Duda Kepentok Janda

Duda Kepentok Janda
Kecelakaan


__ADS_3

Sandra terlihat mengemudikan mobil sendirian menuju perusahaan. Dia meminjam mobil sekretarisnya untuk mengambil sketsa yang tertinggal di apartemen Farzan.


“Bu.” Bi Sum menyambut kedatangan Sandra.


“Bi, aku hanya mau ambil sketsaku saja,” kata Sandra dengan seulas senyum.


Bi Sum mengangguk, tapi kemudian bertanya, “Bu Sanda dan Tuan kenapa semalam tidak pulang?”


Sandra terkejut mendengar pertanyaan Bi Sum, kemudian mencoba mencari alasan yang pas.


“Kemarin aku mengecek rumah yang baru saja diperbaiki, karena sudah larut jadi menginap di sana,” jawab Sandra sekenanya.


Bi Sum mengangguk-angguk lagi, kemudian membiarkan Sandra pergi ke kamar sendiri karena pelayan rumah Farzan itu masih beres-beres.


Setelah mengambil sketsanya, Sandra pun berpamitan dengan Bi Sum. Namun, saat baru saja membuka pintu untuk pergi, Sandra dibuat terkejut dengan kedatangan Anisa dan satu wanita yang tak lain Valeria.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Anisa dengan wajah tak senang.


Bi Sum yang mendengar suara Anisa pun terlihat gelagapan bingung, sedangkan Sandra terlihat santai dan masih bisa mengulas senyum.


Valeria menatap Sandra dari ujung kaki hingga kepala, menilai jika wanita itu terlihat tua dengan penampilan yang sangat formal.

__ADS_1


“Saya hanya mengambil barang yang tertinggal di sini, tidak ada maksud lain,” jawab Sandra dengan suara lembut.


“Kamu masih bersama Farzan? Apa kamu tidak mengindahkan peringatanku?” tanya Anisa dengan suara lantang.


Sandra tak menjawab, tak mungkin berkata jika masih menjalin hubungan dengan Farzan.


“Dia siapa, Bi?” tanya Valeria setengah berbisik, apalagi tadi Anisa menyebut nama Farzan.


“Orang tidak penting, janda yang suka menggoda pria,” jawab Anisa dengan nada hinaan.


Bi Sum yang mendengar ucapan Anisa pun begitu terkejut, menatap punggung Sandra yang terlihat tak bergerak sama sekali.


“Maaf jika sudah mengganggu.” Sandra memilih keluar dari apartemen karena tak ingin berdebat dengan Anisa.


“Apa dia pacarnya Farzan?” tanya Valeria sambil memandang ke arah Sandra pergi.


“Bukan,” jawab Anisa dengan tegas. “Dia itu hanya janda yang suka menggoda, tentu saja biar ada yang menanggung hidupnya,” cibir Anisa meski Sandra sudah tak ada di sana.


Bi Sum mengusap dada, berpikir kenapa Anisa begitu menghina dan tidak menyukai Sandra.


“Bi, lain kali jangan biarkan sembarang orang masuk ke apartemen ini. Aku tidak suka jika ada sembarang wanita masuk ke rumah putraku!” Kini Bi Sum menjadi sasaran amukan Anisa.

__ADS_1


“Baik, Nya.”


**


Sandra sudah duduk di belakang kemudi, menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Dia memejamkan mata dan mengingat ucapan Anisa yang terus terngiang di telinga. Berpikir kenapa wanita itu sangat membenci dan terus menghina dirinya, sedangkan ibu dari pria yang dicintainya itu tak tahu apa-apa tentangnya.


Terbiasa menghadapi masalah dengan tenang, membuat Sandra bisa mengontrol diri dan tak berbuat sesuatu di luar kendali. Sebab itu Sandra memilih diam saat menghadapi Anisa yang sedang emosi.


Sandra pun akhirnya memilih mengemudikan mobil meninggalkan basement apartemen Farzan, tak ingin terus larut dalam pikiran tentang ucapan Anisa tentangnya.


Sandra mengemudikan mobil menuju perusahaan. Hingga ponselnya berdering dan nama sekretarisnya terpampang di layar.


“Halo, ada apa?” tanya Sandra.


“Bu, apa sudah berada di perjalanan balik ke perusahaan? Pihak produksi ada yang mencari Anda.” Suara sekretaris Sandra terdengar dari seberang panggilan.


“Aku sudah ada di jalan, sebentar lagi sampai,” balas Sandra.


Setelah sekretarisnya berkata jika akan meminta pihak produksi menunggu, Sandra pun mengakhiri panggilan itu.


Dia fokus ke jalanan, hingga saat akan berbelok ke kiri, sebuah mobil menyerobot dari kiri dengan kencang, membuat Sandra sangat terkejut dan membanting stir ke kanan. Sayangnya dari kanan ada mobil yang tengah melintas, membuat kecelakaan pun tak terhindarkan.

__ADS_1


Mobil bagian kanan menghantam mobil lain yang hendak melintas, karena benturan yang begitu kuat, membuat bahu Sandra menghantam kabin dengan keras.


“Aghh!” Sandra merasakan lengannya sakit setelah membentur kabin.


__ADS_2