
Viona duduk sambil memandang ponsel yang tergeletak di meja, di sana ada sebuah pesan chat yang belum dibuka.
“Nona.” Cecil menatap Viona penuh kecemasan.
“Cil, kamu keluarlah dulu,” pinta Viona tanpa menoleh asistennya itu.
Cecil cemas jika pesan yang diterima adalah informasi tentang Darren yang kini sedang berada di apartemen.
“Tapi, Anda butuh saya,” kata Cecil, berat untuk meninggalkan majikannya itu.
Cecil tahu jika Viona dalam kondisi tertekan sejak mendapatkan kabar jika Darren pergi ke apartemen, sehingga membuat Cecil merasa harus di sana menemani.
Viona mengulas senyum, menoleh Cecil dan berkata, “Aku tidak apa-apa. Hanya takut jika kamu melihat hal yang tak layak kamu lihat, sedangkan kamu masih belum menikah.”
Cecil terdiam mendengar ucapan Viona, hingga kemudian memilih menuruti perintah majikannya itu. Cecil pun keluar dan menutup pintu kamar Viona, tapi tetap berjaga di depan jika terjadi sesuatu.
Tangan Viona terlihat gemetar, mengambil ponsel yang ada di meja lantas membuka pesan video yang diterima. Dia memang meminta orang untuk memasang Cctv tersembunyi di semua apartemen yang dimiliki Darren dan dirinya, tentu saja semua dilakukan agar Viona bisa mengetahui apa saja yang dilakukan suaminya itu.
Viona membuka satu persatu rekaman yang didapat, rekaman Cctv dari saat dirinya berada di luar negeri, hingga yang terakhir adalah rekaman yang terjadi beberapa saat lalu.
Viona memejamkan mata, menahan sesak dan sakit di dada melihat adegan yang seharusnya dilakukan sang suami hanya dengannya saja. Sepertinya Viona tak bisa lagi memaafkan suaminya, sudah cukup dirinya diam dan menerima. Kini waktu untuknya bertindak sebagai seorang istri yang dikhianati tapi bukan istri teraniaya.
“Sialan!” Viona membanting ponsel.
Cecil sangat terkejut mendengar suara Viona yang diiringi dengan suara benda pesah. Dia menatap daun pintu kamar Viona dengan wajah panik dan cemas.
“Nona!” Cecil ingin masuk tapi takut Viona marah.
Di dalam kamar, Viona meraih vas bunga kemudian membanting hingga hancur berantakan.
__ADS_1
“Sialan kamu Darren! Kurang baik apa aku untukmu!”
Viona meraih apa pun yang didekatnya, kemudian membanting dengan keras hingga pecahan porselen dan kaca berserakan di lantai.
Cecil kebingungan, mencoba terus memanggil karena ingin masuk tapi tak ada tanggapan dari Viona. Gadis berumur dua puluh lima tahun itu hanya mendengar suara Viona mengumpat dan berteriak.
**
Farzan dan Sandra baru saja selesai dari butik. Keduanya menerima pilihan Anisa hanya untuk menyenangkan hati wanita itu.
“San, seharusnya kamu tidak perlu menuruti semua perkataan Mama,” kata Farzan karena Sandra sejak tadi tak berkomentar dan menerima semua keputusan Anisa.
Sandra tersenyum mendengar perkataan Farzan, lantas menoleh dan memandang Farzan yang sedang fokus menyetir.
“Tidak apa-apa, selama itu bisa membuat mamamu senang, tak masalah jika harus menurutinya, lagi pula ini demi kebaikan kita juga,” balas Sandra.
Sandra hanya merasa tak bisa jika berdebat, terlebih dengan orang yang lebih tua darinya. Dia lebih suka mengalah, selama itu bukan hal yang salah.
**
Sepulang dari butik. Anisa terlihat begitu tak tenang dan memikirkan tentang apa yang didengarnya tadi.
“Apa terjadi sesuatu dengan anaknya?”
Tiba-tiba Anisa merasa simpati, mungkin karena dirinya tak bisa jika tak acuh dengan anak-anak.
Anisa keluar lagi dari rumah meski baru saja sampai, lantas meminta sang sopir untuk mengantarnya ke rumah Liana.
Di rumah Liana, Chila sudah mau keluar kamar, makan juga diajak bicara seperti biasanya.
__ADS_1
“Chila masih memikirkan tentang wanita itu?” tanya Liana hati-hati. Dia pun ikut sedih saat melihat Chila tertekan, juga Sandra yang sampai menangis.
Chila menggelengkan kepala, tengah fokus menghabiskan makan siang yang terlambat.
“Kata Mama, dia itu gila. Jadi Chila diminta melupakan saja,” kata Chila setelah selesai menelan makanan yang ada di mulut.
Lina tersenyum tipis, lantas mengusap rambut Chila dengan lembut.
“Anak baik.”
Liana menemani Chila makan sampai selesai, hingga terdengar suara bel di depan rumah berbunyi.
“Mama Liana lihat dulu siapa yang datang,” kata Liana kemudian berdiri untuk membukakan pintu.
Liana pergi meninggalkan Chila, berjalan ke pintu depan untuk melihat siapa yang datang. Dia pun membukakan pintu, hingga terkejut melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya.
“Kamu?” Liana terlihat tidak senang.
“Di mana anak itu?” tanya Anisa. Wanita itu benar-benar datang ke rumah Liana.
“Chila? Sama calon cucu sendiri saja tidak tahu namanya,” cibir Liana.
Anisa kesal karena dicibir, tapi mencoba menahan diri karena tujuannya ke sana bukan untuk berdebat.
“Kami tidak diperkenalkan dengan resmi, bagaimana bisa tahu namanya!” sembur Anisa kesal. “Di mana dia, aku ingin bertemu dan bicara dengannya.”
Liana menatap curiga ke Anisa, hingga kemudian berkata, “Kamu datang tidak untuk membuatnya tertekan. Aku tahu kamu tidak menyukai Sandra, tapi bukan berarti kamu bisa menindas anaknya.”
Liana pasang badan, berdiri di ambang pintu untuk menghalau Anisa.
__ADS_1
Anisa geram karena dituduh yang bukan-bukan, hingga kemudian bicara dengan suara sedikit keras.
“Aku hanya ingin bertemu dan bicara baik-baik, jangan menuduhku sembarangan!”