Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Diminta liburan


__ADS_3

Farzan dan Sandra sudah dalam perjalanan untuk menemui Chila. Kemarin Chila diajak Anisa ke rumahnya, berdalih jika ingin lebih dekat dengan gadis kecil itu.


Sandra sendiri awalnya sedikit was-was, tapi dirinya juga tidak bisa mencegah, karena tidak ingin membuat Anisa salah paham.


Mobil Farzan sudah masuk halaman rumah Anisa, lantas memarkirkan di dekat garasi.


Saat mereka turun dari mobil, ternyata Chila sedang berada di samping rumah bersama Anisa. Chila sedang menggambar sedangkan Anisa hanya menemani.


“Chila!” panggil Sandra dengan senyum lebar di bibir.


Chila dan Anisa menoleh saat mendengar suara Sandra, hingga Chila langsung berdiri dan bibirnya tersenyum lebar melihat sang mama, sebelum kemudian berlari ke arah Sandra.


Sandra begitu senang melihat Chila yang begitu bersemangat, lantas membuka kedua tangan untuk memeluk putrinya.


Farzan sendiri memilih menghampiri Anisa dulu dan menyapa.


“Kamu sudah makan? Apa semalam tidur nyenyak?” tanya Sandra sambil merapikan rambut Chila.


Chila mengangguk-angguk menjawab pertanyaan Sandra.


“Semalam Oma sama Opa tidur bareng Chila, mereka membacakan buku cerita untuk Chila.”

__ADS_1


Sandra sedikit terkejut mendengar cerita Chila, tapi sedetik kemudian merasa senang dan terlihat senyum di wajah.


“Baguslah kalau Chila suka, Mama hanya cemas kamu tidak nyaman di tempat baru,” ucap Sandra. Dia terlalu cemas karena ini pertama kalinya Chila tidur di tempat yang asing tanpa dirinya.


Chila mengelengkan kepala, kemudian berkata, “Oma Anisa baik, jadi Chila betah.”


Sandra semakin merasa lega, setidaknya ketakutan dan kecemasannya tidak terbukti.


“Kamu sudah makan?” tanya Anisa ke Farzan.


“Sudah, Ma. Tadi beres-beres rumah sebelum ke sini,” jawab Farzan, kemudian tatapan beralih ke Sandra dan Chila yang masih bicara berdua.


Anisa tahu jika selama ini Farzan tidak pernah melakukan pekerjaan rumah. Sejak kecil sampai dewasa dan menikah, urusan rumah juga diurus oleh pembantu.


“Kami semalam pulang ke rumah Sandra, Ma. Untuk beres-beres memang sengaja kami lakukan sendiri,” jawab Farzan saat melihat sang mama tampak cemas juga ada rasa tidak suka.


**


“Jadi, apa kalian mau pergi bulan madu?” tanya Anisa saat dirinya duduk bersama Sandra dan Farzan di dalam rumah.


Chila duduk di lantai dan sibuk menggambar di meja, mengabaikan perbincangan para orang tua yang ada di sana.

__ADS_1


Sandra dan Farzan saling tatap, mereka malah belum memikirkan hal itu.


“Sebenarnya kami belum memikirkan hal itu, Ma.” Farzan menjawab pertanyaan Anisa.


“Kenapa? Bukankah hal biasa kalau pasangan pengantin baru berlibur untuk menghabiskan waktu berdua?” Anisa bicara sedikit ketus sambil melirik Sandra, tampaknya wanita itu mengira jika mungkin saja Sandra yang memang tidak mau pergi berlibur.


Sandra jadi salah tingkah saat melihat lirikan mata Anisa tertuju kepadanya. Dia serba salah karena wanita itu belum menerima dirinya sepenuhnya.


Farzan menoleh Sandra, tahu jika istrinya sedang terlihat bingung sampai mengalihkan tatapan ke Chila yang sedang menggambar.


Anisa semakin yakin jika keduanya tidak pergi berlibur karena memikirkan Chila atau mungkin pekerjaan. Jika setelah ini keduanya sibuk bekerja lagi dan sibuk dengan urusan masing-masing, lantas kapan putra dan menantunya bisa memberikannya cucu, jika mereka jarang memiliki waktu bersama.


“Jika kalian tidak pergi karena Chila, jangan cemas! Mama akan menjaganya, lagi pula Chila juga betah di sini,” ucap Anisa, “kalau pekerjaan juga kalian bisa ambil libur, ‘kan?”


“Iya, Ma.”Akhirnya Sandra membuka suara.


Sandra sepertinya harus mulai menyesuaikan gaya hidup serta aturan di keluarga Farzan. Keluarga kaya memang terkadang lebih rumit dari keluarga biasa seperti dirinya.


“Ya sudah, kalian liburan saja, tidak perlu memikirkan Chila atau pekerjaan!” Ketus Anisa, masih menganggap Sandra tidak ikhlas.


Sandra memilih diam tidak bicara, tampaknya apa pun yang diucapkannya, akan salah di mata Anisa.

__ADS_1


__ADS_2