
Sandra duduk di depan cermin rias menatap bayangan wajah dari pantulan cermin. Dirinya dan Farzan memutuskan untuk pulang ke rumahnya setelah pesta selesai.
Wanita itu menghela napas kasar, sebelum kemudian menunduk dan menatap kepalan telapak tangan yang berada di atas pangkuannya.
Tersirat jelas di wajah jika ada beban yang dipikirkan. Sandra tipe wanita yang suka memendam perasaannya sendiri, serta tidak suka mengumbarnya jika memang benar-benar tidak menyakitkan.
Farzan yang baru saja selesai mandi, melihat Sandra yang duduk sambil menundukkan kepala. Dia pun mendekat hingga melihat wanita yang sudah menjadi istrinya itu tampak meremas jemarinya.
“San.” Farzan memanggil, tapi tampaknya Sandra sedang larut dalam lamunan.
Farzan semakin mengerutkan alis, lantas duduk di tepian ranjang yang memang ada di sebelah meja rias, hingga kemudian meraih salah satu telapak tangan Sandra.
Sandra sangat terkejut saat telapak tangannya digenggam, hingga menoleh dan melihat Farzan yang sudah memandangnya.
“Kamu melamun?” tanya Farzan sambil menatap lekat wajah Sandra.
Sandra segera mungkin menyingkirkan ekspresi keterkejutan di wajah, kemudian mengubahnya dengan seulas senyum manis.
“Tidak, hanya tiba-tiba teringat akan beberapa pekerjaan,” jawab Sandra sekenanya.
Farzan terus menatap Sandra begitu lekat, sepertinya tidak percaya begitu saja dengan jawaban Sandra. Farzan merasa Sandra kurang fokus dan seperti sedikit tertekan setelah berganti pakaian, membuat Farzan bertanya-tanya apakah ada yang terjadi di ruang ganti siang tadi.
__ADS_1
“Kemarilah!” Farzan menarik tangan Sandra, kemudian meminta istrinya itu untuk duduk di sampingnya.
Sandra menuruti perintah Farzan, kemudian berdiri dengan satu tangan masih digenggam Farzan, lantas duduk di samping pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.
“San, mulai siang tadi, kita sudah resmi menjadi suami-istri. Apa pun masalahmu, juga akan jadi masalahku, begitu pula sebaliknya. Aku tidak ingin jika ada rahasia di antara kita, entah itu pekerjaan, teman, atau yang lainnya. Aku akan jujur dengan semua yang kurasakan, aku juga berharap kamu melakukan hal yang sama,” ujar Farzan panjang lebar.
Farzan sengaja tidak langsung meminta Sandra menceritakan hal yang mengganggu pikiran, hanya memancing agar Sandra mau bicara sendiri.
Sandra cukup terkejut mendengar ucapan Farzan, hingga merasa tersindir karena pada kenyataannya dia memang menyembunyikan sesuatu dari pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Sandra menggenggam erat telapak tangan Farzan yang terasa hangat dan menatap genggaman itu sejenak, sebelum kemudian beralih menatap Farzan dan memahami maksud suaminya itu.
Farzan menaikkan satu sudut alis mendengar hal itu.
“Apa yang mereka katakan kepadamu?” tanya Farzan menyelidik.
“Sebenarnya tidak secara langsung, hanya saja aku tidak sengaja mendengar,” jawab Sandra.
Sandra pun akhirnya bercerita, mengingat saat dirinya akan pergi ganti baju.
Sandra saat itu menghentikan langkah, kemudian mendengar bibi-bibi Farzan yang sedang menggunjingkan dirinya dan Chila.
__ADS_1
Terdengar tawa dari ruangan itu, hingga seorang wanita kembali bicara.
“Farzan kok ya mau-maunya sama janda anak satu, mana umurnya lebih tua darinya juga.”
“Benar, padahal Farzan itu masih muda dan tampan, misal nyari seorang gadis pun masih mampu. Bahkan mungkin banyak yang akan antri.”
“Apa kalian tahu, anak wanita itu katanya juga memiliki kebutuhan khusus, bukankah itu artinya anaknya cacat?”
“Tapi aku lihat anaknya biasa saja.”
“Jangan salah, tadi aku dengar sendiri, Anisa bilang kalau memang anak itu memiliki gangguan pendengaran. Ya … meski Anisa memuji kalau anak itu pandai dan manis, tapi tetap saja bagiku cacat.”
Jantung Sandra rasanya diremas-remas mendengar semua gunjingan itu. Dia tidak pernah mempermasalahkan jika dirinya dihina, tapi jangan sampai putri kesayangannya dihina.
Tanpa terasa sebulir kristal bening luruh dari ujung kelopak mata setelah Sandra selesai bercerita. Dia buru-buru menyekanya kemudian tersenyum miris di wajah.
“Aku sudah terbiasa dihina dan dicap buruk, tapi aku paling tidak bisa jika mendengar atau melihat Chila dihina atau dijelek-jelekkan.” Sandra akhirnya mengutarakan apa yang membuatnya melamun dan gelisah sejak tadi.
Farzan begitu menyesal karena ucapan para bibinya menyakiti hati Sandra. Dia lantas meraih tubuh Sandra dan membawanya dalam dekapan. Kini mereka sudah sah menjadi suami-istri, tentunya Farzan tidak akan segan untuk memeluk wanita itu.
“Maaf, aku berjanji jika hal itu tidak akan terjadi lagi. Andai aku tahu sejak awal, aku pasti akan membuat mereka bungkam.”
__ADS_1