
Darren sangat terkejut melihat kamar yang seperti baru saja dihantam tsunami. Pecahan porselen dan kaca berserakan di lantai, bantal selimut pun di lantai.
“Sayang, ada apa?” tanya Darren sambil mendekat perlahan menghampiri Viona.
Viona duduk di tepian ranjang sambil memandang ke arah televisi yang terpasang di dinding, hingga menoleh sang suami dengan wajah basah dan begitu merah.
“Kamu sudah pulang?” Viona menghapus air mata, lantas mengulas senyum ke arah Daren.
Darren merasa lega melihat senyum Viona, awalnya ketakutan jika Viona mengetahui sesuatu lantas mengamuk dan membuat seisi kamar hancur. Darren yang sudah hidup selama beberapa tahun bersama Viona, tentu tahu betul bagaimana sifat istrinya. Viona jarang sekali marah, apalagi sampai menghancurkan sesuatu.
Darren berjalan melewati pecahan yang berserakan di lantai, lantas duduk di samping sang istri sambil memandang wajah Viona yang basah.
“Ada apa? Kenapa kamu sampai menangis dan menghancurkan isi kamar?” tanya Darren sekali lagi menyelidik.
Viona tersenyum lebar, kemudian menghapus ingus dan air mata menggunakan tisue.
“Aku tuh kesel, sayang.” Viona membuang bekas tisu serampangan ke lantai.
Darren terkejut melihat Viona yang begitu jorok membuang bekas tisu sembarang, tapi saat ini bukan itu poin utamanya.
“Kamu kesel kenapa?” tanya Darren.
Viona menunjuk ke arah televisi, membuat Darren ikut memandang ke arah benda flat berukuran lima puluh inci itu.
“Aku kesel sama Pedro, kenapa dia selingkuh dari Maria. Padahal Maria sedang sakit, serta menyembunyikannya dari Pedro karena tak mau suaminya cemas. Tapi Pedro jahat dan malah berselingkuh, sudah gitu selingkuhannya mengirim video hubungan bercinta mereka ke Maria.” Viona mengambil tisu lagi, lantas membersihkan ingus yang masih keluar.
Kamu masih terus bersikap tak terjadi apa-apa, maka aku pun akan melakukannya. Aku tidak bodoh Darren, ada saatnya kamu akan berlutut dan memohon kepadaku. Tapi saat itu tiba, jangan harap aku akan memberimu kesempatan kedua. Viona mengusap ingus dengan tatapan tajam tertuju ke layar televisi, untung saja ada drama perselingkuhan yang bisa dijadikannya alasan menghancurkan kamar.
Darren menelan ludah susah payah, berpikir kenapa istrinya terus membahas masalah perselingkuhan sejak kemarin, bahkan kali ini sampai meluapkan kekesalan.
__ADS_1
Episode drama yang ditonton Viona sudah habis, serta akan tayang kembali esok hari. Viona pun berdiri hingga membuat Darren terkejut.
“Mau ke mana, sayang?” tanya Darren sambil menatap sang istri.
“Mau mandi, lalu mengompres kelopak mataku yang bengkak,” jawab Viona sambil menyentuh bawah mata. “Mau ikut? Eh … jangan, aku sedang kedatangan tamu bulanan.” Viona menggoda tapi kemudian menjatuhkan keinginan itu sekaligus.
Viona pun masuk ke kamar mandi meninggalkan Darren, sedangkan pria itu duduk termangu dan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
**
Sandra meminta izin ke Gilang untuk menginap, sedangkan Farzan kembali ke apartemen sesuai yang dikatakannya.
Sandra baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di kepala. Ditatapnya Chila yang sedang duduk sambil menggambar sesuatu.
“Chila bikin apa?” tanya Sandra sambil mendekat.
“Chila sama Oma,” jawab gadis kecil itu tanpa menoleh Sandra.
Chila menggambar seorang wanita dengan rambut yang disanggul sederhana, kemudian ada anak kecil di sampingnya mengenakan bandana kupu-kupu.
“Oma siapa?” tanya Sandra yang belum tahu jika Anisa menemui Chila.
“Oma Anisa,” jawab Chila masih dengan tangan yang menyapukan crayon ke gambarnya.
Dahi Sandra langsung terlipat halus mendengar jawaban Chila, apa benar Anisa menemui putrinya, tapi kapan?”
“Tadi Oma datang, minta Chila panggil Oma, terus Chila di kasih hadiah,” ujar Chila menjelaskan.
Chila berhenti mewarnai, lantas mengambil kotak pemberian Anisa dan membukanya.
__ADS_1
“Cantikkan, Ma?”
Sandra memperhatikan bandana dan jepit rambut itu, kemudian mengangguk-angguk.
Jika memang benar, Tante Anisa mau menerima Chila, ini bisa membuatku sedikit lega.
**
Grisel kembali ke rumah setelah puas bercinta dan bersama Darren setengah hari. Meski dirinya terkena tamparan bertubi, tapi juga senang sebab Darren memanjakan dirinya.
Mobil yang membawa Grisel berhenti di depan gerbang karena menunggu satpam membukakan gerbang, hingga tiba-tiba kaca bagian belakang pecah karena sebuah lemparan batu, untung saja batu itu tidak melesat di belakang Grisel, melainkan di samping wanita itu.
Grisel berteriak saat mendengar suara kaca pecah dan batu jatuh di bawah kakinya, sang sopir juga terkejut dan langsung menoleh ke majikannya untuk mengecek.
Grisel menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang melempar batu ke arahnya, hingga sudah tidak melihat siapapun di sana. Telinga dan leher Grisel terluka karena pecahan kaca.
“Sialan, siapa itu?” Grisel memegangi leher samping yang perih.
“Anda tidak apa-apa?” tanya sang sopir.
Satpam yang sedang membuka gerbang juga terkejut saat mendengar suara pecah, sempat melihat seorang pengendara motor yang berhenti sebelum kemudian tancap gas setelah melempar batu.
“Bawa aku masuk dulu!” perintah Grisel karena takut jika ada lemparan lagi.
Mobil itu masuk ke halaman rumah dan satpam buru-buru menutup gerbang lagi, Grisel melihat batu tadi terbungkus kertas yang terikat, membuatnya penasaran dengan isi kertas itu.
Saat baru saja mengambilnya, Grisel melihat sebuah tulisan di kertas itu.
'Kamu sedang bermain api.'
__ADS_1
Grisel menggenggam batu terbungkus kertas itu, tampaknya ada yang mengincarnya sekarang.
“Siapa yang bermain-main denganku?”