Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Meneguhkan hati


__ADS_3

“Saya dengar sendiri jika Nyonya berkata agar Bu Sandra menjauhi Anda. Bahkan menghina kalau Bu Sandra suka menggoda. Nyonya datang ke sini dengan seseorang, tapi saya nggak kenal. Maaf Tuan, bukannya saya lancang atau ikut campur, tapi saya hanya merasa jika Anda perlu tahu saja. Sekali lagi maaf.”


Ucapan Bi Sum terngiang-ngiang di telinga Farzan. Jika Anisa sampai berkata demikian, itu artinya sang ibu sudah bertemu Sandra tak hanya sekali, sehingga tahu jika yang ditemuinya adalah Sandra.


Farzan bergegas pergi ke rumah Sandra, hendak menanyakan langsung apakah yang dikatakan Bi Sum benar, serta kenapa kekasihnya itu tidak bicara kepadanya tentang hal itu.


Namun, saat sampai di rumah Sandra, wanita itu masih beristirahat. Mungkin karena pengaruh obat yang tadi dikonsumsi Sandra.


“Kenapa Mama melakukan itu? Apa dia benar-benar tidak akan menyetujui hubungan kami? Apakah dia perlu menghina Sandra?” Farzan bertanya-tanya sambil berpikir.


Dia kini duduk di ruang tamu, menunggu Sandra bangun untuk menanyakan tentang Anisa. Farzan menduga jika Anisa pasti sudah menemui Sandra sebelumnya.


Farzan mengeluarkan ponsel, kemudian menghubungi Harun.


“Halo, Pa.” Terlihat guratan kecemasan di wajah Farzan.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Harun dari seberang panggilan.


“Apa Papa tahu kalau Mama menemui Sandra?” tanya Farzan. Dia tak mau gegabah dengan mendatangi ibunya dan marah.


Terdengar suara helaan napas berat dari seberang panggilan, sebelum kemudian Harun menjawab pertanyaan Farzan.


“Ya, Mama cerita kalau menemui wanita yang kamu suka, serta memintanya untuk menjauhimu,” jawab Harun yang tak bisa menyembunyikan sesuatu dari putranya.


Farzan mengepalkan telapak tangan yang berada di atas lutut. Tidak mengerti kenapa Anisa harus begitu menentang hubungannya dengan Sandra, sedangkan ibunya itu belum tahu siapa dan bagaimana sifat wanita yang dicintainya itu.


“Aku tahu kalian kecewa dengan keputusanku memilih Sandra. Tapi meski begitu aku tetap akan mempertahankan hubungan kami. Aku benar-benar sudah jatuh cinta kepadanya, kalian tidak tahu bagaimana baiknya dia sehingga hanya bisa memandang sebelah mata. Kelak, meski dengan atau tanpa restu kalian, aku akan menikahinya.”


**


Grisel berada di apartemen milik Darren. Dia sedang menatap perhiasan yang baru saja diberikan pria itu.

__ADS_1


“Ah … dia sangat tahu cara menyenangkan perempuan.”


Grisel memandang indahnya perhiasan itu, hingga ponsel yang ada di sebelah kotak perhiasan berdering. Nama Herman terpampang di sana.


“Halo.” Grisel langsung menjawab panggilan itu.


“Aku sudah melakukan apa yang kamu inginkan, meski tidak fatal tapi cukup untuk membuatnya merasa kesakitan.” Suara Herman terdengar dari seberang panggilan.


Mobil yang menyerobot tiba-tiba memanglah dikendarai oleh Herman. Dia sudah memantau Sandra dari perusahaan hingga apartemen Farzan, kemudian memiliki kesempatan mencelakai saat Sandra berada di jalan raya.


Grisel menyeringai mendengar kabar itu, dendam yang tak bisa dilupakan akan terus membuatnya melakukan hal-hal di luar dugaan.


“Bagus, aku akan mengirimkan uang lagi, tapi pastikan kamu buat wanita itu menderita!”


Grisel mengakhiri panggilan itu setelah selesai bicara. Baginya, Sandra adalah penyebab Farzan menceraikannya, hingga Grisel takkan pernah melepas Sandra. Bahkan Joya—mantan kekasih Farzan, yang sudah tidak memiliki hubungan dengan Farzan pun, masih dibenci oleh Grisel sampai sekarang. Terlebih karena Joya berhasil mempermalukan dirinya.

__ADS_1


“Aku takkan membiarkan orang yang menginjakku bisa berdiri dengan tegap. Akan aku buat mereka terpuruk.”


Grisel tertawa begitu keras, hingga suaranya menggema di ruangan itu.


__ADS_2