Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Jalan bersama Chila


__ADS_3

Herman pergi ke pinggiran kota, ternyata memiliki persembunyian di sana. Dia takkan aman jika berada di kota karena anak buah Gilang pasti akan mencari dan menangkapnya.


“Halo, aku sementara waktu akan bersembunyi terlebih dahulu. Ada orang yang ingin menangkapku, jika orang itu suruhan Sandra, maka habis sudah kita kalau aku tertangkap.” Herman menghubungi Grisel untuk menyampaikan kondisi saat ini.


“Apa?” Suara Grisel terdengar keras karena panik. “Kalau kamu tertangkap, aku tidak mau tahu dan jangan sangkut pautkan aku denganmu! Aku sudah membayarmu, jika kamu berani menyebut namaku, maka aku takkan segan membuatmu menderita!” ancam Grisel dari seberang panggilan sebelum kemudian mengakhiri panggilan itu.


Herman terkejut mendengar Grisel yang berteriak keras, hingga menatap ponsel di mana nama Grisel masih terpampang setelah mengakhiri panggilan.


“Sialan dia! Jadi dia ingin melimpahkan semua kesalahan kepadaku! Enak saja! Jika sampai ada apa-apa denganku, namanya yang pertama kali akan aku sebut!”


**


Grisel begitu kesal karena panggilan dari Herman. Dia berpikir bagaimana caranya agar pria itu bungkam dan tak menyebut namanya jika tertangkap.


“Lihat saja, aku akan membuatnya menyesal jika sampai menyebut namaku,” geram Grisel.


Grisel keluar dari kamar, lantas menuruni anak tangga menuju pintu utama rumahnya. Dia hendak berangkat ke perusahaan untuk pemotretan.


Semenjak bersama Darren, banyak perusahaan yang menjadikannya model iklan. Pria itu menghapus jejak digital berita Grisel yang memfitnah Joya.


Saat akan masuk mobil, dari gerbang luar terlihat sebuah mobil sedan hitam terparkir di seberang jalan rumah Grisel. Di dalam ada seorang pria memegang sebuah kamera dan mengambil foto Grisel dari jarak jauh.


**

__ADS_1


Farzan terlihat menggandeng tangan Chila, hari itu mengajak Chila jalan-jalan setelah mendapatkan izin dari Liana. Tentu saja tujuannya untuk membahas tentang masalah pernikahannya dengan Sandra.


“Kamu menginginkan sesuatu? Biar Om Farzan yang traktir?” tanya Farzan saat keduanya berjalan berjalan di mall.


Chila menggelengkan kepala, bisa berjalan bersama dengan Farzan saya sudah bisa membuatnya senang, hingga membuat gadis itu tak menginginkan apa pun lagi.


Farzan mengajak Chila ke sebuah toko sepatu, di sana melihat-lihat sepatu yang cocok untuk Chila.


“Kamu suka sepatu kets atau sepatu ala princess?” tanya Farzan sambi memperhatikan deretan sepatu yang dipajang di toko itu, sedangkan satu tangan menggandeng tangan gadis kecil itu.


“Chila suka sepatu kets, sepatu princess tidak cocok untuk Chila,” lirih gadis kecil itu.


Farzan menaikkan satu sudut alis mendengar jawaban Chila, kemudian berhenti melangkah dan berjongkok di hadapan gadis kecil itu.


“Karena Chila tidak bisa seperti Princess yang sempurna,” jawab Chila dengan kepala menunduk.


Mungkin gadis kecil itu tahu kekurangannya, pendengaran yang terganggu terkadang membuatnya kesusahan berinteraksi meski sudah menggunakan alat bantu pendengaran.


Farzan tersenyum mendengar jawaban Chila, kemudian mengulurkan tangan dan mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut.


“Princess tidak sempurna, mereka juga memiliki banyak kekurangan. Jadi jangan pernah berpikir kalau kamu memiliki banyak kekurangan, di balik itu kamu memiliki banyak kelebihan yang orang lain tidak tahu. Contohnya kamu bisa menggambar dengan cantik, Om Farzan saja tidak bisa,” ujar Farzan agar Chila tidak berkecil hati.


Chila memberanikan diri melirik Farzan, kemudian menganggukkan kepala kecil.

__ADS_1


Farzan pun membelikan dua pasang sepatu berbeda, kemudian mengajak Chila makan siang bersama.


Farzan memandang Chila yang duduk dengan tenang. Setelah mengajak gadis kecil itu jalan-jalan, mungkin ini waktu untuknya membicarakan masalah pernikahannya dengan Sandra.


“Chila, Om Farzan mau bicara sesuatu. Apa Chila mau mendengarkan?” tanya Farzan.


Chila mengangguk-angguk menjawab pertanyaan Farzan.


Farzan menarik napas panjang dan menghela perlahan, terlihat duduk tak tenang dan mempersiapkan diri bicara dengan gadis kecil di hadapannya. Ternyata menghadapi Chila lebih menegangkan daripada saat bicara dengan Sandra.


“Chila, Om ….” Baru saja akan bicara, pelayan tempat mereka makan memanggil nama Farzan dan memberitahu jika pesanan sudah siap diambil.


Farzan menoleh ke bagian kasir, kemudian memandang Chila.


“Om Farzan ambil makanannya dulu, kita bicara setelah makan saja,” kata Farzan.


Chila mengangguk lagi dengan seulas senyum.


Farzan pun berdiri dan berjalan ke meja kasir di mana pesanannya sudah siap diambil. Pria itu mengambil dan tersenyum sebagai tanda terima kasih, kemudian berjalan kembali ke mejanya.


Langkah Farzan terhenti dan dua bola matanya membulat sempurna saat tak mendapati Chila berada di tempat duduknya.


“Chila.” Farzan terlihat panik, kemudian buru-buru meletakkan nampan berisi makanan di meja, sebelum kemudian mencari keberadaan gadis kecil itu.

__ADS_1


“Chila.”


__ADS_2