Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Tidur Berdua


__ADS_3

Malam semakin larut, Farzan benar-benar tidur di sofa sedangkan Sandra di ranjang. Sandra tidak bisa tidur karena merasa sedikit cemas, ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama dirinya berada dalam satu kamar dengan pria. Dia memang terbiasa dekat dengan Gilang, tapi bersama Farzan semua rasanya berbeda.


Sandra bangun dan duduk, kemudian memandang sofa di mana Farzan tidur di sana. Melihat pergerakan berulang kali di sana, Sandra yakin jika Farzan pasti tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Sandra turun dari ranjang, lantas mengambil selimut untuk diberikan ke Farzan. Dia berjalan perlahan karena takut jika langkah kakinya mengganggu tidur pria itu, hingga Sandra melihat Farzan yang memang dalam posisi kurang nyaman. Dia pun menyelimuti Farzan dari kaki hingga sebatas perut, kemudian bersiap kembali ke ranjangnya semula.


Namun, saat akan beranjak pergi, tangan ditahan hingga membuat Sandra menoleh dan memandang Farzan yang ternyata sudah membuka mata.


“Tidak bisa tidur?” tanya Farzan karena Sandra bangun dan menyelimutinya.


“Baru akan tidur,” jawab Sandra.


“Aku yang tidak bisa tidur,” kata Farzan sebelum kemudian menarik tangan Sandra.


Sandra terkejut hingga terduduk di sofa, memandang Farzan yang berbaring menatap dirinya.


“Kenapa tidak bisa tidur?” tanya Sandra.


“Entah,” jawab Farzan. “Bisakah kamu tidur di sini saja?” tanya Farzan kemudian.


“Hah, apa?”

__ADS_1


Belum juga Sandra merespon, Farzan menarik tubuh wanita itu hingga berbaring di sampingnya.


“Zan!” Sandra sangat terkejut dengan yang dilakukan pria itu.


“Ini lebih baik, aku hanya ingin tidur dan tidak akan melakukan apa pun,” kata Farzan sambil menutup kelopak mata, dengan satu tangan berada di pinggang Sandra.


Sandra meletakkan kedua tangan di depan dada untuk memberikan jarak antara dirinya dan Farzan. Ditatapnya wajah pria itu, melihat jika Farzan sudah memejamkan mata. Mungkin dirinya bisa pergi setelah Farzan benar-benar sudah tidur.


**


Farzan sedang membuka perban di tangan, pagi ini mandi tapi perban terkena air.


“Biar aku bantu,” kata Sandra yang melihat Farzan sibuk membuka perban, ketika dirinya sedang masuk kamar.


“Kenapa tidak minta bantuan?” tanya Sandra yang sudah duduk di depan Farzan, mengambil alih perban yang sedang dibuka.


“Kamu sibuk membantu Bi Sum membuat sarapan, bagaimana bisa aku mengganggu,” jawab Farzan.


Sandra melirik Farzan sekilas, kemudian kembali fokus ke tangan pria itu yang terluka. Sandra membersihkan sisi perban bagian dalam agar tidak kotor, sebelum kemudian kembali membungkus dengan kasa steril.


“Seharusnya jangan kena air, kenapa malah basah?” tanya Sandra sambil sibuk melilitkan kasa ke telapak tangan Farzan.

__ADS_1


“Tidak sengaja terkena cipratan air,” jawab Farzan sambil memandang Sandra tanpa berkedip.


Semalam dirinya ingat tidur satu sofa dengan Sandra, saat bangun masih melihat wanita itu tidur bersamanya, bisa melihat bagaimana wajah bantal Sandra serta merasakan embusan napas pelan dan begitu tenang kekasihnya itu.


“Sudah, lain kali hati-hati, nanti lukanya tidak kering-kering,” kata Sandra setelah selesai menutup telapak tangan Farzan dengan kasa.


“Terima kasih,” jawab Farzan sambil mengamati telapak tangannya.


Sandra mengemas sisa kasa ke kotak obat, kemudian menoleh Farzan yang duduk di sebelahnya.


“Chila bertanya apa kamu bisa datang melihatnya,” kata Sandra.


Pagi tadi Chila mengirimkan pesan jam berapa Sandra akan mampir sebelum bekerja, serta bertanya apakah Farzan akan ikut juga.


“Tentu, kenapa tidak?” Farzan tentu saja takkan keberatan untuk bertemu Chila.


Sandra tampak memikirkan sesuatu, lantas memandang Farzan dan siap mengatakan apa yang ada di pikirannya.


“Mungkin jika kamu datang dan menemui Chila, hal itu akan membuat Pak Gilang bertanya-tanya. Aku hanya ingin kamu bersikap biasa saja dengan beliau, meski mungkin beliau akan terkesan begitu menyelidik terhadapmu. Pak Gilang hanya mencemaskanku dan Chila, dia tidak mudah percaya kepada siapapun, terutama orang yang dekat denganku. Kamu tidak akan marah ‘kan jika nantinya bertemu dan mendapati Pak Gilang yang mungkin saja akan terkesan tak menyukaimu?” tanya Sandra cemas, lebih baik memberitahu Farzan terlebih dahulu, agar tidak syok jika saja Gilang tiba-tiba bersikap tak menyukai pria itu.


“Tenang saja, bukankah kamu sudah pernah bercerita tentang Pak Gilang seperti apa. Aku pasti bisa menghadapinya. Lagi pula dia belum tahu tentang hubungan kita, ‘kan?” tanya Farzan balik.

__ADS_1


“Entahlah, aku belum bicara jujur kepadanya,” jawab Sandra.


Sandra sendiri tidak yakin jika Gilang belum tahu. Meski dirinya belum bercerita, tapi Sandra yakin jika Gilang pasti takkan tinggal diam. Pria itu pasti mencari tahu tentang Farzan karena dekat dengannya. Namun, Sandra sendiri yakin, jika Gilang pasti mencari tahu serta waspada juga demi keselamatan dirinya, serta yakin jika pria itu pasti bisa menilai mana yang baik dan buruk.


__ADS_2