. Bukankah kamu juga tahu resiko menjadi wanita simpanan,” balas Darren.


Grisel menatap Darren begitu dalam, hingga mendekatkan wajah dan mencium bibir pria itu.


“Temani aku sebentar, maka aku akan melupakan kejadian istrimu yang menamparku serta akan menuruti ucapanmu,” pinta Grisel dengan tatapan sayu.


Darren mengangguk tanda setuju, sebenarnya juga rindu ingin bercinta dengan Grisel.


Grisel tak menyiakan kesempatan bersama Darren, hingga langsung menyambar bibir pria itu sambil membuka kemeja dan meloloskan dari tubuh Darren. Setelah terlepas, Grisel menurunkan gaunnya hingga keduanya kini melakukan penyatuan di atas sofa penuh gairah untuk memenuhi hasratt mereka.

__ADS_1


__ADS_2