
Anisa memandang Harun yang malam itu sudah berpakaian rapi. Hari di mana Harun berjanji akan menemui Gilang pun tiba, malam itu Harun sudah berpakaian rapi tanpa menghiraukan Anisa mau ikut atau tidak.
“Papa benar-benar akan pergi?” tanya Anisa seolah tak senang.
“Tentu, Papa sudah berjanji dan tak mungkin ingkar,” jawab Harun sambil merapikan ikatan dasi.
Anisa terlihat kesal, bagaimana bisa Harun malah ingin pergi tanpa dirinya.
“Bagaimana kalau Papa ditanya kenapa Mama tidak ikut?” tanya Anisa seolah sedang mencoba membuat Harun berubah pikiran.
Harun menghela napas kasar, menoleh Anisa yang berdiri di sampingnya.
“Papa tinggal bilang kalau Mama tidak enak badan jadi tak bisa datang. Gampang, ‘kan?” Harun berjalan meninggalkan Anisa, keluar dari kamar dan mengabaikan sang istri.
Harun hanya kesal karena sang istri yang keras kepala, belum lagi beberapa hari lalu marah-marah karena Valeria berkata tak mau menikah dengan Farzan. Anisa masih menuduh jika Farzan yang meminta Valeria mundur, membuat Harun berpikir kenapa Anisa tidak bisa menghargai keputusan orang lain.
__ADS_1
Anisa sangat terkejut mendengar jawaban Harun, bagaimana bisa suaminya berkata demikian dengan sangat mudahnya.
“Papa!” teriak Anisa memanggil karena kesal.
**
Di rumah Gilang. Pria itu dan sang istri telah menyiapkan jamuan makan malam untuk menyambut kedatangan orangtua Farzan. Memang tidak terlalu mewah, tapi setidaknya sudah layak untuk menyambut acara pinangan yang belum resmi.
Sandar sendiri sudah di sana bersama Farzan, itu dikarenakan Harun berkata jika akan menyusul dan Farzan diminta ke tempat Gilang terlebih dahulu.
“Jika Mama menikah dengan Papa Farzan, apa nanti kita akan tinggal bersama?” tanya Chila sambil memandang Sandra yang sedang merapikan rambutnya.
“Tentu, nanti kita tinggal di rumah bersama. Papa Farzan akan antar jemput Chila seperti biasanya,” jawab Sandra dengan senyum merekah di wajah.
“Ma, kapan Chila boleh sekolah?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Chila, mungkin gadis itu bosan karena belajar di rumah.
__ADS_1
Sandra tersenyum, kemudian mengusap kepala Chila dengan lembut.
“Sebentar lagi ya, setelah itu Chila bisa sekolah seperti biasa,” ucap Sandra yang tak ingin membuat putrinya kecewa.
Sandra sendiri belum tahu sampai kapan keadaan akan seperti ini, dari musuh lama suaminya, kini ada lagi pengirim surat kaleng itu, membuat Sandra semakin tidak tenang.
Farzan berada di teras rumah Gilang, tentunya menunggu kedatangan sang ayah yang akan membawa lamaran untuk Sandra. Dia sendiri tidak berharap banyak apakah Anisa akan ikut, karena tahu jika sang ibu tak akan merestui hubungannya dengan Sandra.
Selang beberapa saat, mobil Harun terlihat memasuki halaman rumah Gilang. Farzan pun terlihat bersemangat dan langsung turun dari teras untuk menyambut kedatangan sang ayah. Farzan percaya jika Harun bukanlah tipe pria yang suka ingkar, kini membuktikan jika ayahnya datang untuk memenuhi permintaannya.
Mobil Harun berhenti tepat di belakang mobil Farzan, hingga pintu belakang terbuka dan Harun keluar dari mobil. Farzan pun mendekat untuk menyapa, sampai tatapannya tertuju ke pintu satunya yang terbuka.
Farzan tertegun sejenak, tidak menyangka jika akan melihat sang mama di sana.
“Mama.” Seolah bagai mimpi melihat Anisa datang ke acara lamaran malam itu.
__ADS_1