
Farzan dan Sandra pergi ke rumah Grisel untuk mengecek apakah wanita itu membawa anak Joya ke sana. Keduanya kini sudah sampai di rumah yang dulu ditempati Farzan.
“Pak Farzan!”
Satpam rumah langsung membukakan gerbang ketika melihat mantan majikannya itu datang. Di sana sudah sepi dari wartawan yang pagi tadi memang mengerubut seperti semut.
“Apa Grisel di rumah?” tanya Farzan ke satpam.
“Nyonya pergi dari siang, Tuan. Dia pergi nggak pakai mobil, bahkan mengenakan pakaian biasa dan topi,” jawab satpam rumah itu.
Sandra dan Farzan saling tatap, kemudian kembali memandang ke satpam.
“Kamu tidak bohong jika dia belum pulang?” tanya Farzan memastikan.
“Sumpah, Tuan. Sejak siang tadi pergi, Nyonya belum kembali,” jawab satpam meyakinkan.
Farzan tidak bisa memaksa jika memang Grisel tidak ada di rumah, akhirnya dia dan Sandra pamit memilih mencari ke tempat lain.
“Menurutmu di mana dia?” tanya Sandra. Bagaimanapun dirinya ingin membantu Joya menemukan bayinya.
“Coba kita cari ke tempat managernya, siapa tahu dia meminta tolong ke Claudia,” jawab Farzan, mencoba tetap optimis bisa membantu menemukan Grisel.
Sandra mengangguk setuju, mereka pun pergi ke rumah Claudia.
“Apa yang kalian katakan?” Claudia sangat terkejut saat mendengar Farzan berkata jika Grisel menculik anak Joya.
Wanita itu langsung memegangi kening karena merasa begitu pusing memikirkan ulah Grisel.
__ADS_1
Sandra dan Farzan saling tatap, keduanya seolah sudah bisa menebak jika Claudia pasti tidak tahu.
“Aku sudah lelah menasihatinya, dia itu terlalu berambisi serta begitu egois. Padahal aku memintanya tetap di rumah sampai kasus skandalnya mereda, tapi tampaknya dia memang ingin menghancurkan hidupnya sendiri,” ucap Claudia.
“Jadi kamu benar-benar tidak tahu di mana dia?” tanya Farzan memastikan.
“Tidak,” jawab Claudia, “terakhir kali aku menghubunginya pagi ini," imbuhnya.
Sandra dan Farzan sudah tidak tahu lagi ke mana harus mencari Grisel, hingga mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
**
Sandra menginap di rumah Gilang untuk menemani Chila, sedangkan Liana dan Gilang memang masih di rumah sakit untuk menunggui Joya yang sedang terganggu psikisnya akibat kehilangan bayi yang baru saja dilahirkan.
“Ma, apa benar adik bayinya Kak Joya hilang?” tanya Chila saat Sandra menyisir rambut Chila sebelum tidur.
“Siapa yang bilang?” tanya Sandra balik meski awalnya sedikit terkejut.
Ternyata meski Chila hanya diam saja, gadis kecil itu mendengar dan memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya.
Sandra tidak bisa mengelak jika memang Chila tahu sendiri. Dia pun akhirnya hanya bisa mengangguk-angguk.
“Chila doakan agar adik bayi bisa segera ditemukan, ya. Biar nanti bisa main dengan Chila,” kata Sandra kemudian.
Chila mengangguk-angguk, benar-benar berdoa agar bayi Joya ditemukan.
**
__ADS_1
Gilang dan Liana pulang saat pagi hari, keduanya terlihat lesu dan kurang istirahat. Sandra sedang menyiapkan sarapan, langsung meninggalkan meja makan saat melihat Liana dan Gilang datang.
“Apa bayinya Joya sudah ditemukan?” tanya Sandra antusias.
Gilang menggelengkan kepala, kemudian memilih mendudukkan tubuh ke sofa karena merasa lelah. Liana juga sama, menggeleng sebelum kemudian duduk di samping suaminya.
Sandra melihat gurat kesedihan di mata Gilang dan Liana, tentu saja keduanya sedih karena bayi Joya adalah cucu pertama mereka. Sandra pun akhirnya tidak bertanya dulu, lantas memilih membuatkan keduanya minuman hangat.
“Bagaimana kondisi Joya sekarang?” tanya Sandra sambil menyuguhkan teh di meja.
“Masih seperti kemarin, bahkan sepanjang malam terus menangis. Saat sudah tidur, dia terus menjerit karena kehilangan bayinya,” jawab Liana sedikit frustasi akan kondisi menantunya.
Sandra benar-benar ikut bersedih dengan musibah yang menimpa keluarga Gilang. Dia tahu sebaik apa Gilang, juga seluruh keluarga itu, hanya tidak menyangka jika mereka akan diuji dengan cobaan seperti ini.
Mereka pun sama-sama diam, memikirkan cara lain untuk menemukan Grisel.
Gilang dan Liana beristirahat sebentar setelah sarapan, mereka berniat kembali ke rumah sakit karena tidak tega meninggalkan Joya dan Kenzo di sana, meski keluarga Joya sudah dalam perjalanan ke kota itu.
Gilang baru saja menghabiskan secangkir kopi, saat ponselnya tiba-tiba berdering dan nama anak buahnya terpampang di sana.
“Pak, kami menemukan wanita itu.”
Kabar anak buahnya tentu membuat Gilang begitu senang.
“Di mana sekarang kalian, aku akan segera ke sana,” ujar Gilang.
“Tapi, ada sesuatu yang mungkin Anda harus ketahui dulu.”
__ADS_1
Ucapan anak buahnya, membuat Gilang kembali menghentikan langkah.
“Apa itu?”