
Farzan pulang dengan perasaan marah, kesal, tapi juga sedih. Selama ini tak pernah meminta sesuatu dari orangtuanya, tapi kenapa saat dirinya meminta sebuah kebahagiaan, ibunya seolah tak mau memberikan hal itu, malah menambah bebannya serta rasa bersalah sebab melawan sang ibu.
Mobil Farzan sudah berhenti di depan rumah Sandra, tapi dirinya belum turun. Farzan menyandarkan punggung dan kepala, menengadahkan wajah menatap langit-langit kabin mobil.
Dia menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan, mengatur emosi dan mencoba bersikap biasa agar Sandra tidak mencemaskan dirinya. Farzan mengusap kasar wajah, lantas turun dari mobil dan berjalan menuju rumah.
Sandra berada di kamar saat mendengar suara mobil Farzan berhenti. Dia lantas keluar kamar hingga gerakan tangan ingin membuka pintu terhenti saat melihat Farzan tak kunjung keluar dari mobil.
“Apa ada masalah?” tanya Sandra menebak karena Farzan masih di dalam mobil cukup lama.
Sandra pun memilih diam dan memperhatikan, hingga saat melihat Farzan turun, dia langsung duduk di sofa dan menunggu kekasihnya itu mengetuk pintu.
Farzan mengetuk pintu karena dikunci oleh Sandra sesuai dengan perintahnya pagi tadi. Sandra langsung berdiri dan berjalan untuk membuka pintu, saat pintu terbuka dan mereka saling berhadapan, wanita itu langsung mengulas senyum hangat. Sandra berpikir jika Farzan memang sedang dalam masalah, setidaknya seutas senyum bisa sedikit melegakan hati pria itu.
__ADS_1
Farzan termangu memandang senyum Sandra, semua rasa kesal dan amarah yang sejak tadi menggunung pun menguar entah ke mana.
“Kamu sudah pulang, ini baru jam berapa?” Seperti seorang istri yang melihat suaminya pulang, Sandra memberi perhatian ke Farzan dengan sepenuh hati.
Farzan tersenyum mendengar pertanyaan Sandra, selama menikah dengan mantan istrinya, Grisel tak pernah bertanya seperti Sandra. Jangankan pertanyaan, senyuman saja tidak pernah diberikan hingga membuat pria itu merasa tak dianggap oleh sang istri saat itu.
“Aku mencemaskanmu,” jawab Farzan sambil membalas senyum Sandra. “Kamu sudah makan siang?” tanya pria itu lagi.
Sandra menggelengkan kepala, di rumah tidak bisa masak juga belum memesan makanan.
Sandra mengangguk lantas meminta Farzan untuk masuk terlebih dahulu.
Keduanya duduk di sofa sambil menunggu makanan datang. Sandra menatap Farzan yang terlihat begitu gusar, pria itu sendiri sudah berusaha untuk tak menunjukkan kegelisahannya, tapi urusan dengan ibunya memang sulit untuk ditepis dari pikiran.
__ADS_1
“Zan, apa ada masalah?” tanya Sandra hati-hati.
Farzan menoleh Sandra yang duduk di sampingnya, menatap sang kekasih yang terlihat mencemaskan dirinya.
“Tidak ada masalah,” jawab Farzan tak langsung jujur.
“Kamu yakin? Jika memang ada, tak ada salahnya bercerita kepadaku. Bukankah kamu bilang jika merasa lega setelah bercerita kepadaku? Kenapa kamu tidak melakukannya jika itu bisa membuatmu lega?” tanya Sandra, mengingatkan saat pria itu dulu mencurahkan isi hati tentang rumah tangga dengan Grisel.
Farzan menatap Sandra, merasa jika wanita itu benar-benar penuh perhatian dan penyayang. Hatinya terasa begitu lega dan tenang saat bersama Sandra.
Farzan memeluk Sandra meski tidak terlalu merapat karena tangan Sandra yang masih menggunakan penyangga. Dengan manja dia menyandarkan kepala di pundak wanita itu.
Sandra sangat terkejut dengan yang dilakukan Farzan, hingga tangan kiri mencoba mengusap punggung pria itu secara konstan.
__ADS_1
“Ada apa? Kamu ada masalah?” tanya Sandra dengan suara lembut.
“San, jika aku melamarmu kemudian kita menikah, apakah kamu akan setuju?”